Bab Lima Puluh Lima: Bermain Licik
Xu Weiwei mengeluhkan pada Lin Feifei tentang konflik yang tiada henti antara dirinya dan Zhuo Yixuan. Menurutnya, keajaiban saja sudah jika Yizhuo belum langsung memecatnya, apalagi memberinya tugas baru. Saat mereka sedang berbincang, Wei Xin kebetulan datang dari luar. Ia melirik Xu Weiwei dan tersenyum samar, “Mengapa sales unggulan kita masih di sini? Bukankah sebentar lagi ada proyek yang harus kau tangani?”
“Proyek?” Xu Weiwei tampak bingung. Julukan sales unggulan jelas bukan untuknya, dan soal proyek yang harus dibicarakan pun baru kali ini ia dengar. “Kau pasti salah paham, aku…”
Belum sempat Xu Weiwei menyelesaikan kalimatnya, Wei Xin sudah memotong dengan wajah serius, “Xu Weiwei, aku tahu kau orangnya rendah hati. Tapi urusan proyek perusahaan tak boleh ditunda. Aku tunggu di luar, cepatlah keluar.”
Selesai berkata, Wei Xin tak memberi Xu Weiwei kesempatan untuk menjelaskan, langsung berbalik keluar kantor, meninggalkan Xu Weiwei yang terpaku kebingungan.
Tatapan Lin Feifei pada Xu Weiwei pun seketika berubah sinis. Ia berkata dengan nada mengejek, “Jadi ternyata kau sales unggulan baru Yizhuo, pantas saja. Bukankah kau masih ada proyek? Cepatlah pergi, jangan buang waktumu dengan pegawai biasa sepertiku.”
Xu Weiwei merasa sangat tertekan mendengar sindiran Lin Feifei. Apa yang dikatakan Wei Xin sama sekali tidak ia ketahui, namun ia juga tak punya waktu untuk menjelaskan. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah, tepat di saat suara Wei Xin kembali terdengar dari luar, memanggil, “Hei, sales unggulan, kalau kau terus menunda, bisa-bisa nanti ketinggalan.”
Xu Weiwei menghela napas, kini ia benar-benar tak sempat menjelaskan apapun pada Lin Feifei. Bagaimanapun Wei Xin adalah asisten Zhuo Yixuan, jadi akhirnya ia melangkah keluar.
“Wei Xin, apa maksudmu sebenarnya? Sales unggulan apaan, proyek apaan, kenapa aku tak pernah dengar soal itu?” Begitu keluar, Xu Weiwei langsung menuntut penjelasan.
“Itu wajar kalau kau belum dengar,” jawab Wei Xin sambil tersenyum meminta maaf. “Karena aku juga baru dengar sekarang.”
Percakapan mereka berlangsung hingga keduanya keluar dari kantor. Xu Weiwei mengerutkan alis, lalu berhenti melangkah. Menyadari suara langkah Xu Weiwei menghilang, Wei Xin pun ikut berhenti dan berbalik. Mereka saling menatap.
“Berikan aku penjelasan. Kalau tidak, meskipun kau asisten Zhuo Yixuan, hari ini aku takkan ikut denganmu!” Xu Weiwei berkata sambil duduk di tangga depan kantor tanpa memperdulikan penampilannya, menunjukkan sikap bandel. Ia sudah memutuskan, kalau Wei Xin tak mau menjelaskan, ia akan duduk di situ saja. Ini di depan kantor, Wei Xin pasti takkan berani menyeretnya pergi, bukan?
Melihat aksi bandel Xu Weiwei, Wei Xin hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ayo, cepat bangun. Banyak orang melihat ke sini, jangan sampai orang luar menertawakan Yizhuo!” barulah Xu Weiwei menyadari, baik pejalan kaki di sekitar maupun pegawai di dalam kantor semuanya menatap ke arahnya, sesekali berbisik dan memperlihatkan ekspresi menertawakan. Hal ini justru membuatnya semakin berani, yakin Wei Xin takkan berani menariknya pergi, karena kalau tersebar itu akan jadi bahan tertawaan besar.
“Kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau. Berani, tarik aku kalau bisa!” Xu Weiwei menjulurkan lidah, tetap duduk di tangga tanpa bergerak sedikit pun.
