Bab 59: Ujian Kepala Desa
Langit perlahan-lahan mulai gelap.
Setelah kembali menikmati kebahagiaan, Xu Fei terbaring lemas di atas rerumputan dan berkata dengan suara lemah, “Rapat di balai desa sepertinya akan segera bubar. Kalian berdua pulanglah dulu, aku akan segera mencari cara agar kalian bisa pergi dari sini. Jangan sampai ada yang tahu.”
“Baik.”
Yu Huanhuan mengusap mulutnya, menatap Xu Fei dengan senyum samar.
“Meski aku nanti keluar dari sini, kalau kau ingin aku melayanimu, aku selalu siap kapan saja.”
Xu Fei dalam hati mencibir, siapa juga yang percaya omonganmu itu? Begitu keluar dari Desa Shanhe, kau pasti ingin menjauh sejauh mungkin dariku. Namun, ada hal-hal yang jika diungkapkan secara gamblang justru kehilangan maknanya. Selama Huanhuan belum meninggalkan Desa Shanhe, bisa beberapa kali menikmati kebersamaan singkat pun sudah cukup. Sifat Yu Huanhuan memang tidak disukai Xu Fei, tapi kemampuannya benar-benar membuat Xu Fei susah melupakannya.
“Kak Fei, aku pasti akan membalas budimu.”
Wu Huimin menatap Xu Fei dengan mata berbinar penuh semangat. Kesan Xu Fei terhadap Wu Huimin jauh lebih baik daripada Yu Huanhuan, hanya saja gadis ini terlalu polos.
“Sudahlah, cepat pergi kalian.”
Xu Fei melambaikan tangan pada mereka berdua. Keduanya pun segera menuruni bukit. Mereka sudah punya alibi; keluar dengan alasan mencuci pakaian. Setelah mengambil pakaian di tepi sungai, mereka berjalan beriringan kembali ke desa.
“Kak Huanhuan, apa kau nggak merasa sakit? Aku jalannya saja terasa perih,” Wu Huimin berkata dengan nada mengeluh.
Yu Huanhuan pun meringis, “Xu Fei itu terlalu beringas, seperti serigala. Kalau di klub malam di kota, pasti dia jadi pelayan laki-laki paling laris dan berpenghasilan tertinggi. Nggak bisa, lain kali kita harus bawa satu perempuan lagi. Kita bertiga saja baru bisa mengimbangi Xu Fei.”
...
Xu Fei tidak langsung turun gunung. Ia masih berbaring di atas rerumputan, mengambil kitab jurus Langkah Angin yang ditinggalkan oleh Zhang Hairui, lalu mulai membacanya.
Menurut kitab itu, Langkah Angin terbagi menjadi tiga tingkat: Tingkat pertama, Bayangan Menghilang; tingkat kedua, Jejak Salju Tanpa Bekas; tingkat ketiga, Melayang Tiga Ratus Kaki.
Bayangan Menghilang artinya kecepatan sangat tinggi, gerakan lincah dan sulit dilacak.
Tingkat kedua, Jejak Salju Tanpa Bekas, hanya bisa dikuasai setelah berhasil menyalurkan tenaga dalam. Saat itu, bisa melayang satu hasta dari tanah, seperti pendekar dalam kisah silat yang sekali loncat menempuh ratusan meter, berjalan di atas air dan terbang di atas rumput pun bukan masalah.
Tingkat ketiga, Melayang Tiga Ratus Kaki, adalah yang paling ajaib. Bisa melayang di udara setinggi tiga ratus kaki dari permukaan tanah, seakan-akan melangkah menuju langit seperti dewa.
Xu Fei terpesona oleh kitab Langkah Angin itu. Tanpa sadar, malam sudah tiba.
“Biar kucoba.”
