Bab 135: Sangat Gigih dan Tegas!
Gerakannya terus melesat semakin cepat. Tebasan pedang yang sangat lihai terus ia lancarkan ke arah depan. Tak butuh waktu lama, baju zirah dua kesatria manusia lainnya terkoyak seketika. Pada saat ini, Yu Ziyu seorang diri mampu menahan tujuh manusia luar biasa. Di antara mereka, bahkan termasuk Keisha yang berada di ambang tingkat ketiga.
"Bagaimana mungkin ini terjadi?"
Hati Keisha sudah terguncang hebat hingga ke titik yang tak terbayangkan. Belum genap sebulan mereka tidak bertemu, peningkatan kekuatan Yu Ziyu yang begitu pesat membuatnya kesulitan untuk mengimbangi. Padahal, saat terakhir kali bertemu, mereka masih bisa bertarung dengan kekuatan yang setara.
Setelah mendominasi situasi, Yu Ziyu tidak ragu sedikit pun, justru ia melancarkan serangan yang lebih ganas. Ia dengan sengaja menghindari pusat formasi tempat Keisha berada, lalu beralih menyerang enam kesatria manusia lainnya.
Sring! Sring!
Deretan energi pedang yang memecah udara melesat liar ke arah para kesatria manusia di sekitarnya. Meski Yu Ziyu melancarkan serangan berskala luas, berkat keahlian sebagai pendekar pedang sempurna, daya hancur energi pedangnya meningkat berkali-kali lipat. Serangan itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh para kesatria manusia yang baru saja menginjak tingkat kedua luar biasa tersebut.
Srak!
Suara kain yang terkoyak terus terdengar. Tak lama kemudian, baju zirah di tubuh beberapa kesatria manusia kembali hancur berantakan. Bahkan, kulit mereka mulai tergores oleh sabetan pedang. Darah merah segar merembes keluar dan menetes ke atas tanah. Efek pertahanan dari apa yang disebut Formasi Matahari pun kian melemah.
Akhirnya, seorang kesatria pria berbaju zirah hitam merasa lengannya pegal dan gagal melancarkan serangan pedang yang menjadi bagian dari formasi tersebut.
"Kesempatan bagus!"
Hati Yu Ziyu bersorak. Pedang tulang di tangannya menusuk ke depan dengan sangat licin. Hanya butuh satu detik bagi pedang itu untuk menembus kepala sang kesatria pria, dan formasi pedang yang mereka agungkan itu akan hancur lebur.
Klang!
Di saat genting, Keisha yang memegang tombak roh darah bergerak cepat ke samping untuk menangkis. Kedua senjata itu beradu dengan dentuman keras, suara dengungan logam bergema di seluruh area. Namun, para kesatria manusia belum sempat menghela napas lega saat melihat Yu Ziyu yang terbungkus jubah hitam itu tiba-tiba menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Gawat!"
Hati Keisha mencelos.
Bum!
Kekuatan jiwa yang pekat di dalam tubuh Yu Ziyu meledak seketika.
"Teknik Rahasia Tulang: Tarian Duri!"
Sring! Sring!
Suara gesekan udara terdengar bertubi-tubi. Satu demi satu duri tulang raksasa melesat naik dari permukaan tanah. Dalam waktu yang sangat singkat, duri-duri itu menutupi tubuh semua kesatria manusia di sana, bahkan menembus tubuh mereka sepenuhnya. Keisha, yang tadi berusaha menyelamatkan kesatria pria tersebut, membiarkan pertahanannya terbuka lebar sehingga tubuhnya pun tertusuk oleh beberapa duri tulang. Darah merah segar mengalir perlahan di sepanjang permukaan tulang putih. Suasana di tempat itu menjadi sangat tragis.
"Membawa orang-orang lemah ini hanya akan menyeret ritme pertarunganmu," ucap Yu Ziyu dengan dingin. Jika bukan karena Keisha berusaha menyelamatkan pria itu, bahkan Yu Ziyu sendiri akan sulit menaklukkan mereka dalam waktu singkat.
"Tuan Keisha, ini semua salahku..." sang kesatria pria yang berhasil diselamatkan tampak pucat, ia terbatuk mengeluarkan darah sambil berbicara. Hatinya dipenuhi rasa sakit dan penyesalan.
