Bab 35 Akulah Pria Untukmu
Halaman 1 dari 3
Orang yang datang itu ternyata Shen Jingci!
Narapidana itu mengamuk seperti orang gila dan bergulat dengan beruang hitam. Namun, selain memiliki kekuatan yang luar biasa, beruang itu seolah-olah juga telah memperoleh kecerdikan. Ia bahkan belajar menindas yang lemah dan menghindari yang kuat.
Beruang itu tidak terus mengejar narapidana hukuman mati yang ganas tersebut. Sebaliknya, ia justru menerjang ke arah Lin Wanyan dan yang lainnya.
Melihat beruang hitam itu semakin mendekat, Shen Jingci menggenggam tangannya dan berlari sekuat tenaga. Setelah berlari beberapa saat, tenaga Lin Wanyan hampir terkuras habis, tetapi beruang hitam itu masih terus membuntuti mereka tanpa henti.
Pada saat yang sama, di atas panggung tinggi, Pangeran Jin terperanjat. “Kakanda Ketiga, mengapa masih belum berhenti? Itu Shen Jingci! Apakah kau ingin mempertaruhkan nyawamu demi dia?”
Pangeran Heng benar-benar panik. “Hentikan! Cepat buka pintu gerbangnya!”
Namun, semakin terburu-buru seseorang, semakin mudah kesalahan terjadi. Ketika sipir membawa kunci untuk membuka pintu gerbang, mereka mendapati lubang kuncinya telah disumbat seseorang sejak awal. Orang-orang di bawah sana mungkin hanya bisa bertahan hidup jika berhasil membunuh beruang itu.
Dalam kekacauan tersebut, Lin Wanyan terjatuh ke tanah. Tepat ketika ia hampir sepenuhnya putus asa, beruang hitam itu justru semakin beringas dan bersemangat. Cakar tajamnya hanya berjarak sejengkal dari tubuh Lin Wanyan.
Lin Wanyan ketakutan hingga kehilangan akal. Saat ia hampir memejamkan mata dalam keputusasaan, tiba-tiba terdengar lolongan memilukan yang membelah angkasa di dekat telinganya.
Ia buru-buru mengangkat pandangan. Dalam sekejap, ia melihat makhluk raksasa itu roboh dengan dentuman keras. Sebilah pedang besar yang tajam menancap tepat di tenggorokannya!
Di belakang beruang hitam itu berdiri narapidana bermasker perak. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, sementara sosoknya memancarkan ketenangan yang dingin, sikap acuh, keterasingan, dan keganasan. Ia tampak seperti dewa pembantai yang baru saja kembali dari neraka!
Mengapa pria itu terasa begitu dikenalnya?
Rasa lega memenuhi dadanya, dan ia mengembuskan napas panjang.
Tadinya ia telah berada di ambang kematian, tetapi tiba-tiba berhasil lolos dari maut. Gejolak yang begitu dahsyat itu terlalu berat bagi tubuhnya yang lemah. Pandangannya menghitam, lalu ia pun pingsan.
***
Malam tiba. Keributan terdengar di Istana Changyang. Pasukan Pengawal Kekaisaran Utara tiba-tiba mengepung seluruh istana persinggahan. Cahaya dingin memantul dari zirah mereka, dan setiap prajurit berdiri dalam kesiagaan penuh. Gerbang istana hanya mengizinkan orang keluar, tidak seorang pun boleh masuk.
Liu Yue’e berjaga di depan gerbang. Namun, ia tak kunjung melihat sosok Lin Wanyan. Hatinya terbakar kecemasan. Ketika menyadari tak ada lagi seorang pun yang keluar dari dalam, matanya hampir saja berlinang.
Fu Shixuan menepuk tangannya, lalu bertanya kepada panglima yang menjaga gerbang, “Mohon bertanya, Jenderal, sebenarnya apa yang terjadi di dalam?”
Halaman 2 dari 3
“Konon, seorang bangsawan tewas diterkam beruang. Ibu Suri murka dan sedang melakukan penyelidikan menyeluruh.”
“Beruang?” Fu Shixuan pernah mendengar tentang kemewahan dan kegilaan kaum bangsawan. “Siapakah bangsawan yang menjadi korban?”
“Hal itu belum diketahui.”
Pada saat itu, Zhao Miaoyuan turun dari sebuah kereta kayu nanmu. Ia membungkuk hormat kepada mereka, lalu berkata sambil tersenyum manis, “Bibi, apakah sedang menunggu Adik Sepupu Wanyan? Hari ini aku melihatnya di tempat perburuan. Kulihat ia tergesa-gesa menuju arena beruang. Mengapa sampai sekarang ia belum keluar?”
Liu Yue’e memang tidak mengetahui bagaimana Lin Hong dibawa pergi, tetapi setelah kejadian sebelumnya, ia benar-benar tidak menyukai Zhao Miaoyuan. Ia mendengus dingin. “Sudah selarut ini, Nona Zhao masih belum pulang. Tidakkah kau khawatir perjalananmu tidak aman?”
Zhao Miaoyuan membelai hiasan mutiara di sanggulnya. Suaranya sangat dingin dan sinis. “Para pengawal dari Longyou sangat tangguh. Mana mungkin kami takut pada pencuri kecil biasa? Namun, kudengar binatang buas di arena beruang itu sangat ganas. Hari ini saja, kabarnya beberapa perempuan telah tewas diterkam!”