Xu Fei menutup kitab itu, dalam benaknya membayangkan teknik langkah yang dijelaskan di dalamnya. Ia melompat dan berlari menuruni lereng bukit. Awalnya, ia masih belum benar-benar menguasainya, gerakannya pun masih seperti orang biasa. Namun, makin lama makin lancar. Saat ia sampai di bawah bukit, kecepatannya sudah hampir menyamai pelari sprinter juara olimpiade. Anehnya, di atas tanah liat kuning itu, hanya tampak bekas tapak kaki yang samar.
Xu Fei merasa gembira dalam hati, lalu ia menggunakan jurus Langkah Angin menuju rumah kepala desa. Ia merasa semakin ringan, seolah tanpa beban. Biasanya, dari Bukit Bulan ke rumah kepala desa butuh waktu lebih dari dua puluh menit, tapi hari ini Xu Fei hanya perlu tujuh atau delapan menit, dan sama sekali tidak merasa kelelahan.
Berdiri di depan pintu rumah Wang Dahut, Xu Fei bergumam dalam hati.
“Tinju Banteng itu saja, yang hanya ilmu bela diri tingkat tiga atas, sudah bisa membuatku—di tahap pertengahan kekuatan gajah—memukul mati ular hitam yang sudah berlatih lebih dari tiga ratus tahun. Sedangkan Langkah Angin ini adalah ilmu tingkat dua, tentu jauh lebih berharga. Pantas saja Zhang Qingqing si cabe tua itu enggan memberikannya.”
Mengingat status perawan Zhang Qingqing, sorot mata Xu Fei pun berubah menjadi panas.
Zhang Qingqing menjaga keperawanannya selama tiga puluh tahun, menyimpan energi yin yang sangat kuat. Jika Xu Fei bisa mendapatkan darah perawan Zhang Qingqing, nilainya pasti melebihi gabungan energi yin belasan perempuan biasa. Jika bisa menaklukkannya sekarang, ia pasti langsung masuk tahap akhir kekuatan gajah.
“Berani-beraninya melawanku, kalau lain kali ketemu, akan kubuat kau tak berkutik.”
Xu Fei mengusir pikirannya dan mengetuk pintu rumah Wang Dahut.
“Paman Dahut, buka pintunya.”
“Kau masih berani ke sini?”
Yang membuka pintu adalah Yu Meili. Rambutnya diikat tinggi, pinggangnya dililit celemek yang menonjolkan lekuk tubuh indahnya, membuat Xu Fei kembali berkhayal.
“Aduh, sakit!”
Tiba-tiba Yu Meili mencubit keras lengan Xu Fei, membuat Xu Fei meringis dan cepat-cepat mundur dua langkah. “Kak Meili, kalau ada salah, bilang saja, jangan main tangan.”
Yu Meili memasang wajah cemberut, “Saat sedang bersamaku, kau malah menyebut nama perempuan lain, sudah tak tahu malu!”
“Mulai sekarang jangan sembarangan melirik tubuhku. Kalau aku sampai membiarkan kau menyentuh satu jariku lagi, aku rela mati menabrakkan kepala sendiri.”
Melihat Yu Meili benar-benar marah, Xu Fei buru-buru berkata, “Kak Meili, jangan marah, ini cuma salah paham.”
“Itu Xu Fei, ya? Cepat masuk makan!”
Tiba-tiba Wang Dahut membuka tirai ruang utama dan mengintip keluar. Hari ini suasana hati Wang Dahut sedang baik; ia sudah menenggak beberapa gelas, pipinya merah merona. Namun, Xu Fei justru merasa di atas kepala kepala desa Wang Dahut tampak seperti ada topi hijau.
Begitu Wang Dahut muncul, Xu Fei dan Yu Meili seketika berubah jadi lebih sopan.
“Paman Dahut, aku masuk sekarang.”
Xu Fei melewati Yu Meili, melangkah ke halaman.
Yu Meili memandang punggung Xu Fei dengan perasaan kehilangan.
