Menyeret Ancelotti untuk Ikut Mati Bersamaku
"Sialan, Huang Kewen cedera lagi."
"Harusnya dibilang dia pura-pura cedera lagi. Dia pasti bohong, kan? Kenapa setiap kali mau bikin *hat-trick* dua *assist* baru dia cedera?"
"Siapa yang tahu? Pokoknya pas lihat dia cedera, aku malah lega. Kalau dia enggak cedera, aku malah merasa aneh."
"AC Milan menghabiskan enam juta euro untuk menggaji seorang kakek. Sialan, Huang Kewen ini paling banter cuma main dua pertandingan dalam sebulan."
"Kalian tahu apa! Media Italia bilang Barbara dan Galliani sekarang sedang bersaing sengit. Kalau nanti dia yang berkuasa, jangankan enam juta euro, enam belas juta euro setahun pun pasti rela dikelurkan."
"Entah si keparat Huang Kewen ini pakai sihir apa ke Barbara."
Melihat diskusi di Tieba, Huang Kewen dengan santai membalas: Kalian sama sekali tidak bisa melihat keunggulan Huang Kewen.
Tak lama kemudian, komentarnya kembali tenggelam oleh cacian para warganet senior Tieba.
Namun, Huang Kewen sama sekali tidak peduli.
Berita tentang perselisihan internal antara Barbara dan Galliani justru sengaja ia suruh sebarkan oleh Barbara.
Orang berakal sehat mana pun tidak akan mempercayainya.
Galliani adalah anak emas Presiden Berlusconi.
Nona Muda sedang berusaha mengambil hati Presiden Berlusconi demi memegang kendali kekuasaan. Sekalipun ia tidak menyukai Galliani, ia tidak akan terang-terangan menyinggung si kepala plontos itu.
Alasan melakukan hal ini semata-mata untuk menyambut skandal *Calciopoli* di akhir musim nanti.
Bagaimanapun, urusan aliran dana Milan selama ini selalu diwakili oleh Galliani.
Ketika saatnya tiba, biarkan saja Galliani menanggung semua kesalahan itu seorang diri. Barbara yang digambarkan "tidak akur" dengan Galliani tentu saja akan tampak tidak bersalah.
Nona Muda pun bisa memanfaatkan momentum itu untuk naik tahta secara mulus.
Bagi si Botak Galliani, meninggalkan Milan memang mudah.
Namun, ingin kembali ke Milan kelak akan menjadi hal yang sangat sulit.
Pada akhirnya, bukankah semua keputusan ada di tangan Huang yang agung ini?
"Kepalamu kan cedera, istirahatlah yang cukup," sapa Nona Muda lembut sambil merapikan peralatan makan ketika melihat Huang Kewen sedang berselancar di internet.
"Hmm, baiklah."
Padahal jika dipakai bertanding sungguhan, ia sama sekali tidak akan cedera.
Demi bisa beristirahat untuk beberapa waktu, usai menjalani pemeriksaan, Huang Kewen terpaksa berbohong bahwa dirinya merasa pusing dan mual.
Bahkan ia sempat mendemonstrasikan aksi "air mancur" secara langsung dengan memuntahkannya ke badan Nenni, sebelum akhirnya sukses didiagnosis menderita gegar otak.
Meskipun ia berhasil membalas sedikit dendam kepada Nenni—si keparat yang selalu menjadikannya sebagai kelinci percobaan—Huang Kewen tetap merasa sedikit lelah secara mental.
Berdiri di dekat jendela sambil memandang dunia yang tertutup salju putih, Huang Kewen sangat merindukan sahabat baiknya yang telah pergi jauh ke London, Dokter Melserman.
Entah bagaimana kabar Dokter Melserman di London sana.
Dokter Melserman adalah pelopor sekaligus pendiri Laboratorium Milan. Gianni Nenni hanyalah orang yang mencuri hasil jerih payah Dokter Melserman.
Sayang sekali saat itu dirinya yang bernama Huang ini tidak memiliki pengaruh apa-apa, kalau tidak, Huang Kewen pasti akan berjuang mati-matian untuk melindungi Dokter Melserman, kepala tim medis yang luar biasa itu.
Jika Dokter Melserman masih berada di Milan, Huang sama sekali tidak perlu berakting sepanjang hari seperti agen rahasia yang menyusup di wilayah musuh.
Huang Kewen menghela napas.
Masa lalu sungguh terlalu menyedihkan untuk dikenang kembali di bawah cahaya rembulan.
Beberapa detik kemudian, saat melihat mobil Kaka melintas dari balik jendela, Huang Kewen langsung melupakan Melserman begitu saja.
Huang Kewen menoleh dan bertanya, "Semuanya sudah siap?"
"Sudah," angguk Nona Muda.
Kaka datang bersama kekasihnya, Beatrice, sambil membawa sebotol anggur.
Tak lama kemudian, keluarga Maldini pun tiba.
"Paman Kevin!" teriak Christian gembira sambil berlari ke arah Huang Kewen.
Huang Kewen menyambutnya dengan kedua tangan, mengangkat bocah itu berputar satu lingkaran penuh sebelum menurunkannya kembali.
