Bab 85: Ancaman
Ketika Wang Dahua membuka pintu, Yu Meili yang terjatuh ke lantai benar-benar merasa putus asa. Bagaimana ia harus mengakhiri semua ini? Tubuhnya gemetar hebat, jantungnya berdegup keras lalu seolah-olah berhenti berdetak. Wajahnya sangat pucat, penuh ketakutan.
“Eh, kok tidak ada orang?” Tiba-tiba Wang Dahua bersuara. Mendengar suara itu, Yu Meili sempat bingung, lalu segera bangkit dari lantai dan mendekat ke ambang pintu kamar mandi, mengintip ke dalam. Tak ada seorang pun di sana, bahkan bayangan pun tak tampak.
Ke mana perginya Xu Fei? Meski hanya sebentar ia diliputi rasa heran, seketika senyum bahagia merekah di wajah Yu Meili. Inilah saatnya bertindak. Ia segera maju, menarik kerah baju Wang Dahua sambil berteriak, “Menurutmu siapa yang seharusnya ada di kamar mandi ini? Wang Dahua, dasar bajingan tua, berani-beraninya kau menghina aku! Hari ini, aku takkan diam saja!”
“Kau perempuan cerewet, ada apa? Aku hanya bicara sedikit saja, sudah tidak suka? Aku malas ribut denganmu.”
“Lepaskan! Lepaskan!” Mereka pun langsung bertengkar di depan pintu kamar mandi.
“Kamu keluar sana! Aku masih mau mandi!”
Dengan kesal, Yu Meili masuk ke kamar mandi dan menutup rapat pintu besi. Sementara itu, Wang Dahua yang wajahnya penuh cakaran darah, tahu ia salah dan langsung melipir ke ruang utama.
“Mandi, mandi, tiap hari mandi, padahal lihat saja di mana dia tinggal. Aku tidur dulu.”
Baru saja Wang Dahua kembali dari keliling desa, tenaganya terkuras habis. Begitu sampai di kamar, ia langsung rebah dan tidur.
“Huft.”
Tiba-tiba, sebuah kepala muncul dari dalam bak mandi, membuat Yu Meili terkejut sampai melompat mundur dua langkah dan nyaris jatuh lagi.
“Kamu memang cerdik, tadi aku hampir mati ketakutan,” bisik Yu Meili dengan nada mengeluh pada Xu Fei.
Xu Fei keluar dari bak mandi, bajunya basah kuyup.
“Aku juga sempat panik. Sepertinya kepala desa mulai curiga padamu. Mulai sekarang kita harus lebih hati-hati. Kau pergilah ke ruang utama, jangan sampai kepala desa keluar. Aku akan pergi lebih dulu.”
Yu Meili mengikuti arahan Xu Fei, memastikan Wang Dahua tak akan keluar tiba-tiba, lalu Xu Fei cepat-cepat keluar dari halaman, meloncat ke atas pagar dan melompat keluar.
Setelah mendarat di luar pagar, Xu Fei akhirnya bisa bernapas lega.
Namun tiba-tiba terdengar jeritan di sampingnya. Xu Fei yang sedang dalam posisi canggung terkejut, lalu menoleh dan melihat Yu Huanhuan berdiri di sampingnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menutupi mulut Yu Huanhuan.
“Jangan teriak.”
Setelah melihat jelas bahwa yang melompat dari tembok adalah Xu Fei, Yu Huanhuan jadi lebih tenang.
“Kenapa kau keluar dari rumah kepala desa dengan cara memanjat pagar? Tadi aku dengar kepala desa dan istrinya bertengkar, katanya ada yang main serong. Apa kau ada urusan dengan istri kepala desa?”
Yu Huanhuan memang cerdik dan sudah bisa menebak sebagian besar kejadiannya.
“Kita pergi dulu, nanti bicara lagi.”
Xu Fei menarik tangan Yu Huanhuan, menjauh dari depan rumah Wang Dahua, tapi tidak menuju sekolah desa. Teringat ucapan Yu Meili tentang Liu Xianglan yang mencarinya tengah malam, Xu Fei jadi lebih waspada. Kalau malam ini Liu Xianglan datang dan melihat hal yang tak seharusnya, masalah akan bertambah besar.
Akhirnya Xu Fei membawa Yu Huanhuan ke rumahnya sendiri, ke dalam goa tanah.
“Xu Fei, jujur saja, kau memang ada urusan dengan istri kepala desa, kan?” Begitu masuk, Yu Huanhuan langsung menuntut penjelasan. Meski di dalam sangat gelap, dengan kemampuan istimewanya Xu Fei tetap bisa melihat wajah Yu Huanhuan yang dipenuhi rasa puas dan licik, seolah baru saja memergoki perselingkuhan. Inilah sifat Yu Huanhuan yang paling tidak disukai Xu Fei—terlalu banyak akal.
“Tidak ada,” Xu Fei menjawab tegas, tapi Yu Huanhuan jelas tak percaya.
“Huh, mana mungkin aku percaya padamu? Bajumu basah semua, jangan-jangan baru saja mandi bersama istri kepala desa. Aku pernah bertemu dia sekali, bahkan di kota pun dia sudah disebut wanita cantik. Mana mungkin kau, lelaki mata keranjang, tak tergoda? Pasti ada sesuatu di antara kalian, kau tak bisa membohongiku.”
Yu Huanhuan merasa ia sudah memegang kelemahan Xu Fei, dan sangat puas.
