Bab Lima Puluh Empat: Kakak Beradik Keluarga Geng
Dengan penuh kasih sayang, Geng Keke mengelus rambut adiknya dan berkata, “Tongtong sekarang juga bukan beban lagi. Ruang penyimpanan dan kemampuan teleportasimu sangat membantu saat kita melarikan diri.”
Mendapatkan belaian serta pujian bertubi-tubi dari kakaknya, Geng Tongtong tersenyum lebar, lalu menundukkan kepala dan melanjutkan makannya.
Setelah menyantap suapan terakhir nasi kasar, Geng Keke menuangkan potongan daging dari mangkuknya ke wadah makan kucing di sampingnya. Seekor kucing hitam besar, panjang tubuhnya lebih dari setengah meter, sedang makan dengan tenang. Saat melihat daging dituangkan oleh tuannya, ia sempat tertegun, lalu mengeong pelan, mendekat dan menggesekkan bulu hitamnya yang licin bak sutra ke kaki Geng Keke.
“Daging ini sebaiknya diberikan pada Geng Si Hitam. Dialah pahlawan terbesar kita. Selama kita melarikan diri, kalau bukan karena perlindungan Geng Si Hitam, tak ada seorang pun dari kita yang bisa selamat.”
Geng Tongtong mengangguk setuju. Geng Si Hitam sudah mereka pelihara sejak masih bayi, hubungan mereka sangat dekat. Ketika virus mayat hidup merebak, kedua saudara ini beruntung tidak terinfeksi. Saat melarikan diri, mereka pun tak lupa membawa Geng Si Hitam. Dalam pelarian selama sebulan berikutnya, mereka berdua masing-masing membangkitkan kekuatan evolusi, sedangkan Geng Si Hitam berevolusi lebih hebat lagi, berubah menjadi kucing mutasi tingkat dua. Berbeda dengan makhluk mutasi lain, Geng Si Hitam tetap mengingat masa lalunya, dan selalu setia menemani dua bersaudara ini.
Geng Keke memiliki kekuatan penyembuhan, sedangkan Geng Tongtong menguasai ruang. Keduanya tidak punya kemampuan menyerang, hanya fisik yang lebih kuat dari orang biasa. Selama pelarian, mereka berkali-kali mengalami situasi hidup-mati, semuanya terselamatkan berkat Geng Si Hitam yang turun tangan.
Tiba-tiba terdengar suara keras, pintu kayu didobrak dengan kasar, seorang lelaki tua dengan kepala nyaris botak masuk. Melihat dua bersaudara itu masih makan, ia pun langsung mengomel dengan wajah masam.
“Geng Keke, ini sudah jam berapa, kenapa belum ke klinik? Kau mau membiarkan kami orang tua kelaparan? Sekarang harga beras di markas sudah gila-gilaan, persediaan kita jelas tidak cukup untuk bertahan hidup di musim dingin.”
Tiba-tiba lelaki tua itu seperti melihat sesuatu yang tak terbayangkan, kedua matanya membelalak, urat-urat di dahinya menonjol.
“Bagus, bagus sekali kau, Geng Keke. Aku, seorang Bangsawan Agung, hampir tak bisa makan, kau malah memberikan daging makhluk mutasi pada seekor binatang! Masih pantaskah kau disebut warga Da Yin? Aku katakan padamu, sebentar lagi tentara kerajaan akan turun ke selatan, membasmi semua mayat hidup dan makhluk mutasi. Kalau sekarang kau tak mau hormat padaku, nanti saat tentara kerajaan datang, kau dan rakyat lancang sepertimu yang pertama kali dipenggal!”
Geng Si Hitam memang sangat cerdas, setelah bermutasi, kecerdasannya makin berkembang, hingga hampir bisa memahami kebanyakan ucapan manusia. Mendengar lelaki tua itu menyebutnya binatang, ia langsung tak senang, menggeram rendah, tubuhnya merendah, kaki belakang menegang, siap meloncat dan mencakar lelaki tua itu sampai babak belur.
Namun, sebuah tangan hangat mengelus kepala Geng Si Hitam, menenangkan dan mencegahnya bertindak. Geng Si Hitam mendongak, melihat itu tuan perempuannya, mendengus tak puas dua kali, lalu menatap lelaki tua itu penuh ancaman sebelum kembali melanjutkan makannya.
Melihat Geng Si Hitam hampir menerkam, lelaki tua itu pun ketakutan. Ia tahu benar betapa ganasnya kucing hitam itu, tiga atau empat mayat hidup saja tak mampu bertahan setengah menit menghadapi cakaran dan gigitannya. Ia pun sadar tulang tuanya tak akan bertahan jika benar-benar dicakar Geng Si Hitam.
