Bab Ketujuh Puluh Delapan: Sementara Lolos dari Kesulitan
Setelah Xu Weiwei selesai memaparkan seluruh rencananya, para pemegang saham yang tadinya keberatan pun akhirnya menerima dan tidak lagi memandang rendah gadis muda yang berdiri di atas panggung itu.
“Laporan kuartal sudah selesai saya paparkan, terima kasih atas perhatian semuanya.” Ia kembali membungkuk, namun kali ini ia tampak jauh lebih tenang dan santai dibandingkan sebelumnya.
Xu Weiwei kembali ke tempat duduknya, dan tepat di seberang sana duduk Zhuo Yixuan. Meski pria itu sejak tadi tidak berkata sepatah kata pun dan tidak mencari-cari kesalahannya, Xu Weiwei tahu dengan pasti bahwa ia sedang marah.
Selanjutnya, ayah Zhuo yang berbicara. Ekspresinya tidak lagi sekaku saat pertemuan pertama, tatapannya pada Xu Weiwei juga lebih tenang, namun nada bicaranya tetap tegas, “Penjelasanmu memang bagus, alurnya jelas dan bahasanya singkat, tapi sikapmu yang tidak menyiapkan presentasi sebelumnya sangatlah tidak bisa diterima. Aku tidak bisa memakluminya.”
Mendengar itu, Xu Weiwei yang baru saja menenangkan dirinya langsung kembali tegang. Ia hanya bisa menunduk dan mengakui kesalahannya, “Saya mengerti, itu memang kelalaian saya...”
Belum sempat ia selesai bicara, ayah Zhuo kembali berkata, “Untungnya, aku masih bisa menangkap maksudmu. Tapi, hal seperti ini tidak boleh terulang lagi. Selanjutnya, aku ingin melihat proposal nyata yang membuktikan proyek ini benar-benar bisa dijalankan, paham?”
“Paham!” Xu Weiwei langsung mengangguk. Ia sempat mengira ayah Zhuo akan menggagalkan rencana itu hanya karena masalah presentasi, untung saja tidak...
“Baiklah, rapat saya tutup.” Para pemegang saham pun keluar dari ruang rapat satu per satu.
Namun Zhuo Yixuan yang masih duduk di tempatnya hanya menatap Xu Weiwei dengan ekspresi rumit, lalu berkata dingin, “Sekarang ikut aku ke kantor.”
Mendengar suara itu, Xu Weiwei merasakan bulu kuduknya berdiri. Tapi ia tahu ini memang kesalahannya sendiri, dan ia harus bertanggung jawab. Maka dengan menggenggam laptop, ia mengikuti Zhuo Yixuan dengan hati-hati.
“Bagaimana cara kamu mempersiapkan ini? Pagi tadi kamu sudah janji semuanya siap, kan? Presentasinya ke mana? Dimakan sama kamu?” Emosi Zhuo Yixuan yang sejak tadi ia tahan, akhirnya meledak begitu mereka masuk ke kantor.
Tatapan matanya yang dingin membuat Xu Weiwei merasa benar-benar tertekan.
“Bukan begitu...” Xu Weiwei merasa semakin sedih. Ia meletakkan laptop yang sedari tadi dipeluknya ke atas meja dan mulai menangis tanpa daya.
“Kenapa kamu malah menangis? Kamu sendiri yang salah, masih saja menangis?” Walau Zhuo Yixuan masih marah, nada bicaranya jadi lebih lembut saat mendengar tangisan Xu Weiwei.
“Sebenarnya presentasi itu sudah lama aku siapkan, tapi entah kenapa waktu pagi tadi sampai di kantor, filenya hilang dan laptopku rusak, tidak bisa dinyalakan...” Xu Weiwei lebih sedih dari siapa pun atas rusaknya laptop itu. Itu sudah seperti nyawanya sendiri, begitu banyak dokumen penting yang ia kumpulkan dengan susah payah!
“Aku bisa jadi saksi. Waktu itu aku ke sana untuk menanyakan kesiapan Nona Xu, dan memang laptopnya sudah rusak. Jelas sekali Nona Xu juga tidak tahu sebelumnya,” Wei Xin yang tidak tega melihatnya pun ikut membela Xu Weiwei, dan Xu Weiwei menatapnya penuh rasa terima kasih.
