Bab 14: Menuju Kota Kecil Lami
Misi Utama Kedua: Di Kota Kecil Lami tampaknya telah terjadi serangan manusia oleh manusia serigala. Setelah polisi setempat memastikan mereka tak sanggup menangani kasus ini, sebuah misi pun diterbitkan oleh Serikat Pengusir Setan, dan kebetulan kau punya waktu untuk menyelesaikannya. Petunjuk: Menyelesaikan misi utama ini akan sangat meningkatkan penilaian akhir; kegagalan berarti kegagalan ujian.
Setelah Smith pergi, Minazuki Hoshi pun harus berangkat lagi menuju Kota Kecil Lami. Kali ini, ia tak punya kendaraan, tubuhnya kecil dan tak bisa menyetir, jadi ia hanya bisa mencari seekor kuda yang katanya sangat jinak, lalu menungganginya sepanjang jalan menuju Lami.
Setibanya di kantor polisi Lami dan setelah menunjukkan surat tugas, Kepala Polisi Johan awalnya tidak percaya Serikat Pengusir Setan mengirimkan seorang anak yang baru berusia belasan tahun untuk menangani kasus manusia serigala. Namun setelah ia menghubungi serikat untuk memastikan dan permintaan pergantian orang ditolak, ia pun tak punya pilihan selain menerima kenyataan itu.
Awalnya, Johan hanya ingin mengutus seorang polisi untuk mendampingi sang pengusir setan sebagai saksi. Namun karena yang datang adalah Minazuki Hoshi, ia merasa harus turun tangan sendiri. Dalam hati, ia berpikir, kalau pun misi gagal, ia pasti mampu menyelamatkan anak ini. Ia pun bersiap-siap, membawa senapan Remington M870 dan cukup banyak peluru, lalu mengendarai mobilnya bersama Minazuki Hoshi menuju lokasi kejadian.
“Meski aku tidak tahu kenapa Serikat Pengusir Setan begitu percaya padamu, Nak, tapi aku harus mengingatkan. Ini bukan permainan. Kau yakin ingin menjalankan misi ini?” Untuk ketujuh kalinya Johan bertanya dengan sangat serius pada Minazuki Hoshi.
Minazuki Hoshi hanya bisa mengangguk pasrah, lalu berkata, “Pak Kepala Polisi, percayalah pada kemampuanku dan juga reputasi Serikat Pengusir Setan di belakangku. Aku jamin masalah ini bisa kuselesaikan. Lagi pula, peristiwa kelam semacam ini kini makin sering terjadi di seluruh negeri. Mau minta orang lain pun tak akan ada. Lebih baik percayakan saja padaku.”
“Baiklah. Nah, wilayah ini adalah tempat terjadinya serangan manusia serigala. Awalnya kami tidak percaya ada manusia serigala, tapi makin banyak warga yang mengaku melihatnya. Ditambah lagi banyak orang hilang dalam waktu singkat, jadi kami pun akhirnya meminta bantuan Serikat Pengusir Setan.”
“Wilayah ini? Bukan hanya satu tempat? Sudah berapa kali kejadian? Sejak kapan mulai terjadi?”
“Tak kusangka pertanyaanmu sangat profesional, itu membuatku sedikit yakin. Pertama kali laporan masuk dua bulan lalu. Sudah lebih dari dua puluh kali terjadi, korban hilang lebih dari tiga puluh orang. Dengan skala sebesar ini, tentu bukan hanya di satu sudut, tapi terjadi di hampir separuh kota kecil ini dengan radius sekitar tiga li dari pusat. Sepertinya juga mulai menyebar ke daerah lain. Yang paling aneh, kami hanya menemukan banyak bekas darah di lokasi, tapi tak pernah menemukan mayatnya.”
“Itu tak aneh. Vampir memang harus memasukkan darahnya ke tubuh korban agar korban berubah jadi vampir baru. Tapi manusia serigala cukup menggigit atau melukai, maka virusnya bisa menular dan korban akan berubah jadi manusia serigala baru yang kehilangan akal dan hanya tahu menggigit.”
Wajah Kepala Polisi Johan berubah tegang, “Maksudmu, korban yang tidak ditemukan mayatnya itu karena mereka berubah jadi manusia serigala baru?”
Minazuki Hoshi mengangguk, “Kemungkinannya sangat besar. Jika dugaanku benar, jumlah serangan dari awal hingga kini pasti meningkat pesat, bukan?”