Wajah Xu Fei berubah dingin.
“Kau keterlaluan, Yu Huanhuan.”
Namun Yu Huanhuan yang sedang merasa di atas angin, justru balik mengancam, “Aku tak peduli benar atau tidak, tapi kalau aku sebarkan apa yang kulihat malam ini, biar semua orang yang menilai sendiri.”
Merasa terancam, Xu Fei pun marah dan menampar Yu Huanhuan hingga ia terjatuh di atas dipan tanah, tapi bukannya marah, Yu Huanhuan malah tertawa.
“Hah, panik ya? Kalau kau panik, itu bagus. Kau hanya punya dua pilihan: pertama, bunuh aku. Kedua, dalam satu minggu, kau harus membuatku keluar dari Desa Shanhe.”
“Seminggu? Kau gila, Yu Huanhuan?”
Yu Huanhuan bersikeras, “Aku tak peduli, aku benar-benar sudah tak tahan. Dua bersaudara itu hampir membuatku mati setiap hari. Aku harus segera keluar dari Desa Shanhe. Kau sudah janji membantuku, tapi sampai sekarang tak juga menepati. Aku beri waktu satu minggu, kalau tidak, kita sama-sama hancur.”
Hati Yu Huanhuan penuh kegembiraan. Saudara Liu sedang tak di rumah, jadi ia ingin menemui Xu Fei secara diam-diam di sekolah desa. Tak disangka, ia malah memergoki Xu Fei dengan istri kepala desa. Ia merasa sudah menggenggam kelemahan Xu Fei, sehingga bisa mengancam semaunya.
Xu Fei pun jadi sedikit kesal. Susah payah lolos dari Wang Dahua, kini justru jatuh di tangan Yu Huanhuan. Rupanya tak ada rahasia yang benar-benar aman di dunia ini.
“Kau benar-benar mengira aku tak berani membunuhmu? Kalau aku bunuh kau dan buang ke hutan, binatang buas akan melahap tubuhmu sampai tak bersisa, orang-orang akan mengira kau kabur lalu mengalami kecelakaan. Siapa yang akan menuduhku?”
Xu Fei mencengkeram dagu Yu Huanhuan kuat-kuat.
Namun Yu Huanhuan berusaha melepaskan diri, lalu dengan percaya diri berkata, “Tidak akan, aku sudah mengenalmu. Meski kadang nakal, kau takkan tega membunuh orang hanya karena masalah sepele. Kau belum sampai titik terdesak. Kau mampu mengeluarkanku dari Desa Shanhe, aku hanya menyuruhmu mempercepat saja. Untuk apa kau membunuhku?”
Ucapan Yu Huanhuan tepat mengenai perasaan Xu Fei, membuatnya makin kesal. Pola ancaman ini mirip sekali dengan yang dilakukannya sore tadi saat menipu Guo Ming di pelabuhan desa demi lima puluh ribu itu. Ia tahu Guo Ming sanggup memberi uangnya, dan tentu tak akan marah hanya karena duit segitu—kenapa harus takut?
Benar saja, perputaran nasib itu cepat sekali.
“Baik, aku akan cari cara. Tapi kalau kau berani mengucapkan sepatah kata pun, aku benar-benar akan membuangmu ke gunung untuk jadi santapan binatang buas. Silakan coba kalau tak percaya.”
Xu Fei cukup yakin pada dirinya. Kini ia sudah mencapai tingkat kekuatan tubuh yang tinggi, menyeberangkan Yu Huanhuan melewati Sungai Jomblo pun rasanya bisa dilakukan. Hanya saja, sekali menyeberang, hanya satu orang yang bisa dibawa. Masalahnya, masih ada Wu Huimin. Jika Yu Huanhuan lolos, maka perempuan lain yang juga dibeli pasti akan dijaga lebih ketat, dan membawa pergi Wu Huimin akan jauh lebih sulit.
Jika harus memilih, Xu Fei pasti akan mengutamakan Wu Huimin, bukan Yu Huanhuan.
Ia harus cari cara agar bisa membawa Wu Huimin keluar lebih dulu, baru urus Yu Huanhuan. Lagi pula, ancaman Yu Huanhuan tadi hanya dipercayai Xu Fei tujuh dari sepuluh bagian saja. Sama-sama hancur? Yu Huanhuan hanya menggertak, kecuali benar-benar sudah tak ada jalan lain, siapa pun enggan mengambil risiko sebesar itu.
Sebuah kelemahan hanya berarti sesuatu jika tak ada yang tahu. Sekarang, Xu Fei adalah satu-satunya harapan Yu Huanhuan untuk keluar dari Desa Shanhe. Kalau ia mempermalukan Xu Fei, harapan terakhirnya pun akan hilang. Yu Huanhuan cukup cerdik untuk memahami hal sederhana semacam itu.
Maka, Xu Fei tidak terlalu takut pada ancaman Yu Huanhuan.
Setelah mendengar Xu Fei bersedia menolongnya, Yu Huanhuan langsung gembira luar biasa. Meski baru saja ditampar, ia sama sekali tidak peduli. Bahkan ia segera bersikap manja dan menggoda.
“Xu Fei, aku salah. Karena kau sudah janji membantuku, aku pasti akan membalas budimu.”
Sambil berkata begitu, Yu Huanhuan tersenyum manis, menanggalkan bajunya dan berlutut di depan Xu Fei, kemudian perlahan membuka ikat pinggang Xu Fei.
Sungguh, godaan yang sulit dihindari...