Bab 139: Aoshi Tianxia Panik
Setelah memantapkan hati, Wu Shaochen membawa Wu Ziyin untuk terus memburu monyet di gunung hingga pukul sebelas malam. Saat Wu Ziyin hendak log out untuk beristirahat, Wu Shaochen berpesan agar adiknya tidak keluar dari area sekolah dalam waktu dekat. Ia juga secara khusus meminta Yin Tailang untuk lebih waspada.
Melihat Wu Ziyin log out, Wu Shaochen bertanya kepada Ziyou, "Apa kau yakin Yin Tailang tidak akan bermasalah?"
"Mereka terikat kontrak tuan dan pelayan. Serigala bodoh itu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti tuannya," jawab Ziyou.
"Maksudku soal kekuatannya," kata Wu Shaochen. Ia saat ini tidak tahu bagaimana data dalam permainan tersebut diterjemahkan ke dunia nyata.
"Soal itu kau tidak perlu khawatir. Di sini ada batasan dari sistem utama sehingga banyak bakat alaminya tidak bisa digunakan. Saat keluar nanti, ia justru akan jauh lebih kuat daripada di dalam permainan," ujar Ziyou dengan tenang.
"Syukurlah kalau begitu." Wu Shaochen merasa lega dan melanjutkan perburuan untuk mencapai level 40. Selama dua jam lebih membawa Wu Ziyin, mereka telah membunuh 2.480 ekor monyet dari berbagai level, membuat pengalamannya mencapai level 36 dengan 4,34 juta dari 5 juta poin yang dibutuhkan.
***
Di Sekolah Ekonomi HN...
Saat itu sudah lewat pukul satu dini hari dan seluruh kampus diselimuti keheningan. Tiba-tiba, sekelompok pria berpakaian hitam muncul di luar tembok kampus. Dengan gerakan ringan, mereka melompati tembok setinggi tiga meter itu dan menyelinap menuju asrama putri tanpa suara.
Tak lama, mereka tiba di depan asrama putri, sementara petugas asrama masih terlelap.
"Kalian berempat, pergi bawa orangnya keluar. Kami akan berjaga di luar, lakukan dengan cepat," bisik salah satu pria berbaju hitam.
"Siap!"
Di sebuah kamar di lantai empat, Wu Ziyin dan Weiwei sudah tertidur lelap. Tiba-tiba terdengar suara pelan di pintu kamar, dan tak lama kemudian pintu terbuka. Empat bayangan hitam masuk tanpa suara.
Karena lampu asrama sudah dimatikan, ruangan itu sangat gelap. Saat mereka hendak beraksi, tiba-tiba terlihat sepasang mata hijau menatap tajam ke arah mereka dari kegelapan.
Mereka terkejut dan hendak bersuara, namun tiba-tiba merasakan tarikan kuat yang membuat tubuh mereka terlempar ke depan. Sebelum sempat berteriak, mereka kehilangan kesadaran.
Di dalam kegelapan, sesosok makhluk berwujud serigala bersendawa kecil dan menjilat giginya, tampak belum puas.
Di luar asrama, empat orang lainnya menunggu cukup lama namun tidak ada yang kembali. Salah satu dari mereka menggerutu, "Kenapa mereka belum kembali juga?"
"Entahlah, apa terjadi sesuatu?" sahut yang lain.
"Ini hanya sekolah, masalah apa yang mungkin terjadi? Kalaupun ada masalah, tidak mungkin suasananya sesunyi ini."
Pria yang memimpin kelompok itu mengerutkan kening, "Ada yang tidak beres. Sekalipun lambat, seharusnya mereka sudah kembali. Kalian bertiga, naik dan periksa."
"Baik." Ketiganya segera melompat masuk. Kini hanya tersisa sang pemimpin di luar. Namun, setelah menunggu selama setengah jam, tidak ada suara apa pun dari dalam, dan mereka yang masuk tidak kunjung keluar.
Pemimpin itu mulai panik. Ia ingin masuk memeriksa namun merasa takut. Akhirnya, ia pergi diam-diam ke tempat yang sepi untuk menelepon seseorang.
Panggilan tersambung, dan ia melaporkan situasinya. Awalnya ia mengira pihak di seberang telepon tidak akan percaya, namun orang itu justru terdiam lama dan menyuruhnya menunggu hingga keesokan harinya untuk memeriksa kembali.
Di sebuah gedung terpencil di Kota SH, seorang pria paruh baya mondar-mandir di dalam kamar. Tangannya yang memegang rokok gemetar hebat. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan. Hal yang tidak diketahui selalu menjadi yang paling menakutkan.
Keesokan harinya, setelah semua orang pergi kuliah, pria itu menyelinap ke asrama putri. Namun, saat sampai di kamar target, tidak ada jejak apa pun di sana. Tidak ada noda darah, barang-barang pun tertata rapi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hal ini membuatnya sangat ngeri. Setelah memeriksa seluruh asrama putri tanpa menemukan jejak, ia segera pergi dari kampus dengan panik.
