Bab 71: Lubang yang Digali Sendiri, Dijebak Sendiri
Wang Zhou kembali ke rumah Xu Qingzhu, melanjutkan panggilan video dengan Xu Qingzhu, dan dengan sederhana menata ulang meja lukis itu.
“Guru Wang, terima kasih sudah repot-repot,” ujar Xu Qingzhu dengan senang hati. Ia sangat menyukai suasana seperti ini, seolah-olah pasangan suami istri sedang mendiskusikan penataan barang-barang di rumah.
“Bisa membantu Guru Xu adalah sebuah kehormatan bagiku,” jawab Wang Zhou sambil bercanda.
Xu Qingzhu melirik Wang Zhou dengan gemas.
“Oh ya, kamu benar-benar sudah menulis sebuah lagu untukku?” tanya Xu Qingzhu penuh harap.
Dengan dua lagu sebelumnya, "Remaja" dan "Masa Kecil", yang telah mendapat pujian, Xu Qingzhu menaruh harapan besar pada lagu baru Wang Zhou.
“Masa aku mau bohong padamu?” Wang Zhou meletakkan ponselnya di atas meja lukis, menopangnya dengan dudukan. Ia duduk di kursi tua tepat di depan kamera, menyilangkan kaki.
“Kalau begitu... kirimkan padaku, aku ingin lihat!” Xu Qingzhu yang sebelumnya tidak tahu, kini jadi sangat penasaran dan bersemangat setelah tahu Wang Zhou punya lagu bagus di tangan.
“Nanti saja, waktu kau kembali ke Kota Iblis, ambil sendiri,” Wang Zhou bisa melihat keinginan Xu Qingzhu, tapi ia benar-benar tidak ingin Xu Qingzhu terlalu lelah.
“Baiklah,” Xu Qingzhu manyun ke arah Wang Zhou.
“Kapan kau mau merilis lagu ‘Masa Kecil’?” Wang Zhou melihat ekspresi enggan Xu Qingzhu, tak bisa menahan tawa.
“Begitu episode acara ini selesai tayang, akan langsung aku unggah,” jawab Xu Qingzhu.
“Bagus!” Wang Zhou mengangguk dan tersenyum.
“Kali ini rekaman di Kota Iblis saja. Tapi kau harus rekaman bersamaku, duet…” Xu Qingzhu mengedipkan mata nakal, terlihat sangat puas sambil mengepalkan tinju kecilnya.
“Aku? Tidak, tidak... kau sendiri saja yang rekaman!” Wang Zhou langsung menolak. Mana mungkin ia mau, kalau bukan demi membantu Xu Qingzhu mencapai ekspektasi acara, ia sama sekali tidak akan turun tangan sendiri.
“Tapi setelah episode ‘Super Bahagia’ ini tayang, penonton pasti sudah punya kesan pertama tentang duet kita di ‘Masa Kecil’. Kalau lagu yang dirilis nanti hanya aku yang nyanyi sendiri, penonton bisa-bisa marah! Kamu tega membiarkanku sendiri?” Xu Qingzhu seperti sudah menebak isi hati Wang Zhou, mana mungkin ia biarkan Wang Zhou lolos begitu saja.
“Aku…” Wang Zhou tertegun.
Ia tahu yang dikatakan Xu Qingzhu memang benar, tapi... melihat wajah ceria Xu Qingzhu, ia tahu dirinya sudah masuk perangkapnya.
Tapi karena lubang ini ia yang buat sendiri, mau tak mau ia harus masuk juga.
“Kau setuju tidak?” Mata Xu Qingzhu sudah hampir berkaca-kaca, jurus ini selalu berhasil pada Wang Zhou.
“Apa aku masih punya pilihan?” Wang Zhou tertawa getir, benar-benar tak punya daya melawan jurus Xu Qingzhu.
“Tidak ada!” Xu Qingzhu tertawa puas.
“Oh ya, Guru Wang, sudah lihat trending hari ini belum?” Xu Qingzhu bertanya santai sambil berbaring malas di ranjang hotel.
Hari ini acaranya agak banyak tantangan, terutama bagian akhir saat merekam ‘Masa Kecil’ yang menguras tenaga dan pikiran. Tapi semua itu sepadan, ia yakin begitu lagu itu dirilis akan membangkitkan gelombang kenangan di seluruh internet. Meski melodinya sederhana, liriknya begitu menyentuh dan bisa saja popularitasnya melampaui ‘Remaja’.
“Belum, memangnya ada apa?” Wang Zhou menggeleng bingung.
Mana punya waktu baca trending, habis membantu nyanyi ‘Masa Kecil’ lalu menata meja lukis Xu Qingzhu.
“Kau bisa lihat sekarang,” saran Xu Qingzhu sambil menggigit bibir. Ia agak sungkan membicarakannya karena belum sempat minta izin pada Wang Zhou, semuanya ia putuskan sendiri. Ia khawatir Wang Zhou akan marah.
