Bab 83: Sang Puncak!
Bahkan tanah pun sampai berlubang dalam akibat benturan makhluk itu.
“Apa… yang sebenarnya terjadi ini?”
Kepala regu ksatria yang baru saja dibanting hingga limbung memandang kosong ke depan. Sampai sekarang pun pikirannya masih belum pulih dari keterkejutan.
Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar. Ike dan yang lain yang baru tiba di lokasi pun tak kalah tercengang.
“Memang pantas disebut Sang Pencapai Sempurna. Makhluk ini sudah cukup kuat untuk dengan mudah mengalahkan para petarung tingkat dua luar biasa biasa!” ujar Juhong setengah berbisik, perasaan gentar memenuhi hatinya.
Sang Pencapai Sempurna—itulah sebutan khusus di dunia yang luas ini. Setiap makhluk dari ras apa pun, selama ia bisa mencapai puncak kekuatan dalam satu tingkat, bahkan mampu bertarung menyaingi tingkat di atasnya, maka ia akan menyandang gelar itu.
Sebelumnya, Yu Ziyu dengan kekuatan tingkat satu mampu menaklukkan Juhong yang sudah berada di tingkat dua. Karena itu, ia sudah diakui sebagai Sang Pencapai Sempurna oleh semua orang.
Kini, Yu Ziyu yang baru saja menembus ke tingkat dua kembali menumbangkan seorang ksatria manusia tingkat dua kawakan. Ini semakin membuktikan status dan kekuatan Yu Ziyu sebagai Sang Pencapai Sempurna.
“Makhluk ini menakutkan sekali, semoga saja dia tidak menaruh dendam padaku!” Kerangka berwajah anjing itu menundukkan kepalanya, kegelisahan merayap di hatinya.
Sekarang ia sudah bukan tandingan Yu Ziyu lagi. Ia sangat khawatir Yu Ziyu akan berbalik mencari masalah padanya.
Jika Yu Ziyu memaksa Ike untuk mengusirnya dari tim tempur, nasibnya jelas bisa ditebak. Di Tanah Pemakaman, kekuatan adalah segalanya, menentukan kedudukan dan hak berbicara.
“Makhluk ini… bukan hanya sangat berbakat dalam sihir, kemampuan bertarung jarak dekatnya pun luar biasa!” Kerangka penyihir berjubah hitam itu matanya juga berkilat-kilat.
Hanya Ike yang menatap Yu Ziyu di depannya dengan sorot serius.
“Setelah kekuatannya stabil, bocah ini tampaknya jadi lebih hebat dari sebelumnya.”
“Memang, pandangan Tuan Penguasa tak pernah meleset. Bocah ini sama sekali berbeda dengan kerangka lainnya!”
“Jangan-jangan, Tuan Penguasa memang sudah melihat garis keturunan evolusi khusus yang tersembunyi di dalam tulang bocah ini?”
Melihat kilauan cahaya yang terus berpendar dari dalam tulang Yu Ziyu, hati Ike bahkan diliputi rasa cemas yang samar-samar.
Yu Ziyu setiap hari bertambah kuat dengan kecepatan luar biasa, sampai-sampai hampir menyusul dirinya sebagai ketua tim.
Hal itu membuatnya merasa posisi ketua tim yang dipegangnya pun terancam.
…
Yu Ziyu sendiri tak tahu betapa rumit perasaan orang-orang di sekitarnya. Setelah melayangkan satu pukulan yang membuat kepala regu ksatria manusia itu terlempar jauh, ia hanya menggoyangkan tubuh tulangnya pelan.
Krak krak krak!
Bunyi tulang-tulang yang saling berbenturan terdengar nyaring.
“Huh!”
“Nampaknya aku harus serius mulai sekarang!”
Yu Ziyu menghela napas, menatap kepala regu ksatria yang tiba-tiba berdiri kembali, dan langsung mengaktifkan kemampuan Pendekar Sempurna.
Ngung!
Sebuah energi tak kasatmata muncul di udara.
Sesaat kemudian, muncullah sesosok jiwa samar.
Yu Ziyu mengangkat kepala, terkejut di dalam hati.
Ia baru menyadari, setelah mengaktifkan kemampuan itu, jiwa yang muncul kali ini tidaklah seterang sebelumnya. Ia bahkan samar-samar bisa melihat posturnya yang sangat kekar.
