Bab 14
Halaman (1/3)
Anstul memiliki wilayah yang luas dan keamanan yang baik, tetapi bisnis jual beli informasi di pasar gelap bawah tanah berkembang pesat. Itu juga berarti kerusuhan yang dipicu oleh orang-orang tak dikenal cukup sering terjadi.
“Biro Nol” bukan hanya badan intelijen militer, melainkan juga jaringan agen rahasia yang piawai membereskan masalah. Dalam laporan bulanan Biro Nol saja, kelompok-kelompok pelaksana dari berbagai daerah melaporkan kejadian seperti gudang yang diserang, jalur air yang diblokade, kawasan permukiman yang diganggu para pengungsi, dan berbagai insiden serupa lainnya—jumlahnya tak terhitung.
Karena itu, menghadapi perkara kecil semacam ini sudah menjadi keahlian mereka.
Fu Wenan sedang mengawasi setiap gerak-gerik Xie Min di layar dengan tatapan tajam.
Para agen memiliki daya pengamatan yang peka serta pandangan menyeluruh. Ia segera mengatur pengepungan dari tiga arah, memanfaatkan keunggulan medan hingga batas maksimal.
“Letnan Jiang, apakah belakangan ini serangan para prajurit liar sering terjadi?” Fu Wenan melirik ke arah Jiang Qi yang berdiri di sampingnya dengan kikuk, bahkan kedua tangannya tampak tak tahu harus diletakkan di mana.
“Melapor kepada Gubernur, pasukan di zona karantina Kaniulan belakangan ini bertindak di luar kebiasaan. Mereka menyerang gudang militer dan jalur pelayaran sipil di berbagai tempat. Beberapa serangan yang serupa dengan kejadian kali ini juga pernah terjadi.”
“Beberapa?” Fu Wenan menekankan suaranya.
“Empat kali bulan ini,” jawab Jiang Qi segera.
Fu Wenan mengernyit. Sejujurnya, ia juga pernah membaca laporan bulanan Biro Nol, sehingga tentu tahu bahwa bahaya dari insiden mendadak ini tidak terlalu besar. Namun, ia selalu memiliki firasat buruk, seolah-olah ada sesuatu yang terlewatkan.
“Gudang lapis baja di pinggiran timur itu tempat seperti apa?” tanya Fu Wenan lagi.
“Jaraknya tak sampai sepuluh kilometer dari sini. Bulan lalu, gudang itu dipinjamkan kepada Departemen Pertahanan untuk menyimpan baja dan komponen bijih yang akan dikirim ke pabrik persenjataan untuk diproses. Mungkin karena perdagangan bijih belakangan ini lesu, gudang-gudang lapis baja di berbagai daerah kurang lebih pernah diserang,” ujar Jiang Qi.
“Aku pernah mendengar tentang masalah ini. Tak kusangka hari ini justru akan mengalaminya sendiri.” Fu Wenan berpikir sejenak, lalu tiba-tiba berdiri. “Karena sedang beruntung, aku akan pergi melihat garis depan.”
“Eh?” Jiang Qi tertegun. Jemarinya sedikit menegang. “Namun, Kolonel Xie memerintahkanku untuk mengantar Anda beristirahat. Tanpa keperluan mendesak, Anda tidak boleh…”
“Kau sedang meragukan keputusanku?” Ekspresi Fu Wenan jelas mulai tidak senang.
“Bukan begitu, saya hanya… Perintah yang saya terima adalah melindungi keselamatan Anda. Jika sesuatu terjadi kepada Anda, Kolonel Xie akan sangat sedih. Sebagai letnan, saya tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menyulitkan beliau!”
Jiang Qi tampak seperti hewan kecil yang ketakutan. Ia mencengkeram ujung rok seragam letnannya, lalu membungkuk dalam-dalam kepada Fu Wenan. Suaranya lantang, tetapi terdengar tergesa-gesa dan malu-malu.
Sesaat, kerumitan melintas di mata Fu Wenan. Ia menundukkan pandangan, menatap helaian rambut Jiang Qi yang terjuntai. Setelah beberapa lama, barulah ia mengeluarkan alat komunikasinya.