Sambil mengelus kepala sang tuan muda, ia memuji, "Kamu benar-benar hebat bisa mencetak dua gol."
"Hebat apa gunanya? Pelatih bilang dia sering tidak serius saat latihan," keluh Paolo Maldini sambil menghela napas saat berjalan masuk ke dalam rumah.
"Namanya juga anak-anak, nanti juga kalau sudah besar pasti mengerti," bela Huang Kewen sambil tersenyum canggung untuk sang tuan muda.
"Aku juga sudah menasihati Paolo, hidup ini bukan cuma soal sepak bola saja," kata Adriana sambil tersenyum merangkul anak sulungnya.
"Bantu aku menasihatinya ya."
"Baik, Kapten!"
Setelah memberi hormat dengan gaya militer, Huang Kewen menarik sang tuan muda menuju halaman belakang.
Salju di halaman telah dibersihkan oleh Albert atas suruhan seseorang.
Keduanya duduk santai di atas tangga.
Huang Kewen mengulurkan sebatang permen loli kepada sang tuan muda dan bertanya, "Akhir-akhir ini bikin masalah apa lagi?"
"Hmm," jawab Christian dengan cemberut sambil mengangguk lesu.
"Coba ceritakan, ada apa sebenarnya?" tanya Huang Kewen penasaran.
Tuan muda ini tampaknya sudah mulai berjalan di jalur yang benar.
Hanya saja, karena usianya yang masih muda dan pengalamannya yang dangkal, ia sering kali membuat kesalahan.
Huang Kewen bersiap mendengarkan cerita sang tuan muda dan kemudian memberikan beberapa petunjuk kepadanya.
"Guru memberi tugas..." Christian tidak enak melanjutkan kata-katanya.
"Lalu minta orang lain yang mengerjakan tapi ketahuan lagi?"
"Iya!"
"Coba jelaskan detailnya seperti apa," kata Huang Kewen sambil menghela napas.
Ia sepertinya telah melebih-lebihkan kemampuan sang tuan muda. Orang pintar tidak mungkin jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.
Sudah pernah tertangkap basah sekali, kok ya belum ada kemajuan juga?
"Guru ingin kami menulis karangan tentang impian. Tetangga rumahku adalah seorang penulis, jadi aku meminta tolong kepadanya."
"Begitu ya." Huang Kewen tiba-tiba merasa ada yang janggal, lalu balik bertanya, "Bagaimana cara kamu membujuknya?"
"Siapa?" tanya balik sang tuan muda.
"Bagaimana cara kamu membujuk penulis itu untuk membantumu?"
Christian menggaruk kepalanya karena malu, lalu berkata, "Waktu aku sakit di rumah dan merasa bosan, aku diam-diam memotret saat dia sedang bertengkar dengan pelayan wanita. Aku menyerahkan foto itu kepadanya, dan dia langsung setuju membantuku mengerjakan PR."
Huang Kewen: ……
Hanya dalam beberapa kalimat singkat, informasi yang terkandung di dalamnya begitu luar biasa.
Tuan muda ini memang masih muda, sangat wajar jika ia belum begitu paham tentang hal semacam itu.
Tapi soal "sakit" ini...
Bagaimana pun terlihat tidak asli.
Lagi pula, anak normal yang pura-pura sakit di rumah pasti akan diam-diam bermain gim.
Kenapa malah membawa kamera ke mana-mana dan memotret sembarangan?
Apakah keahlian fotografi Guru Huang ini juga akan segera memiliki penerus?
Satu hal lagi, kata "menyerahkan" kepada tetangga itu, bagaimana pun didengar seperti sebuah ancaman.
Meskipun tidak paham apa yang sedang terjadi, Christian seharusnya menyadari bahwa itu bukan hal yang baik, makanya ia menggunakannya untuk mengancam orang lain.
Bocah ini benar-benar bernali besar.
Tidak takut dipukuli orang itu lalu fotonya dirampas.
Lagi pula, kamera pengawas di Italia sangat sedikit, kalau terjadi apa-apa, alasan seperti apa yang diucapkan tentu terserah tetangganya itu.
Huang Kewen menasihati, "Christian, sebaiknya kamu kerjakan PR-mu sendiri saja. Orang dewasa tidak akan benar-benar membantumu dengan tulus."
"Kenapa?" tanya sang tuan muda sambil mendongak.
"Coba pikirkan, sudah dua kali. Kamu dua kali meminta tolong orang dewasa mengerjakan PR, dan dua kali pula ketahuan guru. Apa mereka tidak tahu seberapa standar materi sekolah dasar? Terlebih lagi, orang yang membantumu pertama kali adalah orang tua dari teman sekelasmu sendiri."
"Jadi maksud Paman Kevin..."
"Mereka semua sengaja membiarkan gurumu tahu," helas Huang Kewen sambil menghela napas.
"Ooh, begitu rupanya!" Christian mendadak paham.
Pantas saja dari tadi ia merasa ada yang tidak beres.
