Bab 132: Dendam dan Permusuhan Keluarga Zhuo
“Dengan syarat? Syarat apa? Mengapa aku tidak menyadarinya?” Setelah mendengar perkataan An Qinxian, Xu Weiwei merasa sangat bingung. Ia sudah cukup lama berinteraksi dengan Zhuo Yixuan, tetapi tidak pernah menemukan alasan yang dapat membuatnya bertindak gegabah. Namun, An Qinxian justru mengetahuinya.
An Qinxian tersenyum getir lalu menggeleng pelan. Tentu saja ia tahu apa yang dapat mendorong Zhuo Yixuan bertindak gegabah, tetapi ia tidak mungkin mengatakannya. Sebab, satu-satunya orang yang mampu membuat An Qinxian mengabaikan segalanya dan melakukan hal bodoh hanyalah Xu Weiwei.
“Sudahlah, percayalah kepadaku sekali ini. Zhuo Yixuan pasti baik-baik saja. Kalau kau ingin mendengarnya, aku bisa menceritakan perselisihan antara Zhuo Yixuan dan Zhuo Junxuan.”
An Qinxian menarik Xu Weiwei kembali ke tempat duduknya. Xu Weiwei mengangguk. Selama ini, An Qinxian selalu memberinya kesan sebagai orang yang tenang dan dapat diandalkan. Ia percaya pria itu tidak akan membohonginya. Selain itu, ia juga sangat tertarik pada perselisihan antara Zhuo Yixuan dan Zhuo Junxuan. Mereka semula adalah saudara. Bagaimana mungkin hubungan mereka berubah sampai berada pada titik saling membenci seperti sekarang?
Perselisihan itu bermula dari generasi ayah mereka. Pada masa itu, Grup Zhuo berada di bawah kendali ayah Zhuo Yixuan, sementara ayah Zhuo Junxuan juga bekerja di sana. Keduanya saling membantu dan melengkapi.
Berkat kerja keras mereka, bisnis keluarga Grup Zhuo berkembang semakin besar dan perlahan menjadi salah satu raksasa dunia usaha. Pada waktu itu, Zhuo Yixuan dan Zhuo Junxuan juga berhubungan seperti saudara pada umumnya. Kedua keluarga tidak memiliki jarak, bahkan hidup rukun layaknya satu keluarga.
“Kalau begitu, bagaimana mungkin semuanya sampai menjadi seperti sekarang?” Xu Weiwei semakin bingung. Ia sulit percaya bahwa sebuah keluarga yang semula rukun dapat terpecah belah hingga sejauh ini.
An Qinxian menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya.
Perubahan itu bermula dari kakek Zhuo Yixuan. Ketika Grup Zhuo sedang berada di puncak kejayaannya, sang kakek tiba-tiba jatuh sakit. Ayah Zhuo Yixuan mendatangi berbagai rumah sakit dan mencari banyak dokter terkenal, tetapi tak seorang pun mampu menstabilkan kondisi sang kakek.
Saat ayah Zhuo Yixuan sibuk mencari cara untuk menyembuhkan ayahnya, ayah Zhuo Junxuan terus merawat sang kakek. Pada waktu itu, kondisi sang kakek sudah sangat parah. Bahkan, kesadarannya pun terkadang menjadi kabur.
Mungkin karena sedang tertidur, kakek Zhuo Yixuan salah mengira ayah Zhuo Junxuan sebagai ayah Zhuo Yixuan. Ia mengungkapkan isi hatinya dan memutuskan untuk menyerahkan seluruh pengelolaan Grup Zhuo kepada ayah Zhuo Yixuan. Selain itu, demi mencegah perselisihan di antara kedua bersaudara, ia berniat meminta ayah Zhuo Junxuan meninggalkan Grup Zhuo dan memberinya sejumlah uang agar dapat memulai usaha dari awal.
Sejak awal, Grup Zhuo memang selalu berada di bawah kendali ayah Zhuo Yixuan. Kini, setelah sang kakek meninggal, seluruh bisnis keluarga pun hendak diwariskan kepadanya. Hal itu tidak dapat diterima oleh ayah Zhuo Junxuan. Menurutnya, kemampuannya sama sekali tidak kalah dibandingkan kemampuan kakaknya. Hanya karena ia lahir sedikit lebih lambat, sang kakek memberikan seluruh keuntungan kepada kakaknya.
Semakin dipikirkan, semakin marah ayah Zhuo Junxuan. Ia tidak rela menyerah begitu saja, apalagi diusir dari Grup Zhuo.
Tepat saat itu, ayah Zhuo Yixuan kembali. Pada akhirnya, ia tetap tidak menemukan cara untuk menyembuhkan sang kakek. Ayah Zhuo Junxuan pun mendapatkan sebuah gagasan.
Ia menemui ayah Zhuo Yixuan dan berbohong bahwa di luar negeri ada seorang dokter terkenal yang mungkin dapat menyembuhkan penyakit sang kakek.
Mendengar kabar itu, ayah Zhuo Yixuan tidak memedulikan kebenarannya. Ia segera menaiki pesawat ke luar negeri untuk mencari dokter yang dimaksud oleh adiknya.