Kepala Polisi Johan gemetar saat mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu berkata, “Benar. Justru karena serangannya makin sering, kami mulai waspada dan mengerahkan banyak polisi untuk menyelidiki. Setelah tahu situasinya makin gawat, barulah kami mengajukan permintaan ke Serikat Pengusir Setan.”
“Itu dia. Setelah baru digigit, manusia serigala baru tidak punya akal. Tapi karena mereka tidak berkeliaran menggigit orang sembarangan hingga ketahuan, artinya mereka pasti dikendalikan manusia serigala tingkat tinggi yang datang lebih dulu. Ini kabar baik. Kalau kita bisa menemukan sarang mereka, kita punya harapan menumpas semuanya sekaligus. Kalau tidak, jika manusia serigala berkeliaran dan menggigit siapa saja, itu sama buruknya seperti wabah. Seluruh kota kecil ini bisa saja diisolasi total!” ujar Minazuki Hoshi.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kalau benar sampai harus diisolasi, para politikus itu pasti akan mengorbankan seluruh penduduk kota kecil ini demi memberantas wabah. Kita harus membasmi manusia serigala itu secepatnya, terutama yang datang ke sini mencari gara-gara. Aku bersumpah akan menguliti dan menggantungkan kulitnya di kantor polisi. Bajingan keparat!” Johan membuang rokoknya ke tanah. Membayangkan nasib kota kecilnya, matanya menyala-nyala karena amarah.
“Tenang, tenang! Itulah sebabnya aku datang ke sini. Tapi kalian harus membantuku. Aku tidak mengenal medan di sini, sendirian pun tak tahu harus mulai dari mana!” Minazuki Hoshi berusaha menenangkan hati Kepala Polisi Johan.
“Jangan khawatir. Begitu aku kembali ke kantor, akan kuperintahkan seluruh polisi untuk bergerak. Tapi, bagaimana kami bisa membantumu?”
“Kalian tidak perlu melakukan hal sulit. Cukup pastikan keselamatan masing-masing, lalu buatlah jaring pengawasan di malam hari. Jika melihat manusia serigala, tembak ke udara sebagai tanda. Aku yang akan menangkapnya. Nanti, manusia serigala tingkat tinggi yang masih punya akal akan kita paksa menunjukkan sarangnya. Sisanya serahkan padaku!”
Kepala Polisi Johan mengangguk keras, “Tak masalah! Ayo, naik mobil! Kita kembali ke kantor, kumpulkan orang, atur operasi malam ini, dan buru para pembuat onar itu!”
Begitu tiba di kantor polisi, Kepala Polisi Johan segera mengumpulkan semua anggota dan membagi tugas. Dalam situasi seperti itu, Minazuki Hoshi merasa tak enak jika ikut di lokasi, jadi ia kembali ke kamar yang sudah disiapkan untuknya di kantor, lalu beristirahat. Semua kejadian serangan terjadi di malam hari, jadi Minazuki Hoshi harus memulihkan tenaga di siang hari agar siap menghadapi kemungkinan pertempuran panjang di malam nanti.
Ketika terbangun, malam sudah tiba. Setelah makan malam di kantin, seluruh anggota polisi pun bersenjata lengkap dan siap berangkat.
Jaring pengawasan dipasang. Kepala Polisi Johan terus-menerus memberi instruksi lewat radio, sementara Minazuki Hoshi berbaring di atap rumah, memejamkan mata, memusatkan pikiran, dan menanti kemunculan manusia serigala.
Lewat pukul dua dini hari, sebuah jeritan pilu menandai dimulainya peristiwa.
“Ya Tuhan, makhluk apa itu!”
“Tolong!”
“Jangan takut, kami polisi!”
“Duar! Duar! Duar!” Suara tembakan senapan ganda terdengar bersahut-sahutan.
Wajah Kepala Polisi Johan langsung berubah. Ia menengadah mencari Minazuki Hoshi, tapi ternyata anak itu sudah melesat dari atap dan lenyap dari pandangan. Johan yang tak punya kemampuan seperti itu hanya bisa memanggil anak buahnya lalu berlari di sepanjang jalan setapak menuju sumber suara.
Dengan beberapa langkah kilat, Minazuki Hoshi sudah sampai di sebuah rumah, di mana sekeluarga dan dua polisi sedang panik bertarung melawan beberapa manusia serigala yang mengamuk.