Wang Zhou melihat ekspresi Xu Qingzhu, lalu membuka daftar trending dengan rasa penasaran.
Di puncak trending tertulis jelas: ‘Xu Qingzhu minta kaligrafi pada Wang Zhou’.
Wang Zhou hanya bisa tertawa getir. Pantas saja Xu Qingzhu tidak mau bilang langsung, malah menyuruhnya lihat sendiri, rupanya ini alasannya.
“Hanya soal satu tulisan saja, kenapa harus muter-muter begini! Kayaknya para ‘Bambu’ juga mulai tidak suka padaku. Kalau hari ini aku nggak baca berita dan kelewatan, bisa-bisa mereka marah besar!” Wang Zhou melihat Xu Qingzhu yang di video sudah menutupi kepala dengan selimut, tertawa geli.
Xu Qingzhu tetap menutupi kepala, masih malu menghadapi Wang Zhou.
“Itu... waktu diwawancara, aku hanya asal bicara, siapa sangka jadi seheboh ini!”
“Sudahlah, aku juga tidak menyalahkanmu, kenapa harus malu?” Wang Zhou tersenyum melihat tingkah Xu Qingzhu.
“Karena ini sudah ramai di internet, aku harus memberi tanggapan. Sebenarnya aku memang ingin menulis puisi untukmu, tadinya mau menunggu kau kembali ke Kota Iblis biar kita kerjakan bersama. Tapi sekarang, aku akan menulis puisinya dulu, nanti kau bisa melukisnya setelah kembali.”
“Ah…”
Mendengar itu, Xu Qingzhu langsung membuka selimutnya dengan antusias. “Kalau begitu aku pulang sekarang ke Kota Iblis, kita kerjakan bersama!”
“Tidak bisa! Beberapa hari ini kau sudah cukup lelah, malam ini istirahat dulu di Kota Pasir, besok baru terbang kembali,” Wang Zhou langsung menolak.
“Tapi... kalau begitu aku tidak bisa bersamamu…” Xu Qingzhu tidak ingin kehilangan kesempatan.
“Kalau pun kau pulang, kita juga tak bisa tampil bersama, nanti fans lihat, bagaimana jadinya? Pagi harinya bilang tidak saling kenal, malamnya sudah bersama, mau fans berpikir apa?” Wang Zhou menatap Xu Qingzhu dan menasihatinya.
“Eh... benar juga,” Xu Qingzhu akhirnya sadar, menggelengkan kepala dan tampak menyesal.
“Tenang saja, masih banyak kesempatan lain,” Wang Zhou menenangkan.
“Ya. Siapa suruh sok-sokan sendiri…” Xu Qingzhu menjatuhkan diri ke ranjang, sebagai bentuk hukuman untuk dirinya sendiri.
“Sebenarnya kau tidak perlu kembali. Kita bisa video call saja, kau bisa lihat aku menulis sepanjang prosesnya,” Wang Zhou tertawa menawarkan.
“Ya? Benar juga…” Xu Qingzhu langsung semangat, duduk tegak di ranjang.
“Tunggu sebentar, aku siapkan dulu. Kali ini aku akan merekam seluruh proses, biar kau dan para ‘Bambu’ puas,” kata Wang Zhou sambil tersenyum, lalu keluar dari kamar 1802 dan menuju kamar 1801.
“Tak sabar menunggu!” Xu Qingzhu melompat turun dari ranjang, matanya berbinar penuh harap.
Xu Qingzhu sangat bahagia karena puisi yang akan ditulis Wang Zhou ini khusus untuknya, tidak untuk orang lain, hanya miliknya sendiri.
Wang Zhou pun merasa bahagia. Karena Xu Qingzhu bahagia, ia pun bahagia.
Tak lama kemudian Wang Zhou kembali dengan membawa kamera. Ia mengatur posisi kamera menghadap ke meja, memastikan semua gerakannya terekam jelas.
Perlengkapan alat tulis pun sudah siap!
Wang Zhou mulai menyiapkan tinta, sementara Xu Qingzhu menahan napas, takut mengeluarkan suara dan mengganggu konsentrasi Wang Zhou. Apalagi sekarang Wang Zhou sedang merekam video, sedikit saja salah bicara bisa ketahuan keberadaannya.
Wang Zhou menatap sekilas ke arah Xu Qingzhu di layar, tersenyum tipis.
Xu Qingzhu menatap balik Wang Zhou dengan tenang, tanpa menghindar.
Interaksi penuh rasa antara Wang Zhou dan Xu Qingzhu dalam video ini, jika ada penonton pun hanya akan mengira Wang Zhou sekadar melirik ke kamera, tanpa menyadari di seberang layar ada Xu Qingzhu yang sedang menemaninya.