Christian mendongak menatap Huang Kewen dan bertanya, "Paman Kevin, Paman pasti tidak akan sengaja membiarkan guru tahu, kan? Bisakah Paman membantuku mengerjakan PR?"
……
Membawa sang tuan muda kembali ke dalam rumah, Huang Kewen sempat berpikir apakah sebaiknya ia menyerahkan rekaman suara di ponselnya kepada Paolo Maldini.
Tuan muda ini sungguh berani mempermainkannya.
Sudah saatnya memberi bocah ini sedikit pelajaran agar ia mengingatnya.
Padahal sudah diberitahu untuk tidak meminta bantuan orang dewasa.
Tidak mau mengganggu teman sekelasnya, malah mengarahkan niat buruknya kepada Huang yang agung ini.
Memang pantas diberi pelajaran.
Huang Kewen memutuskan untuk kembali membiarkan sang tuan muda merasakan kejamnya sifat manusia.
Para rekan setimnya datang satu persatu.
Ruang tamu kini sudah dipenuhi oleh banyak orang.
Huang Kewen memutuskan untuk menunggu sampai jamuan makan selesai sebelum menyerahkan rekaman itu kepada Maldini.
Jujur saja, sebagai komite organisasi AC Milan, hampir setengah musim berlalu, baru kali ini Huang Kewen berinisiatif mengadakan pertemuan internal tim.
Karena terpengaruh wabah flu, suasana hari ini tidak terlalu meriah.
Banyak dari mereka yang belum sepenuhnya pulih, justru si keparat Inzaghi yang paling melompat-lompat kesana-kemari dengan penuh energi.
"Kenapa baru datang, John?" sapa Huang Kewen sambil menghampiri dan menarik Johann Vogel.
Vogel tampak sedikit tersanjung dan buru-buru menjawab, "Aku, aku tadi sempat tidak menemukan tempatnya."
"Baguslah kalau begitu, kami tinggal menunggu kedatanganmu."
Huang Kewen membantu Vogel mengatur tempat duduknya, lalu menyuruh pelayan tua untuk mulai menyajikan makanan.
Setelah makan dan minum dengan puas, para wanita berkumpul untuk membicarakan tren pakaian terbaru.
Sementara para pemain mengobrol dalam kelompok kecil.
Inzaghi dengan raut wajah misterius melambaikan tangan memanggil Huang Kewen.
"Maaf, aku ke toilet sebentar," kata Huang Kewen sambil tersenyum bangkit dari duduknya.
"Ada apa? Kenapa ada hal yang tidak bisa dibicarakan di sana saja?" tanya Huang Kewen setibanya di dekat Inzaghi.
Orang bernama Inzaghi ini bukanlah tipe orang yang punya rasa malu, seharusnya tidak ada momen di mana ia merasa sungkan.
"Tidak, tidak enak kalau di sana," jawab Inzaghi sambil menarik Huang Kewen menjauh dari ruang tamu. Ia sempat menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang sebelum berbisik, "Kamu tahu kan akhir-akhir ini aku sedang flu."
"Aku bukan cuma tahu kamu flu, aku bahkan tahu kenapa kamu bisa flu," jawab Huang Kewen dengan nada gemas.
"Sejak terkena flu itu, aku terus-menerus bermimpi buruk sampai sekarang."
"Mungkin sebaiknya kamu berbuat lebih banyak kebajikan," saran Huang Kewen.
"Bukan begitu!" Inzaghi tampak panik dan langsung berkata, "Aku memimpikan mimpi yang sama setiap hari!"
Mendengar ucapannya, Huang Kewen bertanya dengan rasa penasaran, "Memangnya apa yang kamu mimpikan?"
"Ehm..."
"Katakan saja, aku akan jaga rahasiamu."
"Aku bermimpi sekelompok pria telanjang mengejarku. Di dalam mimpi aku berlari sekencang-kencangnya, berlari sekuat tenaga, tapi tetap saja tidak bisa melepaskan diri. Setiap kali mereka berhasil mengejarku, aku pasti terbangun karena ketakutan!"
Mimpi seperti itu memang sangat mengerikan.
Jika diposisikan pada dirinya sendiri, Huang Kewen bisa memahami beban pikiran Inzaghi; siapa pun pasti akan merasa ketakutan mengalaminya.
"Dari semua orang yang aku kenal, cuma kamu yang paling berpendidikan, punya banyak ide cemerlang, dan bahkan pernah meraih penghargaan sastra," kata Inzaghi sambil menatap Huang Kewen dengan cemas. "Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?"
Huang Kewen membatin dalam hati, mana *sialan* aku tahu.
"Berdasarkan penelitian, mimpi adalah kelanjutan dari kenyataan. Kenapa kamu tidak coba menonton film jenis itu? Kalau sering menonton, nanti kamu pasti bermimpi tentang wanita," jawab Huang Kewen asal-asalan.
"Memangnya aku tidak pernah? Di rumahku ada setumpuk kaset, tapi sama sekali tidak mempan!"
"Kalau begitu, coba pertahankan jiwa kekanak-kanakanmu. Pikiranmu terlalu rumit makanya jadi sering bermimpi seperti itu."
"Mempertahankan jiwa kekanak-kanakan?"
