Bab 8 Ingin makan es krim?
Sejak pagi hari, saat langit baru mulai terang, Xiao He sudah datang menjemput Ran Xi untuk pergi bersama, sekalian menumpang makan.
Awalnya, Ran Xi berpikir untuk mengendarai mobil sendiri ke kota akan memakan biaya bahan bakar, jadi ia berniat naik bus saja. Namun, Xiao He menepuk dadanya dengan bangga, mengatakan bahwa bus lambat, tidak tepat waktu, dan sulit untuk mengangkut barang. Ia memiliki kendaraan hebat yang tidak memerlukan bahan bakar sama sekali. Akhirnya, Ran Xi pun memutuskan untuk tetap menjalankan rencananya untuk membeli persediaan sayur, buah, dan bumbu dapur.
Sambil menunggu Xiao He melahap sarapannya, Ran Xi dengan lembut membangunkan si duyung kecil yang sedang tertidur sambil memeluk boneka laksamana. "Bangun, hari ini kita akan pergi ke kota."
Si duyung kecil membuka matanya dengan linglung, namun ia tidak rewel. Ia duduk dengan patuh dan mengangguk pelan.
Ran Xi memberikan jubah dan topi kecil yang dijahitnya semalam, lalu membujuknya dengan lembut, "Tempat yang akan kita tuju hari ini agak jauh dari laut."
"Di sana ada banyak orang, mungkin mereka belum pernah melihat duyung sekecil dan semanis dirimu."
"Aku khawatir orang-orang itu akan berkerumun untuk melihatmu dan membuatmu takut. Karena itulah aku menjahit jubah ini untuk menutupi ekormu, dan topi ini untuk menutupi telingamu. Maukah kau mencobanya?"
Sebenarnya, bahkan di Kota Bawah Laut, duyung murni sangat jarang terlihat. Apalagi di kota daratan perbatasan. Mungkin banyak orang seumur hidupnya belum pernah melihat duyung, apalagi yang masih sekecil ini. Ran Xi benar-benar khawatir orang-orang akan melakukan sesuatu yang membuat si kecil tertekan.
Ran Xi pun begadang menjahit topi bulat kecil untuk menutupi telinga si duyung dan jubah panjang yang pas untuk menutupi ekornya. Meski begitu, hatinya merasa cemas. Ia tahu betul tidak ada duyung yang suka berpakaian saat dalam wujud ikan. Pakaian yang ia buat untuk boneka laksamana hanyalah untuk daya tarik agar anak-anak bisa mengganti pakaian boneka tersebut. Namun, duyung di dunia nyata, meskipun dalam wujud manusia bisa menciptakan pakaian yang pantas, dalam wujud ikan—terutama duyung jantan—selalu tampil tanpa penutup. Akankah duyung sekecil ini mau menurut memakai pakaian?
Si duyung kecil menerima pakaian itu tanpa suara, lalu menggoyang-goyangkannya di tangan seolah sedang mengamati cara memakainya. Jubah itu berbentuk mirip hanfu Tiongkok, khusus untuk anak laki-laki di sekolah, dengan warna biru dan putih yang tampak segar dan rapi. Si duyung mengukur pakaian itu di tubuhnya; ia tidak menolak, juga tidak membuangnya dengan kesal.
Ran Xi tahu ada harapan, lalu ia mengeluarkan senjata rahasianya: pakaian kecil dengan model yang sama, khusus untuk boneka laksamana.
"Lihat, dengan begini kau dan boneka laksamana bisa memakai baju yang sama. Menyenangkan, bukan?"
Mata si duyung kecil yang tadinya jernih kini seketika berbinar-binar. Ia mengangguk, lalu memakaikan baju pada boneka laksamana terlebih dahulu sebelum akhirnya mengenakan jubahnya sendiri. Ran Xi menghela napas lega, berpikir bahwa duyung kecil yang tampak keras kepala ini sebenarnya sangat penurut dan manis jika diperlakukan dengan lembut.
*
Saat menuruni gunung, matahari hampir terbit. Langit berwarna biru kehijauan yang menawan, dan batas antara laut dan langit mulai memancarkan cahaya keemasan. Suara serangga yang berbunyi sepanjang malam perlahan menghilang, digantikan oleh kicauan burung yang melompat di dahan pohon kapok. Kelopak bunga oranye yang besar sesekali jatuh dari atas, sementara bunga telang biru dan ungu bermekaran di sepanjang jalan.