Jemari panjangnya terus bergerak menekan tombol. Bunyi panggilan yang jernih bergema di ruang tamu yang sunyi.
Jiang Qi menatap lantai keramik tanpa berkedip. Keringat dingin di tangannya telah membasahi ujung roknya. Ia tetap dalam posisi membungkuk, giginya terkatup rapat agar tidak mengeluarkan suara karena ketakutan.
Ia tahu, selain Xie Min, tak seorang pun di Anstul yang berani menolak perintah Gubernur secara terang-terangan.
Namun, ia lebih tidak berani melanggar perintah Xie Min. Itu bukan hanya kewajiban sebagai seorang letnan, melainkan juga martabat dan kesetiaan yang telah melekat dalam dirinya sejak lahir.
Sejak awal berdiri, Biro Nol hanya mengakui satu pemimpin.
“Brak!”
Suara ledakan mendadak terdengar dari seberang alat komunikasi. Beberapa detik kemudian, suara seorang pria yang malas terdengar dari pengeras suara.
“Kataku, Gubernur yang banyak waktu luang, bisakah kau berhenti menghubungiku sembarangan saat aku sedang menjalankan tugas di luar?”
Bahu Jiang Qi bergetar. Dengan kemampuan mengenali arah suara, ia menyadari bahwa alat komunikasi yang mengeluarkan suara itu berada kurang dari setengah meter dari telinganya.
“Hanya ada satu hal yang menunggu keputusanmu. Letnanmu melarangku pergi ke garis depan,” ujar Fu Wenan datar.
Mata Jiang Qi sedikit melebar. Urat-urat menonjol di punggung tangannya. Karena menggenggam terlalu kuat, kulitnya bahkan tampak memutih.
Dari seberang kembali terdengar gemuruh tembakan dan ledakan. Setelah itu, barulah suara seseorang terdengar.
“Kau mau pergi ke mana pun, silakan. Hanya saja, jangan menakut-nakuti letnanku. Kalau tidak, sebentar lagi gadis kecil itu akan menangis di depanmu. Dia mencemaskan kau mati di luar sana, jadi seharusnya kau berterima kasih.”
“Dia berkata, jika sesuatu terjadi kepadaku, Kolonel Xie miliknya akan sangat sedih. Karena itu, ia melarangku pergi… Ini pertama kalinya aku mendengar alasan seperti itu,” kata Fu Wenan.
“…”
Xie Min terdiam selama beberapa detik, lalu terkekeh mengejek. “Dia hanya gadis kecil. Wajar kalau memiliki kesalahpahaman semacam itu.”
“Kenapa aku merasa justru orang luar yang dapat melihat lebih jelas?” Fu Wenan segera membantah.
“Apakah kau menghubungiku hanya untuk bermain-main dengan kata-kata?” Xie Min memaki dengan kesal. “Kau tidak punya kesibukan?”
“Ya, juga tidak. Aku hanya berpikir, jika kau juga menganggap tindakan Letnan Jiang tidak pantas, aku tidak keberatan membantumu menangani letnan yang tidak tahu menjaga perasaan atasannya. Namun, karena kau sudah berkata begitu…” Pandangan Fu Wenan menurun, tajam seolah hendak menembus kepala Jiang Qi. “Sebaiknya aku tidak ikut campur.”
“Dia adalah letnanku, Gubernur.” Suara Xie Min mendadak menjadi serius.
Fu Wenan tertawa dingin. “Kolonel, sepertinya kau lupa. Dahulu kau juga pernah menjadi letanku. Kau juga pernah bersumpah akan setia kepadaku sampai mati.”
“Dahulu iya, sekarang tidak lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Xie Min langsung memutus sambungan.
Seluruh tubuh Jiang Qi gemetar. Ia dapat merasakan tekanan yang begitu rapat dan menyesakkan terpancar dari tubuh Fu Wenan. Sama-sama seorang alfa, tetapi ia tetap dipaksa oleh sang Gubernur hingga tak mampu bergerak.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Kesombongan dan penghinaan yang seolah mengalir di dalam darah itu cukup untuk membuatnya kehilangan napas. Tatapan setajam jarum menancap di bahunya, lalu akhirnya bergeser perlahan ketika ia hampir tak mampu bertahan.