Ia menelepon kembali dan melaporkan apa yang dilihatnya, lalu menyatakan bahwa ia tidak akan terlibat lagi dalam masalah ini. Kejadian yang begitu ganjil itu membuat pria yang telah menjalani pelatihan khusus itu merasa ketakutan.
Di Kota SH, pria paruh baya itu menutup telepon dan menarik napas dalam-dalam untuk menutupi ketakutannya. Ia segera menghubungi nomor lain, dan suara cemas terdengar dari seberang.
"Orang itu sudah tertangkap?"
"Tuan Muda Wang, saya tidak akan terlibat lagi. Mulai sekarang, saya tidak akan menerima urusan apa pun yang berkaitan dengan orang ini," tegas pria itu.
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Muda Wang.
"Cari orang lain saja. Sebagai mitra selama bertahun-tahun, saya beri satu nasihat: segera berhenti," kata pria itu lalu memutus sambungan.
"Sial!"
Di sebuah vila mewah di pusat Kota SH, Tuan Muda Wang membanting ponselnya ke lantai dengan marah. "Brengsek! Apa-apaan ini? Menangkap satu orang saja tidak becus!"
Setelah beberapa saat, Tuan Muda Wang menenangkan diri dan meminta kepala pelayan mengambil ponsel baru untuk menelepon kembali. Butuh waktu lama sampai panggilan dijawab.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tuan Muda Wang.
"Orang-orang yang dikirim kemarin untuk menangkap adiknya juga menghilang semua. Satu orang yang tersisa melihat sendiri mereka masuk, lalu tidak pernah keluar lagi. Tidak ada jejak hidup maupun mati. Setelah diperiksa pun, tidak ada bekas apa pun. Sama persis dengan kejadian saat menangkap target utama. Tuan Muda Wang, dengarkan nasihat saya, sebaiknya hentikan semua ini," ujar orang di seberang telepon sebelum memutus sambungan lagi.
Tuan Muda Wang terpaku dengan ponsel di tangan. Hawa dingin merambat dari telapak kakinya.
"Benarkah... seganjil itu?" Ia tidak meragukan ucapan orang tersebut mengingat hubungan kerja sama mereka yang sudah bertahun-tahun. Namun, kenyataan ini benar-benar sulit diterima. Hati Tuan Muda Wang mulai diliputi rasa takut.
***
Di dalam permainan...
Wu Shaochen memburu monyet sepanjang malam hingga mati rasa. Jumlah monyet yang banyak dan waktu respawn yang cepat memang sangat cocok untuk menaikkan level. Demi meningkatkan kekuatan, Wu Shaochen berjuang habis-habisan. Dari malam hingga pukul sembilan pagi, ia telah membantai 8.720 ekor monyet yang levelnya tidak di bawah levelnya sendiri, meningkatkan levelnya menjadi 38 dengan 1,68 juta dari 6 juta poin pengalaman.
Hal ini terjadi karena seiring meningkatnya level, monyet-monyet yang levelnya lebih rendah tidak lagi memicu kemampuan "Tubuh Abadi", sehingga Wu Shaochen malas membunuh mereka. Ia hanya mengincar monyet yang levelnya setara atau lebih tinggi. Akibatnya, monyet yang bisa diburu semakin sedikit dan kecepatan respawn tidak mampu mengimbangi kecepatan bunuhnya. Jika tidak, ia bisa mendapatkan lebih banyak lagi.
Namun, naik dua level dalam semalam bukanlah hal yang buruk. "Tubuh Abadi" miliknya meningkat 8.720 poin, membuat HP-nya menembus angka 60.000, tepatnya mencapai 63.136 poin.
Ia meregangkan tubuh. Akhirnya nilai kejahatannya telah hilang sepenuhnya. Dalam dua hari ini, ia telah membunuh lebih dari 20.000 monster. Ia belum pernah berjuang sekeras ini, namun hasilnya jelas. Sebelum datang ke gunung ini, HP-nya hanya 30.000, kini saat hendak pergi, HP-nya telah mencapai 60.000, meningkat dua kali lipat.
Sekali lagi menatap puncak gunung, Wu Shaochen membatin, "Aku pasti akan kembali."
"Rasanya sudah lama sekali tidak kembali ke Kota Jinling," gumam Wu Shaochen. Ia segera berteleportasi ke rumahnya di Kota Jinling. Saat masuk ke kamar, ia langsung merebahkan diri di atas ranjang kayu keras bergaya kuno. Meski menggunakan kapsul permainan, mentalnya sangat kelelahan setelah dua hari terus-menerus bertempur. Ia berniat beristirahat sebentar, namun tidak menyangka langsung tertidur lelap. Ternyata kelelahan mental justru membuatnya lebih mudah terlelap saat berada di dalam permainan.