Rumput di pinggir jalan masih berembun, membasahi ujung celana Ran Xi dan jubah si duyung kecil. Sedikit embun itu justru membuat si duyung kecil tampak lebih bersemangat. Ia melompat-lompat kecil di samping Ran Xi, tangan mungilnya memegang pinggiran topi, menatap sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu, seolah belum pernah melihat pagi yang setenang ini.
*
Sesampainya di kaki gunung, Ran Xi akhirnya melihat "kendaraan hebat" yang dibicarakan Xiao He. Ia mengucek matanya: benar, itu adalah kendaraan hebat tanpa bahan bakar.
Kendaraan kuda laut yang hebat. Kuda laut di dunia kecil ini bukanlah makhluk laut kecil seperti di Bumi, melainkan makhluk besar yang bisa berenang di laut dan berlari di daratan, serta mampu menarik barang dan membawa penumpang; bentuknya mirip keledai di Bumi. Namun, daya angkut kuda laut tidak bisa dibandingkan dengan kendaraan bermesin. Jadi, di Kota Bawah Laut, kereta kuda laut sudah lama ditinggalkan dan punah. Tak disangka, di kota kecil ini, ia justru melihat kereta kuda laut yang hampir hilang itu.
Dua ekor kuda laut yang besar berdiri di depan, menarik sebuah gerbong di belakangnya. Gerbong itu cukup luas, kira-kira seukuran mobil van. Ran Xi menggendong si duyung kecil ke dalam gerbong terlebih dahulu sebelum ia sendiri naik. Xiao He, yang mengemudikan kereta, tampak sedikit gemetar setelah melihat si duyung kecil masuk. Kedua kuda laut itu pun tampak tegang, telinga mereka tegak lurus dan bulu di punggung mereka berdiri. Ran Xi melihat reaksi para makhluk laut itu dan tertawa dalam hati: sungguh, bagaimana mungkin mereka takut pada duyung kecil yang begitu manis ini? Sementara si duyung sendiri tampak tidak sadar akan rasa takut para makhluk laut tersebut, ia hanya duduk diam dengan wajah datar.
*
Kecepatan kereta kuda laut itu cukup tinggi dan perjalanannya sangat mulus. Ran Xi awalnya ingin menikmati pemandangan, namun baru sebentar duduk dan berbincang dengan Xiao He, ia mulai mengantuk. Dua hari terakhir ia begadang menjahit, jadi ia memang kurang tidur. Tanpa sadar, ia menyandarkan diri di kursi yang keras dan tertidur.
Ran Xi yang sedang tidur tentu tidak melihat si duyung kecil di sampingnya yang duduk tegak dengan wajah serius mengawasi keadaan, layaknya seorang prajurit yang sedang berjaga.
Sekitar satu jam kemudian, mereka sampai di kota terdekat. Kota ini memiliki nama yang indah—Lembah Hijau. Meski tidak bisa dibandingkan dengan Kota Bawah Laut, Lembah Hijau jauh lebih ramai daripada kota kecil di pinggir pantai. Ada pabrik dan supermarket, mungkin setingkat kota kecil kelas empat di Bumi.
Ran Xi yang tidak punya banyak uang di sakunya tidak berani berkeliling terlalu lama. Ia langsung mencari pasar terbesar di kota, membeli bibit sayuran yang mudah ditanam, lalu setelah bertanya ke sana kemari, ia menemukan bibit cabai di sudut pasar dan segera membelinya dalam jumlah banyak. Setelah itu, ia membeli sayur, buah, dan yang terpenting: bumbu dapur seperti cabai kering, merica, dan bubuk cabai.
Setelah semua terbeli, ia berkata dengan gembira pada si duyung kecil, "Malam ini kita bisa makan ikan rebus! Yang ditambah merica dan cabai, aromanya harum dan pedas, kau pasti akan sangat menyukainya."
Si duyung kecil mendongak, wajahnya memancarkan senyum yang penuh harap.
Saat melewati bagian makanan segar, Ran Xi melihat deretan iga babi dan paha kambing. Pikirannya langsung dipenuhi bayangan iga babi masak kecap yang harum dan paha kambing panggang yang menggugah selera. Di dunia kecil ini, daging babi, sapi, dan kambing jauh lebih langka daripada makanan laut. Saat di Kota Bawah Laut, Ran Xi hanya bisa menghadiahi dirinya sendiri dengan tumis daging di kantin pada hari ia menerima beasiswa. Sesampainya di daratan, apakah harga daging akan lebih murah? Ia melangkah maju sedikit untuk melihat harganya.