“Sekarang aku boleh pergi, Letnan Jiang?”
Suara sang Gubernur tidak menunjukkan kegembiraan maupun kemarahan. Terdengar ringan, seakan-akan sedang meminta izin, tetapi juga mengandung kekuatan seperti guntur yang menggelegar.
“Boleh! Silakan, Gubernur!” Jiang Qi segera menjawab.
Fu Wenan kembali mengenakan wajah seorang pemimpin yang tak terbaca emosinya. Ia melangkah hendak pergi, tetapi tiba-tiba sesuatu jatuh ke lantai di depan Jiang Qi dengan bunyi pelan.
Itu adalah selembar kertas minyak yang dilipat menjadi bentuk persegi.
Kebetulan, kertas minyak itu tercetak gambar kastel sang Gubernur.
Hati Jiang Qi tersentak. Itu adalah kertas minyak yang beberapa waktu lalu diberikan Xie Min kepadanya untuk membungkus biskuit pinguin. Setelah biskuitnya habis, ia terus menyimpannya karena tidak tega membuangnya.
Mungkin karena terlalu lama membungkuk, kertas itu tidak terselip dengan baik di saku seragam militernya hingga akhirnya terjatuh.
Ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya, tetapi sebuah telapak tangan dengan ruas-ruas jari yang tegas bergerak lebih cepat dan memungut kertas itu. Sesaat kemudian, ujung sepatu bot militer hitam yang mengilap muncul dalam pandangan Jiang Qi yang sempit.
Celaka.
Pikiran Jiang Qi seketika kosong.
Benar saja, suara dari atas kepalanya kali ini jelas mengandung ancaman sekaligus nada menggoda.
“Letnan Jiang, jelaskan.”
Jiang Qi menelan ludah. Pria itu menatapnya dari tempat yang lebih tinggi. Ia tampak sabar, tetapi setiap detik justru memperberat tekanan yang dirasakan Jiang Qi.
Feromon beraroma asap mesiu yang samar melilit tubuh Jiang Qi. Pada saat itu, perbedaan kemurnian garis keturunan alfa terlihat jelas. Pelipisnya terasa berdenyut, bahkan ia tidak berani melepaskan feromonnya untuk melawan.
“Itu kertas minyak yang ikut diberikan kepada bawahan bersama biskuit oleh Kolonel Xie beberapa hari lalu,” ujar Jiang Qi dengan suara gemetar.
Fu Wenan perlahan membuka kertas pembungkus itu. Gambar antelop salju di permukaannya masih tampak samar. Beberapa bagian tubuh hewan itu berwarna lebih gelap karena terkena minyak.
“Sepertinya dia takut aku meracuninya, jadi kau dijadikan kelinci percobaan terlebih dahulu.” Fu Wenan mendengus dingin.
“Eh?” Jiang Qi tertegun. Ia mendongak dengan tiba-tiba, lupa bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Fu Wenan. Terkejut mendengar perkataan pria itu, ia menatap wajahnya dan bergumam, “Jadi, Anda memang meracuni biskuit itu?”
“Kalau aku meracuninya, apakah kau masih bisa berdiri di sini?” Fu Wenan memiringkan kepala, menampilkan ekspresi seolah sedang menatap orang bodoh.
Burung Hantu Hitam, yang sejak tadi berdiri diam di sampingnya, mengangkat sebelah alis. Semburat geli tampak di matanya.
“Kau memang setia kepadanya, tetapi kesetiaanmu hanya sebatas kepercayaan bahwa biskuit itu aman untuk dicicipi.” Fu Wenan melemparkan kembali kertas minyak tersebut ke tangan Jiang Qi.
Ia memperhatikan dengan acuh tak acuh ketika gadis itu memasukkan kertas tersebut ke sakunya dengan hati-hati. Pada akhirnya, gadis itu bergumam pelan.
Suaranya terlalu kecil. Jika pendengaran Jiang Qi tidak sejak awal sangat baik dan jarak mereka tidak sedekat itu, orang lain pasti tidak akan mampu mendengar kata-kata yang ditahan sang Gubernur di ujung lidahnya.