“Yu Meili, kau sudah tiga puluh tahun, kenapa masih bisa tergila-gila pada bocah nakal seperti dia? Apa sih bagusnya dia?”
Tatapannya penuh keluhan, namun ia tetap mengikuti Xu Fei masuk ke ruang utama.
Di ruang utama, hidangan lezat sudah tersaji di atas meja.
“Paman Dahut, ini mewah sekali,” ujar Xu Fei kaget melihat hidangan ikan dan daging yang melimpah di meja.
Wang Dahut menjawab dengan semangat, “Bukan mewah, bukan mewah! Kau hari ini berjasa besar untuk Desa Shanhe. Lima puluh tujuh juta! Tadi aku sudah berdiskusi dengan warga desa. Sekolah akan kami pindahkan ke halaman kecil di depan klenteng, dibangun sepuluh ruang kelas berdinding bata, plus lapangan kecil. Tenaga kerja dari warga sendiri, meja kursi bisa kita buat dari kayu di hutan belakang, biaya bahan bangunan tujuh belas juta sudah cukup. Sisanya, empat puluh juta akan kita simpan di rekening bersama, dipakai nanti buat biaya sekolah anak-anak. Bagaimana menurutmu?”
Uang itu hasil jerih payah Xu Fei, tentu harus minta pendapatnya.
Xu Fei mengangguk dari kursinya.
“Memindahkan sekolah ke klenteng itu ide bagus. Tempat yang sekarang rawan longsor, sangat berbahaya. Ada satu lagi saranku. Saat ini desa kita cuma punya tiga kelas, murid empat puluhan. Kalau bangun banyak ruang kelas, uangnya jadi sia-sia. Selain itu, anak-anak yang sekolah kelas empat sampai enam di kota harus jalan jauh tiap hari, juga bahaya. Jadi kupikir, lebih baik anak-anak kelas empat sampai enam dipanggil pulang, sekolah di desa saja. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.”
Mendengar itu, mata Wang Dahut berbinar.
“Kau memang paling cerdas di desa ini! Saranmu bagus, tapi kita kekurangan guru. Kalau semua anak pulang, murid kita bisa seratus lebih, perlu lima enam guru. Aku dengar kelas enam juga sudah belajar bahasa Inggris, sementara tidak ada satu pun di desa ini yang bisa bahasa Inggris.”
Xu Fei tersenyum percaya diri.
“Tenang saja, Kepala Desa. Asal sekolah bisa dibangun, guru pasti ada. Beberapa hari lagi aku memang harus keluar desa. Nanti aku akan cari Kak Feng, semoga dia bisa membantu.”
Wang Dahut langsung berseri-seri, “Benar juga, Paman Dahut memang sudah pikun. Dengan hubungan dengan Wakil Bupati Feng, masalah guru pasti bisa diselesaikan. Ayo, Paman Dahut minum untukmu!”
Xu Fei bersulang dengan Wang Dahut dan meneguk habis.
Setelah meletakkan gelas di meja, mata Wang Dahut berputar-putar, lalu berkata,
“Xiao Fei, aku ini sudah tua, jabatan kepala desa aku nggak percaya serahkan ke siapa pun, kecuali padamu.”
“Hmm?”
Alis Xu Fei terangkat.
Kepala Desa Shanhe pada dasarnya seperti raja kecil, hidup bebas dan berkuasa. Wang Dahut sudah tiga puluh tahun jadi kepala desa dan sangat menikmati kekuasaan itu. Kecuali sudah sekarat atau ada perintah pemerintah, Wang Dahut tak akan mau mundur dengan sukarela.
Ini pasti hanya sekadar ujian.
Xu Fei yakin, karena perbuatannya kali ini membuatnya lebih menonjol dari Wang Dahut, sehingga wibawa Xu Fei di desa sudah melebihi kepala desa. Wang Dahut khawatir Xu Fei akan merebut kekuasaan, jadi sengaja menguji reaksinya.
Rubah tua tetaplah rubah tua.