Saat itulah, terdengar suara penuh amarah dari kejauhan, “Xu Weiwei, cepat bangun sekarang juga!”
Xu Weiwei menoleh, Zhuo Yixuan sedang berjalan ke arahnya dengan wajah penuh kemarahan. Ia bahkan tak mau menatap Zhuo Yixuan, tetap duduk di tangga seolah-olah menguasai tempat itu.
“Xu Weiwei! Aku tanya sekali lagi, kau mau jalan atau tidak?” Suara Zhuo Yixuan terdengar semakin keras, kini ia sudah berdiri di depan Xu Weiwei, menatapnya dari atas.
“Tidak mau!” Xu Weiwei tetap membuang muka, bibirnya manyun, seolah Zhuo Yixuan tak ada di hadapannya.
Zhuo Yixuan tak berkata lagi. Ia melangkah cepat, sedikit membungkuk, lalu mengangkat Xu Weiwei dari pinggang. Semua orang yang melihat, termasuk Wei Xin, terbelalak—aksi Zhuo Yixuan ini pasti akan jadi bahan gosip besok.
“Kau masih bengong di situ? Cepat jalankan mobil!” seru Zhuo Yixuan pada Wei Xin, yang masih terpaku melihat kejadian itu.
Wajah Xu Weiwei merona, tak menyangka Zhuo Yixuan akan mengangkatnya begitu saja, sampai-sampai ia lupa melawan.
Begitu pintu mobil dibuka, Zhuo Yixuan langsung memasukkan Xu Weiwei ke dalam, lalu duduk di sebelahnya.
“Kau mau apa? Jangan-jangan kau tergoda oleh kecantikanku dan mau berbuat macam-macam di dalam mobil…”
“Tutup mulutmu!” seru Zhuo Yixuan keras, ia tahu betul Xu Weiwei bisa saja mengatakan hal-hal yang lebih gila lagi.
Xu Weiwei pun paham, semua yang Wei Xin lakukan pasti atas perintah Zhuo Yixuan. Ia menatap Zhuo Yixuan dengan penuh protes, “Zhuo Yixuan, katakan sejujurnya, proyek kakakku kau yang rebut, kan?”
Sekilas keraguan melintas di wajah Zhuo Yixuan, lalu ia menyeringai nakal, mengangkat tangan dan mencubit dagu Xu Weiwei, “Tebakanmu benar. Aku yang merebutnya.”
“Kau benar-benar keterlaluan!” Xu Weiwei gemetar karena marah. Ia tahu, bagi Zhuo Yixuan, proyek kakaknya sama sekali tidak penting. Alasannya merebut proyek itu pasti hanya untuk menentangnya.
Xu Weiwei segera membuka pintu, melepaskan tangan Zhuo Yixuan yang menahannya, lalu kembali ke kantor tanpa menoleh.
Wei Xin yang melihat semua itu hanya bisa menghela napas, lalu bertanya pelan, “Mengapa kau mengakui sesuatu yang tak ada hubungannya denganmu? Sekarang Xu Weiwei pasti akan sangat membencimu.”
“Lalu kenapa? Apa yang bisa dilakukan gadis kecil itu padaku?” Xu Weiwei melepaskan tangan Zhuo Yixuan dengan kasar membuat Zhuo Yixuan naik pitam. Kapan selama ini ia pernah diperlakukan seperti itu? “Cari tahu, siapa sebenarnya yang merebut proyek Xu Borong?”
Wei Xin kembali menggeleng, ia sangat memahami sifat atasannya yang satu ini—mulutnya tajam, tapi hatinya lembut. Meskipun tak mau mengalah secara terang-terangan, sebenarnya ia sudah berencana menyelidiki kebenaran demi Xu Weiwei.
“Aku sudah menyelidikinya. Yang merebut proyek Xu Borong itu Qi Haoyu.”
“Apa?” Zhuo Yixuan tampak terkejut, tak percaya dan meminta konfirmasi, “Kau yakin Qi Haoyu? Pacar Xu Weiwei itu?”
Wei Xin mengangguk mantap, tak berkata apa-apa lagi. Dari kaca spion, ia jelas melihat kilatan kemarahan di wajah Zhuo Yixuan.