Tak lama, jiwa itu pun kembali melesat masuk ke dalam tubuh Yu Ziyu.
Saat itu juga, tubuh Yu Ziyu menegak lurus seketika.
Di bagian tulang belakang, cahaya terang membuncah.
Zzzz!
Energi pedang yang hampir nyata menyelubungi tubuh Yu Ziyu.
Pedang panjang dari tulang di tangannya pun bergetar terus, berdengung keras.
Yu Ziyu bahkan merasakan kegembiraan yang membuncah dari dalamnya.
Namun kini, ia tak punya waktu untuk terkejut.
Segera, kekuatan magis dalam tubuhnya meluap dahsyat ke luar.
Energi hitam pekat itu tidak lenyap, malah membelit, membungkus tubuh Yu Ziyu makin rapat.
Akhirnya, energi tak berujung itu membentuk satu set zirah hitam legam di permukaan tubuh Yu Ziyu.
Namun demikian, zirah hitam ini tetap tak mampu menutupi pancaran cahaya putih dari dalam tulang Yu Ziyu.
Dari kejauhan, zirah hitam di tubuh Yu Ziyu tampak seperti hamparan langit malam.
Sementara cahaya di dalam tulangnya, bagai bintang-bintang di bawah langit malam.
Aura aneh dan misterius menerpa, sampai-sampai Ike dan yang lain di kejauhan tercekat tanpa suara.
Pedang panjang di tangan Yu Ziyu pun diliputi energi hitam yang sama.
Saat ini, Yu Ziyu benar-benar seperti seorang ksatria hitam yang sangat misterius, melangkah maju dengan penuh keyakinan.
Cing!
Pedang di tangan Yu Ziyu melesat ke depan.
Dentang logam menggema, kepala regu ksatria segera mengangkat tombaknya.
Namun berikutnya, terdengar bunyi langkah mundur berat.
Tubuh kepala regu ksatria itu terpaksa mundur beberapa langkah.
“Tak mungkin…!”
Wajah kepala regu ksatria itu langsung berubah.
Untuk pertama kalinya Yu Ziyu membuatnya mundur, ia mengira itu karena dirinya lengah.
Namun kini, saat ia sudah waspada penuh, Yu Ziyu tetap saja mampu mengusirnya dengan mudah secara frontal.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dalam hatinya, kepala regu ksatria itu mulai meragukan kekuatannya sendiri.
Sret! Sret!
Suara angin terbelah terdengar bertubi-tubi.
Pedang panjang Yu Ziyu bergerak tanpa henti, menikam kepala regu ksatria dari sudut-sudut yang makin sulit ditebak.
Sebentar saja, tubuh lawannya pun penuh luka.
Zirah hitam yang membalut tubuhnya pun hancur menjadi potongan besi rombeng.
Srek!
Akhirnya, suara pedang mengaung tajam.
Kepala regu ksatria itu pun dengan mudah dipenggal oleh Yu Ziyu hanya dengan satu ayunan pedang.
Sunyi.
Tempat itu seolah dilanda kematian.
“Tak mungkin…”
Bahkan tubuh Ike pun menegang seketika.
Padahal, menghadapi kepala regu ksatria manusia tingkat dua itu, Ike sendiri belum tentu bisa menaklukkannya semudah Yu Ziyu.
“Jangan-jangan Yu Ziyu sekarang sudah mampu menyaingi kekuatanku?”
Pikiran itu tiba-tiba muncul di benaknya.
Anggota tim tempur lainnya sudah benar-benar mati rasa.
Setelah itu, Yu Ziyu pun kembali mempertontonkan pembantaian indah di depan mereka.
Semua ksatria manusia di sana berubah menjadi potongan tubuh yang berjatuhan di tanah.
“Ike, sepertinya kalian harus repot-repot pergi lagi,” kata Yu Ziyu sambil tersenyum, merapikan pedangnya.
“Untung kami datang. Kalau tidak, mana kami tahu kau sudah sehebat ini,” ujar Ike dengan nada penuh kekaguman.
Anggota lain hanya menatap kosong, bahkan mereka bingung harus bicara apa dengan Yu Ziyu.
Bagaimanapun, sekarang Yu Ziyu sudah cukup kuat untuk mengalahkan mereka semua dengan mudah.
Namun mereka juga adalah anggota lama di tim.
Masa iya, mereka harus langsung memuja-muja Yu Ziyu tanpa malu sama sekali?