Bab Tiga Puluh Empat: Interogasi Dua Pihak
Di ruang pemeriksaan.
"Mari saya rangkum," ujar Xue Wenbo. "Maksud Anda, meski kondisi keluarga tergolong mampu, Fang Shiya tidak memiliki banyak uang yang bisa ia gunakan secara bebas, begitu?"
Ibu Fang Shiya mengangguk. "Benar. Untuk urusan hidup, kami selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kami, termasuk rumah yang ia tempati sekarang. Itu kami beli untuknya dan menggunakan namanya. Mengenai uang saku, kami memberikannya sesuai standar normal."
Xue Wenbo menatap pasangan di depannya itu, lalu bertanya lagi, "Berapa nominal standar yang Anda maksud?"
"Untuk uang saku kuliah, kami memberikannya sekaligus setiap semester, yaitu 60 ribu yuan per semester."
Tangan Xue Wenbo yang memegang pena menegang. "Standar uang saku mahasiswa saat ini sudah setinggi itu?"
"Anak-anak seusianya di lingkungan kami memang diberi jumlah seperti itu," sahut ayah Fang Shiya. "Dalam hal ini, tentu kami tidak ingin dia tertinggal dari yang lain, bukan?"
Baiklah, pikir Xue Wenbo dalam hati, dia tidak paham pola pikir orang kaya.
"Fang Shiya menyukai gaya Lolita, Anda tahu itu?" tanyanya kemudian.
Ayah Fang Shiya tampak asing dengan istilah tersebut, namun sang ibu mengangguk. "Ya, dia sudah menyukainya sejak SMP. Jujur saja, kami agak keras mendidik anak, itulah mengapa dia bisa diterima di Universitas Qin. Sepengetahuan saya, pakaian-pakaian itu cukup mahal. Dulu, saya hanya sesekali membelikannya satu, biasanya kalau dia berprestasi atau mendapat penghargaan."
"Apakah kalian sering berkunjung ke tempat tinggal Fang Shiya?"
Ayah Fang Shiya mengerutkan kening; jelas sekali dia jarang ke sana.
Sang ibu yang menjawab, "Anak sudah besar, dia harus punya ruang pribadinya sendiri. Saat dia masih mahasiswa tahun pertama, saya sering berkunjung, tapi belakangan ini hanya sesekali."
"Apakah Anda pernah melihat koleksi pakaian Lolita di ruang ganti Fang Shiya?"
"Tidak." Wanita itu menggeleng. "Itu privasinya. Meskipun saya ibunya, saya harus menghormati anak saya."
Xue Wenbo mendongak menatap wanita itu, dan pandangannya terhadap sang ibu pun berubah. Sebaliknya, ayah Fang Shiya tampak tidak bisa ikut campur sedikit pun dalam urusan putrinya.
"Lalu, sejauh mana kalian mengetahui tentang kartu nama ini?" Xue Wenbo mengeluarkan kartu nama berwarna emas logam itu.
***
Di sisi lain.
"Apakah kalian tahu Fu Xin menyukai pakaian gaya Lolita?" tanya Xun Yicheng.
"Tahu," jawab ayah Fu Xin sambil mengangguk. Punggungnya bungkuk, dan secara naluriah ia hendak berbicara dengan dialek daerah, namun ia segera tersadar dan mengubahnya ke dalam bahasa Mandarin yang kaku. "Keluarga seperti kami, mana pantas menyukai barang-barang mencolok seperti itu? Saya bahkan pernah memarahinya."
Kakak tertua, Fu Yue, memandang ayahnya dengan keraguan.
Ayah Fu Xin tidak melihat ekspresi putrinya. Ia mengisap rokok dalam-dalam lalu melanjutkan, "Kami bersusah payah membiayainya kuliah agar dia bisa keluar dari desa nelayan kecil itu dan memilih kehidupannya sendiri, memilih masa depan untuk anak-anaknya kelak, bukan untuk menghabiskan waktu dengan barang-barang tidak berguna seperti itu."
Xun Yicheng hendak bicara, namun urung. Dia tidak sampai hati mengatakan bahwa justru karena barang-barang "tidak berguna" itulah Fu Xin terbunuh.
Xun Yicheng melihat ekspresi di wajah Fu Yue tampak lebih gelisah dari sebelumnya.
"Nona Fu Yue, apakah ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya Xun Yicheng langsung kepada Fu Yue. "Apakah Anda tahu adik Anda tinggal di luar kampus?"
Wajah Fu Yue berubah. "Bagaimana mungkin? Mana mungkin dia punya uang untuk tinggal di luar? Saya sudah mencari tahu harga sewa rumah di sekitar kampusnya, dan itu bukan biaya yang bisa dia tanggung."
"Namun, hasil penyelidikan kami menunjukkan bahwa Fu Xin sudah tinggal di luar sejak tahun kedua." Begitu Xun Yicheng mengatakan hal itu, seluruh keluarga Fu tampak pucat. Jelas, mereka tidak bisa membayangkan dari mana Fu Xin mendapatkan uang untuk membiayai semua itu.
"Apakah mungkin dia mendapatkan uang dari pekerjaan sampingan?" Di tengah wajah kedua orang tuanya yang semakin pucat, Fu Yue mencoba memikirkan kemungkinan yang paling masuk akal.