Kata-katanya yang penuh sindiran seketika menyulut amarah Liu Yue’e. Ia begitu marah hingga hampir memaki, tetapi Fu Shixuan buru-buru mencegahnya. Ia kemudian melirik Zhao Miaoyuan dengan dingin, seolah memperingatkan bahwa jika perempuan itu terus mencari perkara, ia takkan bersikap lunak.
Zhao Miaoyuan menaiki keretanya dengan santai. Ia bahkan masih bersenandung kecil. Kini setelah masalah bernama Lin Wanyan tersingkir, akhirnya ia dapat tidur nyenyak tanpa rasa cemas.
***
Lin Wanyan perlahan terbangun. Ia mencium aroma harum yang lembut.
Ketika melihat tirai ranjang berwarna merah delima dengan motif bunga seroja, ia seketika tertegun. Di manakah dirinya?
Ia kemudian melihat pakaiannya. Jubah yang sebelumnya penuh noda telah berganti menjadi pakaian musim semi yang tipis. Saat itu, seorang pelayan menyingkap tirai dan masuk dari luar.
“Nona Lin, Anda sudah sadar?”
Lin Wanyan merasa bingung. Ingatannya perlahan kembali.
Ia ingat beruang hitam menerjang ke arahnya. Narapidana itulah yang menyelamatkannya. Setelah itu... setelah itu ia pingsan.
“Di mana aku?”
“Di Kediaman Qingwu,” jawab pelayan itu dengan hormat.
“Di mana Shen Jingci?”
Sebuah suara yang sangat sinis terdengar dari balik sekat.
“Hmph, ternyata kau benar-benar tidak bisa melupakannya!”
Pelayan itu diam-diam mundur.
Halaman 3 dari 3
Seluruh tubuh Lin Wanyan terasa lemas dan nyeri. Ia sangat kelelahan, pikirannya masih kacau, tetapi ia dapat mengenali bahwa orang yang datang itu adalah Fu Yian, bukan Shen Jingci.
Fu Yian melangkah masuk dengan jubah brokat hitam pekat. Aroma obat segera menyeruak dari tubuhnya. Ia mengangkat ujung jubah, lalu duduk di tepi ranjang dan mulai menyindirnya dengan nada dingin.
“Aku yang datang. Kau kecewa?”
Lin Wanyan memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak ingin melihatnya, apalagi bertengkar dengannya.
Di bawah cahaya lilin yang bergoyang, setiap gerak-geriknya tertangkap jelas oleh Fu Yian. Tentu saja, pria itu juga tidak melewatkan kilatan keterasingan dan kebencian yang melintas di matanya.
Fu Yian mengangkat tangan dan mengetukkan jarinya ke tepi ranjang dengan irama tak beraturan. Ia tampak terkendali dan tenang, tetapi hawa dingin di sudut bibirnya memancarkan kesuraman yang tak berujung.
Lin Wanyan memahami tabiatnya. Semakin tenang permukaan airnya, semakin dahsyat badai yang akan ditimbulkannya.
Tiba-tiba, Fu Yian membungkuk dan mencengkeram dagunya kuat-kuat, memaksanya menatap mata pria itu. Lin Wanyan secara naluriah berusaha menghindar, tetapi aura sang pria terlalu kuat. Tubuhnya yang kokoh menaungi tubuh Lin Wanyan, menekannya hingga hampir tak dapat bernapas.
“Kau sudah jatuh cinta kepadanya?” Suaranya nyaris berupa raungan.
Bahu Lin Wanyan bergetar halus. Desakan itu membuatnya hampir runtuh, dan seketika air matanya tumpah.
“Fu Yian, kau bajingan!”
Sambil menangis, ia mengangkat tangan dan berulang kali memukuli dada kokoh pria itu.
Pria itu membiarkannya memukul dan mencakarnya sesuka hati. Namun, seolah masih belum puas, Lin Wanyan hampir kehilangan akal. Ia bahkan menarik kerah bajunya dan menggigit bahunya dengan keras. Titik-titik darah merah perlahan merembes keluar.
Fu Yian mendesis. Ia segera menangkap pergelangan tangannya dan mendekapnya erat dalam pelukan.
“Lin Wanyan, akulah pria milikmu!” tegasnya dengan penuh amarah.
Bulu mata perempuan itu yang lentik bergetar lembut, masih dihiasi butiran air mata. Bibir merah mudanya sedikit terbuka, memancarkan pesona dan kelembutan, bagaikan bunga anggun yang dapat dipetik sesuka hati.
Pria itu tak mampu menahan diri. Ia menunduk dan langsung mengisap daun telinganya yang lembut dan berkilau, sementara tangannya melepaskan ikat pinggangnya sendiri.
Tak lama kemudian, ia menanggalkan pakaian Lin Wanyan dalam beberapa gerakan dan melepaskan kain penutup dadanya. Setelah itu, ia mendekap tubuhnya yang telanjang erat-erat. Kulitnya yang seputih batu giok menyentuh dada kokoh pria itu dan seketika gemetar tanpa henti, seolah nalurinya ingin melebur menjadi satu.
Ciuman pria itu segera turun seperti badai yang mengamuk. Sementara itu, Lin Wanyan bagaikan perahu kecil yang terombang-ambing, lalu tenggelam di tengah lautan yang bergelora...