"Benar, misalnya setelah pulang nanti, mainkan saja beberapa permainan masa kecilmu untuk menemukan kembali kebahagiaan masa kecil, jangan selalu memikirkan wanita, dengan begitu kamu tidak akan bermimpi film dewasa lagi," tutur Huang Kewen dengan pasang muka serius.
"Kalau begitu, apa aku perlu mengganti pakaian tidurnya dengan ukuran anak-anak juga?"
Sialan, Inzaghi bahkan bisa menarik kesimpulan sejauh itu.
Huang Kewen menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Terserah kamu saja."
"Baiklah, nanti pulang aku akan langsung mencobanya."
Sore harinya, saat tamu-tamu mulai pamit pulang, Huang Kewen secara diam-diam telah menyalin rekaman suara tersebut ke dalam kartu memori dan menyerahkannya kepada Paolo Maldini.
Maldini tinggal memasukkan kartu itu ke ponselnya sendiri untuk mendengarkannya.
Terkait masalah ini, Huang Kewen sama sekali tidak memiliki beban psikologis.
Siapa suruh sang tuan muda berniat mempermainkannya lebih dulu.
Keesokan harinya, Huang Kewen akhirnya bisa tidur sampai puas secara alami sesuai keinginannya.
"Tuan, ini koran hari ini."
Saat Huang Kewen sedang sarapan, sang pelayan sudah menyiapkan halaman koran yang menarik minatnya dan menyerahkannya.
Pruuk...
Begitu melihat halaman utama *La Gazzetta dello Sport*, Huang Kewen menyemburkan seluruh jus jeruk di mulutnya.
Inzaghi si keparat itu akhirnya berhasil masuk halaman utama—*Filippo Inzaghi Dicurigai Memiliki Anak Luar Nikah*.
Huang Kewen sama sekali tidak menyangka akan melihat Inzaghi di halaman utama dengan cara seperti ini.
Namun, ia sama sekali tidak merasa terkejut.
Para pemain bintang, terutama di Italia dan Spanyol, adalah hal yang lumrah jika belum menikah namun sudah memiliki anak.
Bahkan meskipun mereka tinggal bersama selama bertahun-tahun dan anak mereka sudah berusia beberapa tahun, status hubungan mereka mungkin masih sebatas pacar.
Ditambah lagi dengan sifat Inzaghi yang memang gemar bermain perempuan, probabilitas tidak sengaja membuat orang hamil tergolong cukup tinggi.
Huang Kewen juga merasa penasaran, siapa ibu dari anak tersebut.
"Kemarin jam 6 sore, wartawan memergoki Inzaghi membeli mainan anak-anak berukuran besar, pakaian tidur, dan buku cerita. Setelah ia pergi, kami sengaja menyelidikinya, barang-barang tersebut jelas tidak cocok untuk anak berusia 4 tahun, melainkan ditujukan untuk anak-anak yang lebih besar. Oleh karena itu, tidak mungkin Filippo Inzaghi membelikannya untuk keponakannya, Tommaso Inzaghi. Lalu untuk apa Filippo Inzaghi membeli barang-barang yang cocok untuk anak usia sekitar 8 tahun? Berdasarkan analisis kami, kemungkinan terbesar adalah Filippo Inzaghi memiliki seorang anak haram berusia sekitar 8 tahun! Selanjutnya kami akan melakukan investigasi mendalam untuk menemukan sosok "Inzaghi kecil" yang selama ini misterius itu. Jika Anda ingin tahu siapa wanita yang melahirkan anak bagi Filippo Inzaghi, silakan terus ikuti perkembangan berita dari surat kabar kami."
Membaca paragraf demi paragraf selanjutnya, ekspresi Huang Kewen perlahan-lahan berubah menjadi aneh.
Rasanya seolah-olah dialah yang telah menjerumuskan Inzaghi?
Sore harinya, Huang Kewen naik ke lantai atas untuk memeriksa ponselnya, dan mendapati Inzaghi telah meneleponnya lebih dari 30 kali.
Tadi malam ia sengaja memasang mode senyap saat tidur jadi tidak mendengarnya.
Sial, makhluk itu benar-benar mencarinya.
Huang Kewen menekan tombol matikan daya.
Omong-omong, masalah ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada dirinya, toh Inzaghi sendiri yang ceroboh, bukan?
Beberapa waktu kemudian.
Huang Kewen memutuskan untuk mengganti nomor teleponnya.
Karena ponselnya tidak memiliki fitur blokir yang mumpuni, ia memilih untuk memblokir Inzaghi secara fisik.
Masalah itu pun terselesaikan secara tuntas.
Setelah beberapa hari hanya bermain gim di rumah, ia tidak menyangka AC Milan akan bermain begitu mengecewakan.
Mereka kalah dalam dua pertandingan beruntun.
Kalah 1:2 dari Chievo, dan kalah 2:3 dari Fiorentina.
Dua pertandingan liga di awal bulan Desember ini sama sekali gagal mendatangkan satu poin pun.
Di luar pusat latihan Milanello, para suporter sudah mulai berkumpul untuk melakukan aksi protes.