Eh, lupakan saja. Meskipun sedikit lebih murah daripada di Kota Bawah Laut, harga iga 60 keping per jin dan daging perut 40 keping per jin masih terlalu mahal untuk Ran Xi saat ini. Lebih baik pulang dan makan ikan atau udang saja.
Sekarang ia memang sudah terlalu miskin, hanya mampu makan makanan laut.
Berlanjut ke bagian produk susu dan minuman. Ran Xi ragu sejenak, menghitung sisa uangnya, lalu dengan tekad bulat ia mengambil sekotak susu laut seharga 30 keping. Itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan tambahan gizi untuk si kecil. Tadi di perjalanan, Xiao He bilang dua anak berang-berang akan datang dalam dua hari lagi. Nanti, dua berang-berang dan satu duyung kecil akan duduk berbaris dengan tangan bersih, minum susu laut di pagi hari dan makan buah di sore hari, alangkah indahnya.
Setelah selesai berbelanja, sudah waktunya makan siang. Ran Xi mengajak si duyung kecil dan Xiao He duduk di kursi panjang di bawah pohon, mengeluarkan bekal dan air minum untuk makan siang sederhana. Meski tidak jauh dari sana ada restoran cepat saji, kemiskinan menghalangi langkah mereka. Bekal yang dibawa adalah pancake kentang yang digoreng pagi tadi; bagian luarnya renyah dan bagian dalamnya lembut. Xiao He melahapnya tanpa henti. Namun karena tidak ada cabai, si duyung kecil hanya mengendus lalu duduk di samping sambil minum air. Ran Xi tahu duyung tahan lapar, jadi ia tidak memaksa, hanya membukakan sekotak susu laut dan memberikan sedotannya.
Si duyung kecil memegang kotak susu itu lama sekali, lalu mencoba menyesapnya sedikit. Ia pun mulai minum dengan lahap, ekornya yang tersembunyi di balik jubah bergoyang-goyang, persis seperti anak manusia biasa yang duduk di kursi sambil mengayunkan kakinya.
Saat makan siang hampir selesai, si duyung kecil yang tadinya menunduk minum susu tiba-tiba menatap ke depan dengan tajam. Ran Xi mengikuti arah pandangannya dan melihat seorang anak berusia tujuh atau delapan tahun, ditemani orang tuanya, sedang duduk di kursi panjang menikmati secangkir es krim sundae.
Ah, gawat. Ran Xi yang miskin merasa kulit kepalanya menegang.
Si duyung kecil melihat anak itu menyendok krim sundae sedikit demi sedikit ke mulutnya dengan ekspresi yang sangat puas, lalu ia menjilat sudut bibirnya pelan. Namun, ia tidak menarik baju Ran Xi atau menatap terus-menerus ke arah anak itu. Ia hanya menunduk dalam diam, berusaha menyesap susu lautnya—meski kotaknya sudah kosong.
Melihat si duyung yang terlalu pengertian justru membuat Ran Xi merasa sedih. Ia membatin, entah berapa harga es krim di sini? Ia berpura-pura membuang sampah, lalu melipir ke restoran cepat saji untuk melihat harganya—oalah, es krim sundae rasa original harganya 15 keping.
Ran Xi pun keluar sambil meremas dompetnya. Melihat si duyung yang duduk tenang, Ran Xi memberanikan diri, berjongkok, dan berbisik, "Ingin makan es krim?"
Si duyung kecil tertegun sejenak, lalu menggeleng pelan. Namun, Ran Xi melihat dengan jelas mata si kecil itu membelalak lebar dan bersinar, bahkan tampak seperti ada bintang kecil di dalamnya.
Ran Xi berbisik lagi, "Itu... uangku sekarang tidak banyak, kalau dipakai beli es krim, rasanya agak sayang."
"Aku janji, nanti sampai di rumah aku akan buatkan es krim untukmu—rasanya pasti tidak kalah enak, bagaimana?"
Sebenarnya, Ran Xi tahu es krim buatan sendiri, karena kekurangan peralatan, tidak akan pernah bisa menghasilkan tekstur yang lembut dan halus. Apa yang disebut "rasanya tidak kalah enak" hanyalah caranya menghibur anak kecil. Namun, jelas sekali si duyung kecil terhibur. Wajah putih si kecil merona merah, dan sudut bibirnya terangkat.
Ran Xi mengusap kepala si duyung kecil, lalu berbisik lembut, "Anak pintar."
Ia diam-diam berjanji dalam hati, begitu uang saku magang bulan ini cair, ia pasti akan membelikan anak ini es krim yang sungguhan!