"Jangan berpikir macam-macam, makhluk mayat hidup ini memang terlalu licik," ujar Keisha perlahan sembari terus mengalirkan energi dalam tubuhnya untuk memulihkan luka.
Yu Ziyu tentu menyadari hal itu, namun ia sama sekali tidak peduli. Terlepas dari betapa istimewanya energi dalam dunia kesatria, mustahil bagi mereka untuk memulihkan luka separah itu dalam waktu singkat. Tak lama kemudian, tanah mulai bergetar hebat. Ribuan prajurit tengkorak segera mengepung lokasi pertempuran dari segala arah.
Melihat pemandangan itu, Keisha menutup matanya dengan putus asa. Kini, pasukan kesatria mereka benar-benar tidak memiliki harapan untuk melarikan diri. Ia bahkan berhenti mengalirkan energi dalam tubuhnya; memulihkan diri pun tak ada gunanya lagi.
Yu Ziyu menatap ke depan, melihat Keisha yang mengenakan baju zirah merah; meski berada dalam keputusasaan, matanya tetap memancarkan keteguhan. Yu Ziyu melangkah maju dan melepas helm besi dari kepala Keisha. Seketika, rambut kuning yang tergerai bak air terjun jatuh terurai. Tatapan mata gadis itu tampak hampa, dipadukan dengan wajah lonjong yang sangat elok, membuat Yu Ziyu tertegun sesaat karena terpana.
Meski telah kalah, Keisha masih mencengkeram erat tombak roh darah di tangannya. Melalui baju zirah merah yang robek, Yu Ziyu bisa melihat dengan jelas pakaian bangsawan yang sangat halus dikenakan oleh Keisha di baliknya. Terlihat jelas bahwa status wanita ini di dunia kesatria tidaklah rendah. Di balik zirah yang rusak, kulitnya yang putih dan bening tampak jelas.
"Sudah puas melihatnya? Bunuh saja kalau mau!"
Keisha yang bermata dingin menoleh. Sepasang matanya yang berwarna hijau redup menatap tajam ke arah Yu Ziyu tanpa secercah pun rasa takut.
"Sungguh keberanian yang luar biasa dalam menghadapi kematian," puji Yu Ziyu sambil mengangguk. Meski berada di ambang kehancuran, Keisha tidak menyerah pada nasib, dan keputusasaan di matanya perlahan memudar. Seolah-olah dialah yang memenangkan pertarungan. Tubuh wanita itu sangat ramping, dengan bagian dada yang dibalut kain putih tebal, menyembunyikan lekuk tubuhnya.
"Tenang saja, aku tidak pernah bilang ingin membunuhmu," ucap Yu Ziyu dengan nada tertarik, ia tak kuasa menahan diri untuk tidak menatap Keisha dari atas ke bawah. Faktanya, meskipun Keisha sangat kuat, ia hanyalah seorang gadis kesatria. Sifatnya yang teguh terlihat jelas dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Kau hanyalah sesosok mayat hidup, apa yang bisa kau lakukan padaku? Paling-paling hanya kematian," jawab Keisha dengan tegas saat melihat sorot mata aneh muncul dari mata Yu Ziyu.
"Bagaimana kalau kau ikut aku ke Tanah Pemakaman? Dengan kekuatanmu, pasti akan ada banyak hal besar yang bisa kau lakukan di sana," bujuk Yu Ziyu mencoba menawarkan.
"Mustahil!" tolak Keisha tanpa ragu, matanya yang hijau redup justru semakin tegas.
Mendengar itu, Yu Ziyu menghela napas dalam hati. Sifat wanita ini terlalu keras kepala, sepertinya tidak bisa ditaklukkan dengan kontrak tuan dan hamba. Jika kontrak itu berbalik menyerang, bisa-bisa nyawanya sendiri yang melayang. Yu Ziyu menggelengkan kepala dengan menyesal. Tanah Pemakaman saat ini sangat membutuhkan tambahan pasukan yang kuat. Jika Keisha bisa berada di bawah komandonya, ia tidak perlu lagi khawatir Lembah Mayat Hidup akan direbut oleh pihak lain. Sayangnya, gadis ini jelas bukan tipe orang yang mudah tunduk.
Tanpa ragu lagi, Yu Ziyu segera memerintahkan para prajurit tengkorak untuk mengawal kelompok kesatria manusia itu kembali ke dalam benteng.