Pupil Jiang Qi tiba-tiba melebar. Perasaan ganjil yang sulit dijelaskan seketika mengikis rasa takut di dalam hatinya.
Sebelum pergi, pria itu berkata:
“Dibandingkan denganku, dia masih jauh.”
Entah bagaimana, Jiang Qi bahkan dapat mendengar sedikit rasa bangga dalam ucapan itu.
“Apakah Gubernur sedang membandingkan diri?” gumam Jiang Qi.
Namun, ruangan itu telah kosong. Orang-orang yang datang bersama sang Gubernur segera menghilang seperti air pasang yang surut, sehingga tak seorang pun dapat menjawab pertanyaannya.
Fu Wenan sendiri tidak tahu mengapa ia hendak pergi ke garis depan. Pekerjaan pembersihan sederhana semacam ini sama sekali bukan beban bagi Xie Min, tetapi ia samar-samar merasa bahwa dirinya harus pergi.
Peta yang tersedia sangat terperinci. Gudang lapis baja itu tidak terlalu jauh dari pangkalan. Ketika mobil melaju secepat mungkin, Burung Hantu Hitam menampilkan posisi setiap kelompok Biro Nol dari jaringan informasi. Beberapa titik merah terlihat bergerak dengan jelas.
Titik yang mewakili Xie Min sedang bergerak perlahan semakin jauh ke dalam gudang.
“Masuk dari lorong selatan. Hentikan kendaraan di koordinat biru. Awasi posisi Xie Min dan segera laporkan kepadaku jika ada sesuatu yang janggal.”
Begitu Fu Wenan selesai berbicara, hamparan gudang yang luas telah terlihat di hadapan mereka.
Pada saat itu, layar bergerak tiba-tiba berkedip merah. Tanda seru besar memenuhi seluruh layar.
“Gubernur, posisi kita telah terbongkar. Sistem mendeteksi tiga kelompok musuh sedang mendekati kita,” ujar Burung Hantu Hitam dengan tenang.
Fu Wenan mengernyit dan memberi isyarat untuk meninggalkan kendaraan lalu bersembunyi. Baru saja ia membuka pintu mobil, alat komunikasi mini di telinganya berbunyi.
“Gubernur, hadiah yang kukirim untukmu ada di laci.”
Fu Wenan mengangkat kelopak matanya, lalu segera membuka laci dan mengeluarkan sepucuk pistol yang diikat pita bergambar bebek kuning kecil, serta sebuah pengendali jarak jauh.
Fu Wenan langsung memahami maksudnya. Ia menjulurkan tubuh untuk mengunci setir. Terdengar bunyi klik, lalu sistem kemudi otomatis di dalam mobil menyala. Ia menekan tombol percepatan. Kendaraan itu menggeram dan melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya, melaju ke jalan di depan.
Fu Wenan melompat keluar, berguling untuk meredam benturan, lalu bersembunyi di balik kios koran di tepi jalan. Seragam militernya berlumur debu, tetapi tidak mampu menutupi hawa dingin di matanya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Pria itu menekan pengendali jarak jauh. Seketika, kobaran api menjulang ke langit dan asap mengepul tebal. Mobil tersebut berubah menjadi serpihan di ujung jalan, lenyap bersama belasan mayat musuh.
“Ha, lebih spektakuler daripada pesta perayaan, bukan?” Orang di dalam alat komunikasi itu seakan mengetahui semuanya, lalu menggoda.
Fu Wenan menepuk-nepuk debu dari tubuhnya. Para bawahannya yang ikut bersamanya segera berkumpul di sekelilingnya. Pria itu memasukkan peluru ke pistol tanpa ekspresi, lalu sekaligus memelintir hingga putus kepala bebek kuning kecil pada pitanya.
“Karena kau sudah menerima hadiahnya, bantu aku membereskan ekor-ekor kecil itu, Gubernur.” Xie Min memperpanjang intonasinya. Nada akhirnya terdengar semakin riang.
“Posisiku sengaja kau bocorkan?” tanya Fu Wenan, meskipun ia sudah mengetahui jawabannya.
Siapa lagi kalau bukan Xie Min.
Kali ini, ia telah berubah menjadi pihak yang dimanfaatkan—sesuatu yang jarang sekali terjadi dalam karier politik sang Gubernur yang selalu menang.