Malam itu, kondisi sang kakek memburuk sepenuhnya dan ia tampak sudah berada di ambang ajal. Ayah Zhuo Junxuan menyuruh semua orang keluar, lalu hanya ditemani seorang pengacara yang telah ia siapkan, ia berjaga di sisi sang kakek. Karena pintu kamar tertutup rapat, tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam.
Ketika pintu akhirnya dibuka, wajah ayah Zhuo Junxuan telah dibasahi air mata. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang dibubuhi cap resmi, yaitu surat wasiat yang dibuat sang kakek sebelum meninggal.
Menurut isi surat wasiat itu, Grup Zhuo diwariskan sepenuhnya kepada ayah Zhuo Junxuan. Sementara itu, ayah Zhuo Yixuan harus meninggalkan Grup Zhuo dan menggunakan uang yang sebelumnya telah disiapkan sang kakek untuk memulai usaha baru.
Ketika ayah Zhuo Yixuan kembali dari luar negeri, sang kakek telah meninggal dan surat wasiat itu sudah dibuat. Ia memandangi surat tersebut dengan wajah yang semakin muram.
Tentu saja, ia tidak menemukan dokter ajaib yang disebutkan oleh ayah Zhuo Junxuan. Sebab, semua itu hanyalah kebohongan yang dilontarkan sembarangan. Justru akan terasa aneh jika dokter itu benar-benar ada. Berdasarkan berbagai petunjuk, ayah Zhuo Yixuan segera menyadari bahwa semua ini adalah ulah ayah Zhuo Junxuan.
Meskipun sangat marah, ayah Zhuo Yixuan tidak berdaya. Surat wasiat itu telah disahkan, dan seorang pengacara juga berada di sana sebagai saksi. Ia tahu bahwa pengacara tersebut telah disuap oleh ayah Zhuo Junxuan, tetapi tidak memiliki bukti sedikit pun. Pada akhirnya, ia hanya dapat menerima isi surat wasiat itu dan menggunakan uang peninggalan sang kakek untuk memulai usaha baru.
Sejak saat itulah konflik antara kedua keluarga dimulai. Bukan hanya hubungan antara ayah Zhuo Yixuan dan ayah Zhuo Junxuan yang berubah menjadi penuh pertentangan, kedua generasi penerus mereka pun akhirnya menjadi musuh.
Ayah Zhuo Yixuan memiliki jaringan relasi yang sangat luas berkat masa-masa yang ia habiskan di Grup Zhuo. Walaupun ayah Zhuo Junxuan terus menghalanginya secara diam-diam, ia tetap berhasil mendirikan Yizhuo dengan menggunakan uang peninggalan sang kakek. Bahkan, perusahaan itu berkembang hingga mencapai kondisi seperti sekarang.
Setelah mendengar penuturan An Qinxian, Xu Weiwei terdiam. Lama sekali ia tidak mengatakan apa-apa. Selama ini, ia selalu mengira Zhuo Yixuan terlahir dengan sendok emas di mulut dan menjalani hidup tanpa rintangan. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria itu ternyata memiliki masa lalu yang begitu rumit dan menyakitkan.
Walaupun tidak mengalaminya sendiri, Xu Weiwei dapat membayangkan betapa sulitnya kehidupan keluarga Zhuo Yixuan ketika ayahnya diusir dari Grup Zhuo. Meskipun sang kakek meninggalkan sejumlah uang, dengan campur tangan ayah Zhuo Junxuan, jumlahnya tentu tidak seberapa. Selain itu, ketika mendirikan Yizhuo, mereka pasti menghadapi tekanan besar dari Grup Zhuo.
Sebagian besar tekanan itu tentu ditanggung oleh ayah Zhuo Yixuan. Namun, saat itu Zhuo Yixuan juga sudah cukup dewasa dan pasti turut berlari ke sana kemari demi mendirikan Yizhuo. Xu Weiwei bertanya kepada dirinya sendiri. Seandainya ia berada di posisi Zhuo Yixuan, mungkin ia tidak akan sanggup bertahan. Pada akhirnya, Yizhuo pun mungkin tidak akan pernah berdiri.
Melihat ekspresi Xu Weiwei, An Qinxian tahu bahwa cerita itu pasti mengguncang hatinya. Ia menepuk lembut bahu Xu Weiwei dan berkata dengan suara pelan, “Sekarang kau tahu betapa sulitnya Zhuo Yixuan mencapai posisinya hari ini, bukan? Itulah juga alasan mengapa aku memutuskan hubungan dengan Grup Zhuo demi dirinya. Selama orang itu ada, Yizhuo akan terus berkembang. Hanya masalah waktu sebelum perusahaan itu melampaui Grup Zhuo.”
Xu Weiwei terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ketika An Qinxian menyebut Zhuo Yixuan, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu. Sebelumnya, Zhuo Yixuan pernah mengingatkannya agar lebih berhati-hati. Belakangan ini, seseorang telah mengincar perusahaan Xu Borong, tetapi ia belum sempat memberi tahu Xu Borong.