Hingga pada tanggal 18 Desember, dalam pertandingan kandang melawan Messina, para suporter bahkan membentangkan spanduk di tribun penonton yang bertuliskan: "Kevin, kami membutuhkanmu."
Huang Kewen yang menonton siaran televisi di rumah tidak bisa menahan diri untuk mengeluhkan rekan setimnya yang tidak bisa diandalkan.
Jika saja mereka bermain sedikit lebih becus.
Para suporter tentu tidak akan begitu mendesaknya kembali ke lapangan hijau.
Ia baru saja beristirahat selama sepuluh hari lebih, dan mereka sudah ingin memaksanya kembali bekerja.
Apakah mencari uang bagi Huang yang agung ini semudah itu?
Kembali bergabung dengan tim adalah hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan sekarang.
Huang Kewen sudah bertekad bulat untuk terus bersantai melewati liburan musim dingin setelah perayaan Natal barulah ia akan kembali ke skuad.
Begitu lama bermain sepak bola dan bahkan baru saja meriahkan Ballon d'Or, ia berhak menikmati waktu istirahat yang layak.
Untungnya pertandingan kali ini berhasil dimenangkan.
Bahkan diraih dengan cara yang gemilang.
Shevchenko kembali mencetak *hat-trick*, Toni menyumbang satu gol, dan Milan menang 4:0 atas Messina di kandang sendiri.
Tiga hari kemudian.
Milan kembali meraih kemenangan di laga tandang.
Toni mencetak *brace* (dua gol), sementara Sheva menyumbang satu gol.
Liburan akhirnya tiba.
Namun, Huang Kewen menemukan sebuah keanehan.
Selama ini ia selalu mengira bahwa Kaka lah yang menutupi ketajaman Sheva.
Namun, dalam dua pertandingan terakhir di mana Kaka juga bermain, hanya karena dirinya yang absen, Shevchenko justru langsung mengamuk dan tampil luar biasa.
Apakah dalang utama di balik merosotnya performa sang peraih Ballon d'Or selama ini justru adalah dirinya sendiri?
Huang Kewen baru saja menemukan sebuah rahasia besar yang mencengangkan.
Ketika Nona Muda pulang malam harinya, Huang Kewen bertanya, "Apakah akhir-akhir ini kamu ada memberikan biaya kehumasan kepada pihak surat kabar?"
"Ada, memangnya kenapa?" tanya Nona Muda penasaran.
"Tidak apa-apa, aku cuma ingin mengirim artikel untuk diterbitkan di halaman utama."
"Baiklah," jawab Nona Muda menyetujui.
Huang Kewen mengangguk puas.
Dengan begini, seharusnya tidak ada lagi orang yang beranggapan bahwa dirinyalah yang telah menekan daya gedor Shevchenko.
Hari Natal tiba.
Kaka pulang kampung ke Brasil.
Sekembalinya ia ke Italia, hal pertama yang dilakukannya adalah mendatangi rumah Huang Kewen untuk membawakan hadiah.
Kaka memberi Huang Kewen satu set komik *Captain Tsubasa*.
Huang Kewen merasa hadiah itu bahkan tidak ada gunanya dibandingkan memberinya satu majalah *Playboy*.
Bagaimana ya mengatakannya.
Komik *Captain Tsubasa* memang ia sukai sewaktu masih kecil.
Tapi setelah dewasa, ia merasa alur ceritanya sangat konyol, sang pengarang bahkan sama sekali tidak memahami aturan dasar sepak bola.
Sebaliknya, hadiah yang ia berikan kepada Kaka adalah satu keping CD kompilasi gim yang dibelinya dari toko kenalan di kawasan Pecinan.
Semuanya berisi gim dewasa klasik bertema Jepang.
Ia berharap itu bisa membuat Kaka segera "dewasa" sepenuhnya.
Mengenai apakah Kaka akan memainkan gim itu, Huang Kewen sama sekali tidak meragukannya.
Justru anak-anak baik seperti itulah yang biasanya diam-diam suka memainkan gim semacam itu.
Permainan itu benar-benar membuat ketagihan!
"Kevin, apa kamu sudah baca koran hari ini?" tanya Kaka sambil duduk di depan komputer.
"Belum, akhir-akhir ini aku cukup sibuk. Ada berita apa memangnya?"
"Koran bilang, ada seorang peneliti yang melakukan kajian dan menyimpulkan bahwa Sheva memiliki tipe fisik yang sensitif terhadap suhu. Karena suhu udara akhir-akhir ini sedang dingin, makanya ia bisa mencetak begitu banyak gol."
"Uhuk, uhuk."
"Kevin, kamu tidak apa-apa?" tanya Kaka penuh perhatian.
"Aku tidak apa-apa," jawab Huang Kewen sambil melambaikan tangan. "Karena itu adalah hasil penelitian seorang sarjana, pastinya masuk akal. Kalau tidak, tidak ada penjelasan logis kenapa Shevchenko bisa mencetak begitu banyak gol belakangan ini. Coba pikirkan, kampung halaman Shevchenko di Ukraina sana kan memang sangat dingin, siapa tahu itu memang alasan utamanya."