“Jangan mengatakannya seburuk itu. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, bukan?” jawab lawannya.
Fu Wenan menarik sudut bibirnya. “Kesalahannya berupa memasang bom di mobilku?”
Kresek—
Suara aliran listrik yang mendadak terdengar melintas. Fu Wenan tak dapat menahan diri untuk mengernyit. Setelah itu, tidak ada lagi jawaban dari pihak seberang.
Mungkin mereka telah memasuki daerah dengan sinyal buruk. Fu Wenan tidak terlalu memedulikannya. Jumlah musuh yang datang untuk menyergap mereka tidak sedikit. Setelah semuanya dibereskan, Fu Wenan bersandar di dinding di antara gedung-gedung dan menundukkan pandangan ke layar sistem antisipasi penyergapan.
Seorang teknisi berlutut di tanah, menjadikan kedua kakinya sebagai penyangga. Jemarinya menari cepat di atas papan ketik.
“Gubernur, musuh terdekat telah ditangani. Apakah kita perlu melakukan penyisiran lebih dalam?” tanya teknisi itu.
“Lacak posisi Xie Min,” perintah Fu Wenan dengan suara dingin.
“Posisi Kolonel Xie terdeteksi di kawasan D gudang lapis baja, koordinat nol sembilan sebelas titik dua satu satu dua. Ia berada di lokasi yang sama dengan regu ketiga Biro Nol.”
“Baik. Semua pasukan, bergerak ke utara terlebih dahulu…” Fu Wenan mengangguk. Baru saja hendak berbicara, pandangannya tiba-tiba tertuju ke kejauhan.
Di sana terdapat sebuah toko yang tersembunyi jauh di dalam gang sempit. Pintu tokonya telah rusak dan tampak sudah lama tidak dibuka. Cahaya siang menerpa tempat itu, tetapi hanya tanda pos di depan toko yang memancarkan kilau tajam dan jelas.
Tanda pos…?
Jantung Fu Wenan berdegup keras. Ia tiba-tiba menunduk dan berkata dengan suara tegas, “Bangun ulang sistem tanda pos. Analisis kembali lokasi Xie Min. Nomor sasaran: GS0606.0327.”
“Siap!”
Teknisi itu segera mulai bekerja.
Sistem tanda pos merupakan sistem pelacakan informasi mandiri yang berada di dalam kastel Gubernur. Sistem tersebut menggunakan jalur komunikasi tersendiri dan tidak terhubung dengan jaringan antisipasi penyergapan mana pun di Anstul.
Itu adalah salah satu kartu truf Fu Wenan.
Hanya beberapa detik berlalu, tetapi detik-detik itu membuat Fu Wenan nyaris tak mampu bernapas.
Klik—
Selongsong peluru bekas yang tertiup angin membentur dinding dan menimbulkan suara berat.
“Gubernur, posisi Kolonel berubah drastis. Ia telah meninggalkan kawasan D gudang lapis baja dan sedang bergerak cepat ke arah utara!”
Sebuah van tua melindas reruntuhan di jalan, melompat tinggi ke udara, lalu melayang ringan seperti burung layang-layang yang terbang rendah di atas tanah.
Angin menerobos masuk dari jendela mobil, menerbangkan rambut pria yang diikat di belakang kepalanya. Ia dengan santai menyandarkan lengannya di jendela yang terbuka, sementara senyum rumit melintas di matanya.
Sinar matahari menembus kaca depan dan menyilaukan pria itu.
Xie Min menyipitkan mata dengan tidak sabar.
Di antara jemarinya, ia memainkan sebuah cip biru muda.
Itu adalah cip rahasia yang hanya dimiliki oleh lembaga-lembaga internal Anstul.
“Kau sudah sampai?”
Tiba-tiba, radio di dalam mobil memancarkan suara penyetelan yang berisik. Beberapa detik kemudian, terdengar suara parau dan pecah seperti suara bebek jantan.
Xie Min melirik kaca spion. Ia tampak cukup puas melihat jalanan yang kosong tanpa seorang pun.
“Jangan terburu-buru. Sebentar lagi.”
Halaman (3/3)