Namun, jawaban Xun Yicheng bagai menyiramkan air dingin pada keluarga itu. "Berdasarkan penyelidikan kami, Fu Xin tidak pernah melakukan pekerjaan sampingan selama masa kuliahnya."
Xun Yicheng teringat sesuatu lagi. "Oh ya, apakah Anda tahu perkembangan akademik Fu Xin selama tiga tahun ini?"
Mereka saling berpandangan. Akhirnya, Fu Yue menjawab dengan kaku, "Dia... dia sudah pintar sejak kecil dan sangat rajin belajar, jadi kami tidak perlu khawatir. Mengenai studinya, dia selalu memberi tahu kami bahwa nilainya di kampus cukup bagus..."
Meski tidak tega, Xun Yicheng tetap menyerahkan data perkembangan akademik Fu Xin kepada mereka. Orang tua Fu Xin mungkin tidak paham apa arti angka indeks prestasi dan peringkat di lembaran itu, tetapi Fu Yue langsung memahaminya.
"Ini... bagaimana mungkin..." Fu Yue tampak tidak percaya. "Dia baru saja memberi tahu saya bahwa dia menduduki peringkat ketiga di angkatannya..."
Melihat raut wajah putrinya, orang tua Fu Xin pun mulai mengerti bahwa kebenaran yang terjadi justru berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan anak mereka.
Ibu Fu Xin tampak tidak sanggup lagi menerima rentetan pukulan ini. Xun Yicheng takut wanita itu akan pingsan jika dia terus berbicara. Ia memberi kode kepada Fu Yue tanpa sepengetahuan kedua orang tua itu. Fu Yue yang cerdas segera menenangkan orang tuanya dan membawa mereka keluar ruangan sebelum kembali untuk berbicara dengan Xun Yicheng.
Kali ini, komunikasi berjalan lebih lancar.
Pada akhirnya, Xun Yicheng mengeluarkan kartu nama itu. "Apakah kalian tahu sesuatu tentang kartu nama yang ada di tangan Fu Xin ini?"
***
Setelah pemeriksaan kedua keluarga selesai dan mereka dipulangkan, waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
Xun Yicheng dan Xue Wenbo baru saja melangkah masuk ke ruang Tim Investigasi Kasus Berat saat mencium aroma masakan. Perut mereka yang lapar langsung berbinar melihat Lin Cuo dan Che Yu mendongak dari meja tidak jauh dari sana. "Makanan ada di atas meja. Kami pesan tepat waktu, masih hangat."
Dua menit kemudian, mereka berempat duduk berhadapan di meja panjang, menyantap nasi.
Lin Cuo selesai makan lebih dulu, lalu bangkit dan berjalan keluar.
Melihat Lin Cuo bahkan tidak mengambil jaketnya, Xue Wenbo tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Dia mau ke mana?"
Xun Yicheng melirik sekilas, lalu terus menyendok makanannya dengan santai, "Merokok, mungkin."
Tangan Xue Wenbo dan Che Yu yang memegang sumpit membeku di udara. "Siapa? Siapa yang merokok?"
"Komandan Lin," jawab Xun Yicheng tenang. "Kenapa kalian melihatnya seperti itu? Memangnya aneh? Hidup sebagai manusia, siapa yang tidak punya tekanan..."
*Sret!* Xue Wenbo dan Che Yu berdiri dari kursi mereka secara bersamaan dan melangkah keluar dengan kompak. Xun Yicheng menggelengkan kepala melihat mereka sambil mendengus, "Huh, dasar pria-pria yang kurang pergaulan."
Saat Xue Wenbo dan Che Yu menemukan Lin Cuo, mereka kebetulan melihatnya menjentikkan puntung rokok ke tempat sampah dengan gerakan yang sangat luwes dan acuh tak acuh. Pemandangan itu membuat Xue Wenbo dan Che Yu tertegun.
Beberapa detik kemudian, Che Yu menyikut lengan Xue Wenbo, "Kak Xue, dari jarak sejauh itu, berapa persen keyakinanmu bisa melakukan hal yang sama?"
Pikiran Xue Wenbo masih dipenuhi gerakan Lin Cuo tadi. Mendengar pertanyaan itu, matanya berkedip sesaat sebelum ia mencibir, "Cuma begitu saja?"
Che Yu diam-diam menatap pria yang sombong itu sambil menahan tawa yang membuat sudut bibirnya berkedut.
Setelah rokoknya habis, pikiran Lin Cuo tampak lebih jernih. Ia mendongak, melamun sejenak, lalu mengeluarkan sebutir permen dan memasukkannya ke dalam mulut.
Aksi ini membuat Xue Wenbo dan Che Yu yang mengintip dari jauh kembali tertegun. Apa lagi maksud dari tindakan ini?
Che Yu mengerutkan kening. "Kak Xue, apa kamu tidak merasa alur perilaku Komandan Lin ini terasa familiar?"
Xue Wenbo bertanya dengan nada malas, "Familiar apanya?"
Di sana, Lin Cuo sudah beranjak pergi. Xue Wenbo segera menarik Che Yu untuk kembali.
Che Yu yang leher belakangnya dicengkeram oleh Xue Wenbo merasa sedikit pening. Namun, saat menginjakkan kaki di ruang tim, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia melepaskan cengkeraman Xue Wenbo dan menepuk tangannya dengan keras. "Aku tahu! Aku tahu kenapa ini terasa familiar! Karena aku pernah melihatnya!"