Saat Geng Si Hitam sudah berhasil ditenangkan, lelaki tua itu kembali pongah. “Geng Keke, kau malah sengaja menyuruh peliharaanmu menyerangku, seorang Bangsawan Agung! Kau tak tahu, keluargaku sejak zaman dahulu adalah pendiri kerajaan, gelar bangsawan turun-temurun. Kalau kau melukaiku, dipenggal delapan kali pun belum cukup!”
“Cukup, Wang Yinzhi, buka matamu lebar-lebar. Ini sudah zaman kiamat, masih saja bawa-bawa gelar bangsawan, untuk siapa? Kalau bukan karena kebaikan hati Nona Keke yang sudi memberimu sesuap nasi, kita sudah mati kelaparan di jalan. Tapi kau, bukannya tahu berterima kasih, malah selalu menyusahkan dua bersaudara ini. Sebenarnya apa maumu?”
Dua lelaki tua lain masuk, langsung menyeret Wang Yinzhi keluar.
“Kak, orang seperti itu seharusnya diusir saja, biar dia mati sendiri,” gerutu Geng Tongtong yang sudah selesai makan. Ia sangat kesal melihat Wang Yinzhi berani-beraninya mengancam kakaknya.
“Sudahlah, dulu kami melarikan diri bersama dari panti rehabilitasi. Masa tega melihat dia mati kelaparan di depan mata? Kalau masih bisa dibantu, ya kita bantu saja. Lagi pula, dulu dia bukan seperti ini, cukup sopan dan ramah. Semua ini gara-gara kiamat, orang jadi setengah gila.”
“Aku rasa dia cuma pura-pura. Orang seperti dia mana bisa kena gangguan jiwa. Kak, apa benar persediaan beras kita tak cukup?”
Wajah Geng Keke mengernyit. “Memang ada sedikit kekurangan, tapi kakak akan cari cara. Kau anak-anak, jangan terlalu dipikirkan.”
Selama bertahun-tahun di masa kiamat, para penyintas perlahan memahami pola pergerakan mayat hidup dan makhluk mutasi. Salah satunya, musim dingin jauh lebih berbahaya dibanding musim lain. Bukan hanya karena cuaca dingin, tapi juga sebab lain. Pertama, sebagian makhluk mutasi dan mayat hidup tingkat tinggi bermigrasi dari utara ke selatan saat musim dingin, dan letak Jinshan memang di selatan. Akibatnya, jumlah makhluk mutasi dan mayat hidup di alam liar meningkat pesat, risiko bagi manusia pun naik berkali lipat. Kedua, di musim dingin makanan sangat sulit ditemukan, kebanyakan makhluk mutasi kelaparan, sehingga saat bertemu manusia, meskipun tahu kalah kuat, tetap akan mencoba menyerang.
Karena itulah para penyintas di markas membuat aturan tak tertulis: di musim dingin, tak seorang pun boleh keluar berburu atau mencari bahan makanan, demi menghindari bahaya dan tidak menimbulkan masalah bagi markas. Menyimpan cukup bahan makanan sejak musim gugur pun jadi kebiasaan wajib.
Tahun ini berbeda lagi. Kini sudah tahun kelima masa kiamat, banyak stok makanan sebelum kiamat yang sudah rusak karena penyimpanan kurang baik. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tim pencari bahan makanan makin banyak, tapi hasilnya malah tak sampai setengah dari tahun-tahun lalu. Sejak musim gugur, harga makanan di markas sudah naik dua kali lipat, dan makin mendekati musim dingin, harga terus melonjak.
Inilah alasan kenapa Tim Macan Perang nekat mengambil risiko besar untuk mencari bahan makanan sampai ke tengah kota. Setelah mereka kembali membawa makanan, markas sempat heboh. Beberapa tim lain yang iri, mengorganisir orang untuk kembali ke gudang penyimpanan itu, namun semuanya tewas, tak seorang pun kembali.
Belakangan, militer markas mengirimkan drone untuk menyelidiki, hanya menemukan beberapa kendaraan yang hangus terbakar, tanpa satupun jasad terlihat. Berdasarkan jejak pertempuran di lokasi, pihak militer menduga mereka diserang makhluk mutasi tingkat tinggi berelemen api, lalu semuanya tewas terbakar dalam sekali napas. Baru saat itulah semua sadar, makanan di kota bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan. Selain butuh kekuatan, juga perlu keberuntungan besar, kalau tidak, hanya kematian yang menanti.