"Oh, begitu ya."
Kaka tidak berpikir panjang lagi dan langsung masuk ke akun *Legend of Mir 2* (Chuanqi) miliknya.
Bersama Huang Kewen, mereka kembali melanjutkan aktivitas membantai pemain lain ke sana ke mari.
Meskipun *World of Warcraft* lebih sesuai dengan estetika orang Barat, gim tersebut tidak menjatuhkan item atau perlengkapan saat pemain lain mati dibunuh, sehingga Kaka merasa kurang seru dimainkan, alhasil keduanya kembali lagi ke permainan *Chuanqi*.
Mereka berdua membantai pemain di Lembah Fengmo sepanjang sore, hingga pedang virtual mereka bahkan terkena kutukan beberapa kali.
Begitu kembali masuk ke dalam kota, Kaka berteriak kaget, "Kevin, orang itu punya Cincin Kelumpuhan (*Paralysis Ring*)!"
"Kamu ingin memilikinya?" tanya Huang Kewen.
Kaka mengangguk berulang kali dengan antusias.
Itu kan Cincin Kelumpuhan yang legendaris!
Huang Kewen mengobrol dengan pemilik akun tersebut selama setengah jam, namun orang itu tetap tidak mau menjualnya.
Dugaan kuatnya, pemilik akun tersebut adalah orang kaya yang tidak kekurangan uang.
"Dia tidak mau menjualnya."
"Yah, sayang sekali," kata Kaka dengan nada kecewa.
"Jangan kecewa, kalau ada waktu aku akan bantu tanyakan ke pihak perusahaan pengembang gim," bujuk Huang Kewen.
Kaka tiba-tiba tersentak kaget, melompat mundur satu langkah, lalu menatap Huang Kewen dengan penuh kecurigaan, "Aku tidak mau membintangi iklan lagi."
"Kalau begitu, kamu tidak mau Cincin Kelumpuhan itu?"
"Kalau soal itu... iklannya harus dibuat dengan kualitas yang sedikit lebih bagus."
……
Huang Kewen untuk sementara waktu belum menemukan kesempatan untuk membahas masalah ini dengan staf Shanda Games.
Mana mungkin ia menjual Kaka hanya demi sebuah item di dalam gim. Bintang sepak bola sebesar itu, bahkan jika ingin dijual pun harus dihargai dengan harga tinggi.
Waktu bergulir memasuki bulan Januari.
Bulan ini kembali menjadi waktu penyegaran toko langganan yang paling disukai Huang Kewen.
Templat: 10000 poin takdir, 4000 poin, 2000 poin.
Keterampilan: 1000 poin, 100 poin.
Barang: 20 poin.
Barang Khusus: 1000 poin.
Sambil menghela napas.
Huang Kewen tetap memilih menghabiskan 120 poin untuk menebus dan .
Harganya memang cukup murah.
Namun, Huang Kewen khawatir jika ia membelinya, tingkat kerentanan cedera mereka juga akan ikut diwarisi.
Orang itu benar-benar dewa sejati di dunia nyata.
Seberapa rapuhnya dia?
Bahkan para suporter Arsenal pun akan merasa terkejut setiap kali mendengar namanya: *Astaga, dia bahkan belum pindah klub.*
Keterampilan: Keahlian Melukis—mencakup sketsa presisi, lukisan cat minyak, lukisan tradisional Tiongkok, dan sebagian besar teknik melukis lainnya.
Seiring semakin banyaknya keterampilan bernilai 100 yang ia miliki, Huang Kewen merasa dirinya semakin mirip dengan protagonis pria dalam novel laga urban perkotaan.
Tentu saja, berbagai keterampilan mahir ini hanya berarti Anda cukup mumpuni dan menguasai berbagai teknik melukis tersebut dengan baik.
Jaraknya masih terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan master seperti Pablo Picasso atau Qi Baishi.
Namun, untuk sekadar pamer dan bergaya dalam taraf wajar, kemampuan itu sudah lebih dari cukup digunakan.
Itulah sebabnya kemampuan yang ia salin dari Ronaldinho bisa begitu luar biasa kuat.
Tingkat kemahiran dasar dan tingkat master berada pada level yang sama sekali berbeda.
Mengenai barang khusus.
Harga 1000 poin itu benar-benar terlalu mahal.
Tanpa bisa melihat atribut aslinya, mustahil Huang Kewen mau mengambil risiko mencobanya.
Prioritas utamanya saat ini adalah mendapatkan templat pemain yang bagus, hal-hal lain bersifat sekunder.
8 Januari.
Pertandingan pertama setelah libur paruh musim.
Shevchenko, Toni, dan Kaka masing-masing menyumbangkan gol, Milan nyaris bermain imbang melawan lawan mereka, sementara Parma juga sukses mencetak 3 gol, membuat jalannya pertandingan berada dalam situasi buntu yang alot.
Di fase-fase akhir pertandingan, kapten Parma Giuseppe Cardone justru mencetak gol bunuh diri.
Membantu AC Milan mengamankan kemenangan di kandang sendiri.
