Bab Empat Puluh: Pertemuan Kembali
"Ya." jawab Jiang Haoxiang.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu?" Qiao Shanxi teringat masa kecilnya, ketika Jiang Haoxiang menyelamatkannya dari sumur dengan seutas tali panjang. Setelah kejadian itu, mereka menjadi teman masa kecil yang sangat akrab.
"Aku ingin memberimu kejutan, membuatmu jatuh cinta padaku."
Detak jantung Qiao Shanxi seolah melambat setengah detik. Ia menatap lelaki di depannya dengan mata terbelalak. Tadi, ia mendengar kata cinta.
"Tapi, bukankah kau telah menolakku?" Kali ini, suara Jiang Haoxiang benar-benar datar, tanpa sedikit pun emosi. Ia menarik kembali tatapannya dari Qiao Shanxi, lalu jemarinya yang ramping dan tegas dengan cepat merapikan foto-foto di atas meja. Setelah itu, ia berdiri dan melangkah lebar menuju lantai atas.
"Tunggu!" Qiao Shanxi mengejarnya. Melihat Jiang Haoxiang berhenti, ia berkata, "Adikku mengidap penyakit parah, ia sangat menyukaimu, jadi waktu itu..."
Tubuh Jiang Haoxiang menegang. Saat masih muda dulu, ia sempat menebak ribuan alasan, namun tak pernah bisa memahami mengapa Qiao Shanxi menolaknya dengan begitu jelas. Padahal, ia bisa merasakan cinta dari gadis itu.
Alasan ini membuatnya merasa lebih iba pada gadis di hadapannya.
Dengan langkah tenang, ia menuruni tangga satu per satu. Saat sampai di depan Qiao Shanxi, ia menunduk menatapnya.
Jantung Qiao Shanxi berdegup kencang, tubuhnya refleks condong ke belakang.
Wajah pria itu makin lama makin dekat, hingga akhirnya ia berdiri tegak dan berkata ringan, "Aku jauh lebih tampan daripada waktu kecil, jadi kau tak mengenaliku waktu itu, kan?"
Qiao Shanxi terdiam, tak tahu harus berkata apa. Meskipun memang begitu kenyataannya, tetap saja, cara lelaki itu mengatakannya terdengar terlalu percaya diri!
Tangannya terulur, satu per satu jemari Jiang Haoxiang menyelip di antara jari-jarinya, lalu menggenggam erat.
Qiao Shanxi merasakan seolah aliran listrik menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh.
Jiang Haoxiang tersenyum nakal, "Kalau begitu, sekarang, aku tanya sekali lagi. Maukah kau jadi pacarku?"
Orang-orang yang sedari tadi lalu-lalang di dalam rumah kini berhenti, menatap Qiao Shanxi dengan penuh perhatian.
Telapak tangan Qiao Shanxi terasa hangat, pun pipinya. Begitu banyak orang di sana, semuanya penghuni gedung yang sama. Di depan begitu banyak saksi, lelaki itu menanyakan pertanyaan itu padanya—apakah ini sungguh pantas?
"Ya."
Jawaban Qiao Shanxi disambut tepuk tangan meriah dan siulan menggoda.
Orang-orang dari berbagai negara, warna kulit, dan latar belakang yang berbeda, pada saat itu merasakan aroma cinta di gedung tempat mereka tinggal.
Jiang Haoxiang tertawa lebar, lalu menarik Qiao Shanxi menembus kerumunan penghuni, melangkah keluar pintu.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang. Bedanya, Qiao Shanxi tak lagi sendiri. Selalu ada seseorang yang siap menjaga dan menemaninya.
Qiao Shanxi pun mulai mengenal berbagai sisi kepribadian Jiang Haoxiang.
Setiap pagi, pria itu akan mengantarkan sarapan tepat saat ia membuka mata. Sore hari, mereka berjalan bersama, menghitung bintang di tepi sungai saat malam tiba, dan berkeliling kampus dengan sepeda.
Hanya saja, kini pemandangan kampus telah berganti menjadi gedung-gedung tinggi di negeri asing. Sepeda yang mereka kendarai pun hanya satu, Jiang Haoxiang mengayuh di depan, Qiao Shanxi duduk nyaman di belakang.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah, kebahagiaan terasa memenuhi udara.
Suatu senja, seorang gadis datang membawa koper ke hadapan ibu pemilik rumah.
Ibu pemilik rumah menjelaskan bahwa semua kamar sudah penuh, tak ada lagi yang tersisa, menyarankan sang gadis mencari tempat lain.
Namun, gadis itu menyebut nama Jiang Haoxiang, mengatakan ia adalah tunangan lelaki itu dan bisa tinggal bersama.
Ibu pemilik rumah meneliti gadis tinggi dan cantik itu dari atas ke bawah.
Tapi, semua penghuni gedung tahu bahwa Jiang Haoxiang dan Qiao Shanxi adalah pasangan kekasih.
"Nona, mungkin Anda salah paham..." Belum sempat ibu pemilik rumah menyelesaikan kalimatnya, Zhu Wanying sudah memotong. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kecil, menatap ibu pemilik rumah dengan penuh tekanan, "Kau hanya perlu memberitahuku, di kamar nomor berapa Jiang Haoxiang tinggal?"