Mendengar penjelasan mereka, amarah Zhuo Yixuan pun perlahan mereda. Ia sempat khawatir selama ini salah menilai Xu Weiwei hingga menimbulkan kekacauan hari ini.
Namun ia segera menyadari ada masalah lain. Ia bertanya dengan wajah serius, “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku juga tidak tahu. Padahal tadi malam laptop itu masih bisa dipakai, baru pagi tadi tiba-tiba tidak bisa dinyalakan...” Xu Weiwei menggeleng, kebingungan. Ia mengeluarkan laptopnya, tetap saja tidak tahu harus berbuat apa.
“Biar aku lihat.” Tanpa menunggu persetujuan, Zhuo Yixuan langsung mengambil laptop itu.
Ia memeriksa bagian luar laptop, melihat sisa air yang menempel pada keyboard dan bodi, sementara bagian lain tidak tampak rusak. Dengan nada serius ia berkata, “Sepertinya ini kena air.”
Kemudian, Zhuo Yixuan mengambil obeng dan beberapa alat kecil dari laci mejanya, lalu langsung membuka motherboard laptop itu.
“Kamu... kamu bisa memperbaiki laptop?” Xu Weiwei menatapnya heran. Tidak menyangka seorang direktur utama perusahaan bisa memperbaiki laptop.
Tapi kalau memang laptopnya kemasukan air, pasti sulit diperbaiki. Ia pun tidak berharap banyak.
Di bawah tatapan terkejut Xu Weiwei, Zhuo Yixuan dengan wajah datar memeriksa bagian-bagian dalam laptop, lalu memasangnya kembali.
“Coba nyalakan.” Nada bicaranya dingin, tapi ada sedikit rasa bangga di matanya.
Xu Weiwei, setengah ragu, menekan tombol power. Tiba-tiba layar menyala dan laptop benar-benar hidup!
“Astaga! Kamu benar-benar bisa memperbaiki laptop?” Xu Weiwei berteriak kaget, wajahnya yang murung kini berubah jadi sumringah.
“Itu cuma keahlian kecil, tidak perlu dibesar-besarkan,” jawab Zhuo Yixuan sambil melambaikan tangan, seolah tidak peduli, meski dalam hati ia cukup puas dengan kekaguman Xu Weiwei.
Tentu saja ia tidak akan memberitahu, sejak kecil ia sudah biasa membongkar pasang perangkat elektronik, jadi memperbaiki laptop bukan hal yang sulit baginya.
“Baru dipuji sedikit sudah bangga, ya. Apa istilahnya itu, sedikit sinar matahari saja kamu sudah bersinar terang!” Xu Weiwei yang kini senang mulai menggoda Zhuo Yixuan.
Zhuo Yixuan hanya menggeleng pasrah. Perempuan bodoh ini kalau tidak menggoda dirinya sehari saja, pasti rasanya ada yang kurang.
“Lihat, laptopnya normal lagi!” Xu Weiwei benar-benar kagum. Ia pikir laptop itu sudah tidak bisa dipakai lagi, ternyata setelah disentuh sebentar oleh Zhuo Yixuan langsung pulih.
“Sekarang laptop ini pasti jadi lebih berharga, soalnya pernah diperbaiki langsung olehku!” Zhuo Yixuan mulai menyombongkan diri.
“Tentu saja, siapa yang bisa menandingi kehebatanmu,” Xu Weiwei pun memujinya dengan tulus.
Wei Xin yang mendengar suara tawa ceria dari direktur utamanya itu sempat mengira ia salah dengar. Tapi melihat Xu Weiwei yang tampak bahagia, ia akhirnya mengerti. Diam-diam, ia mundur dari ruangan, ingin memberi mereka waktu berdua.
Setelah laptop menyala, hal pertama yang dilakukan Xu Weiwei adalah memeriksa apakah file-nya masih ada. Namun saat ia membuka folder penyimpanan, semua data dan dokumen penting sudah terhapus.
“Akhirnya tetap gagal... File-nya memang tidak tersimpan.” Ia berkata dengan nada kecewa, namun tetap berterima kasih pada Zhuo Yixuan yang telah memperbaiki laptopnya.