Huang Kewen menontonnya dengan mata terbelalak keheranan.
Pertandingan yang ditentukan di detik-detik akhir memang pernah ia saksikan.
Namun, kemenangan yang ditentukan lewat gol bunuh diri di menit akhir adalah pemandangan yang cukup langka.
Huang Kewen sempat meragukan apakah Cardone telah tersangkut skandal pengaturan skor.
Skandal pengaturan skor di Serie A, bahkan setelah skandal *Calciopoli* pun masih kadang kala terjadi.
Jadi, kecurigaan Huang Kewen beralasan.
……
*La Gazzetta dello Sport*—*Milan Tanpa Kevin Kehilangan Sihir*: "Selama periode absennya Kevin, Milan telah melakoni lima pertandingan liga, dan total hanya mengumpulkan 9 poin. Bagi seorang pemuncak klasemen, perolehan itu sendiri merupakan catatan yang sangat buruk. Ditambah lagi dengan hasil nyaris imbang melawan Parma, bisa dibilang Milan cukup beruntung karena berhasil mencuri tambahan 2 poin. Tanpa bantuan Cardone, AC Milan hanya akan mampu mendulang 7 poin dari lima pertandingan tersebut."
Nona Muda membacakan isi koran tersebut dengan penuh penghayatan dan ekspresi mendalam.
Ia menoleh menatap Huang Kewen dan bertanya, "Sayang, kapan kamu berencana kembali berlatih?"
"Mungkin dalam beberapa hari ke depan," jawab Huang Kewen.
Ia sudah cukup lama tidak mengalami cedera.
Sebelumnya, demi berpura-pura cedera, ia bahkan rela melewatkan satu pertandingan penuh.
Namun, karena keberuntungannya terlalu bagus, ia malah gagal cedera sungguhan.
Sekarang ia juga tidak berani terburu-buru kembali ke klub.
Takutnya nanti malah cedera sebelum sempat bertanding.
Huang Kewen memutuskan untuk menguji peruntungannya; menunggu hari di mana ia merasa beruntung, baru kembali ikut berlatih bersama tim demi meredam tingkat potensi cedera yang sedang melonjak tinggi.
11 Januari.
Setelah berhasil "mengeruk hadiah utama" dari sistem, Huang Kewen akhirnya memutuskan untuk kembali ke klub.
"Hei, siapa ini!"
Melihat kedatangan Huang Kewen, Inzaghi langsung menerobos masuk ke ruang ganti, mengunci leher Huang Kewen dengan lengannya, lalu bertanya dengan nada "sangar", "Kenapa tidak mengangkat teleponku?"
"Mana ada, aku baru saja mengganti nomor ponselku, dan lupa memberi tahu kalian," jawab Huang Kewen sambil tersenyum santai dan memasang tampang tanpa dosa.
"Benarkah?"
Inzaghi menatap Huang Kewen dengan penuh kecurigaan, meskipun di dalam hatinya ia sudah mempercayai delapan puluh persen dari ucapan itu.
"Tentu saja, kita kan sahabat baik!"
"Baiklah kalau begitu, kali ini aku memaafkanmu."
Inzaghi duduk di sisinya sambil mengeluh, "Kamu tahu tidak, akhir-akhir ini hidupku sangat menderita. Para wartawan sialan itu bersikeras menuduhku memiliki anak haram, mereka menguntitku sepanjang hari untuk mengambil foto, sampai-sampai aku tidak bisa pergi berkencan."
"Lalu, apa kamu masih bermimpi buruk?" Huang Kewen sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sudah tidak, metode yang kamu sarankan itu ternyata sangat ampuh."
"Baguslah kalau begitu."
Huang Kewen menimpali, "Perkiraanku, sebentar lagi media tidak akan menemukan bukti apa pun dan akhirnya kehilangan ketertarikan padamu, jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Yah, sepertinya memang cuma itu yang bisa kuharapkan."
Sambil saling berbincang, keduanya melangkah keluar dari ruang ganti bersama-sama.
Begitu melihat Huang Kewen langsung melangkah menuju lapangan latihan, Inzaghi menghentikan langkahnya, menatap lekat-lekat ke arah Huang Kewen dan berkata, "Kamu ada yang aneh!"
"Ada apa?"
"Bukankah seharusnya kamu pergi ke pusat kebugaran dulu?"
"Hari ini perasaanku sedang bagus, jadi aku ingin berlatih bersama yang lain," jawab Huang Kewen sambil tersenyum.
Tiba-tiba, ia merasakan pusing yang luar biasa melanda kepalanya.
Kesadaran itu langsung menghilang seketika, dan tubuhnya ambruk terjatuh ke belakang.
Pikiran terakhir yang terlintas di benak Huang Kewen adalah: Sialan, keberuntungan yang bagus ini benar-benar menipu.
……
"Kevin mengalami alergi terhadap cairan nutrisi rumput yang baru diganti. Diperkirakan butuh waktu 1-3 hari baginya untuk pulih total. Namun, demi kesehatan Kevin, sebaiknya jenis nutrisi rumput seperti ini tidak lagi digunakan," ujar seorang dokter paruh baya berjubah putih.
"Baiklah, terima kasih dok."
Nona Muda menghela napas lega.
Ia hampir mati ketakutan saat mendengar kabar bahwa Huang Kewen pingsan di lapangan latihan.
Jika sampai terjadi sesuatu pada Kevin kesayangannya, ia pasti akan menyeret Ancelotti untuk ikut dikubur bersama.
Siapa suruh pelatih bertubuh tambun itu menelepon terus-menerus setiap hari untuk mendesak Kevin agar segera kembali ke tim.
Melihat ekspresi cemas di wajah Nona Muda, Huang Kewen tersenyum menenangkan, "Ini cuma alergi biasa, kamu tidak perlu terlalu khawatir."
"Alergi bukanlah hal sepele!" kata Barbara dengan ekspresi serius.
"Alergi parah bahkan bisa membahayakan nyawa!"
"Baiklah, kamu benar."
"Aku sudah memecat pengelola rumput lapangan itu. Milanello akan segera mencabut sebagian rumput malam ini juga untuk diganti yang baru, dan cairan nutrisinya juga akan dikembalikan seperti semula."
"Sebaiknya biarkan pengelola itu kembali bekerja saja," bujuk Huang Kewen.
"Dia kan tidak tahu kalau aku akan alergi terhadap nutrisi baru itu."
"Baiklah kalau begitu, demi menuruti kemauanmu, kita beri dia satu kesempatan lagi," ucap Nona Muda dengan nada manja.
"Lagi pula mencari pekerjaan di luar sana tidak mudah," tambah Huang Kewen.
"Kamu ini terlalu baik hati," kata Nona Muda sambil tersenyum lembut.
Huang Kewen membatin dalam hati.
Mana ia tahu kalau keberuntungannya yang sedang bagus justru akan berwujud cedera dengan cara seperti ini.
14 Januari.
Setelah beristirahat selama tiga hari lagi, Huang Kewen kembali ke klub dan menghabiskan sehari penuh di pusat kebugaran.
Keesokan harinya, ia ikut serta bersama skuad berangkat melakoni pertandingan tandang.
Saat Huang Kewen sedang berganti pakaian, Ancelotti mendatanginya dan berkata, "Kevin, bagaimana kalau hari ini kamu jadi pemain cadangan saja?"
Huang Kewen: ???
Sialan, aku kan sudah memakai , kenapa kamu malah menyuruhku jadi cadangan.
Apakah kamu benar-benar menganggap poin sistem milikku ini turun dari langit begitu saja?
"Alasannya karena kondisi fisikmu baru saja pulih sepenuhnya, aku khawatir kalau-kalau masih ada efek sampingnya," ucap Ancelotti dengan nada cemas. "Saat sesi pemanasan nanti kita bisa melihat bagaimana kondisimu. Kalau memang tidak ada masalah, baru nanti aku cari kesempatan untuk memasukkanmu ke lapangan."
"Baiklah kalau begitu."
Huang Kewen hanya bisa mengangguk pasrah.
Siapa sangka cedera kali ini begitu merepotkan.
Pingsan sekali saja sukses membuat semua orang ketakutan setengah mati.
Melihat ekspresi rekan-rekan setimnya yang juga tampak mengkhawatirkan kondisinya.
Huang Kewen merasa tidak enak untuk memaksakan diri menjadi starter.
Saat sesi pemanasan berlangsung, Huang Kewen mendadak teringat untuk melakukan undian kartu.
!
!
Huang Kewen benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan .
Beberapa tahun yang lalu.
Sporting CP memiliki dua pemain muda berbakat.
Yaitu dan Cristiano Ronaldo.
yang sedikit lebih senior, menampilkan bakat yang jauh lebih menonjol.
Bahkan sebelum Cristiano Ronaldo merebut posisi utama, ia sudah menjadi pemain inti Sporting CP dan dijuluki sebagai penerus Luis Figo.
Umpan lambung luar kaki kanannya yang sangat memukau.
Bahkan memungkinkannya mencetak gol dari posisi yang sejajar dengan garis gawang.
Teknik penguasaan bolanya sangat halus.
Daya ledaknya pun sangat luar biasa.
Sering kali mampu memperlihatkan permainan sepak bola yang sangat indah dipandang.
Ia sangat diperebutkan oleh klub-klub raksasa Eropa.
Pernah berada di ambang kesepakatan bergabung dengan Manchester United, namun sang pemain justru lebih memilih Barcelona.
Kisah selanjutnya sudah diketahui oleh semua orang.
Dua talenta asal Portugal yang sama-sama berbakat, sama-sama menyukai aksi individu dan pamer trik keterampilan.
Yang pergi ke Barcelona mengalami kemerosotan drastis sepanjang kariernya, hingga pensiun pun gagal memenuhi potensi maksimalnya.
Sedangkan Cristiano Ronaldo yang memilih Manchester United, di bawah didikan Sir Alex Ferguson secara bertahap menjelma menjadi salah satu pemain terbaik di dunia.
Terkadang, pilihan hidup memang memegang peranan yang sangat penting.