Bab Lima Puluh Dua: Berjumpa dengan Kenalan Lama di Rumah Bordil (Bagian Kedua)
Tempat ini ternyata adalah... rumah pelacuran?!
Suara raungan si Pria Kepala Babi segera terdengar dari belakang. Muer tidak punya waktu untuk berpikir panjang lagi, ia berlari sekencang-kencangnya ke depan, berniat untuk menyusup ke lantai bawah di tengah kerumunan orang dan kabur mumpung ada kesempatan.
Namun, ia tidak merasakan apa-apa di awal tadi. Begitu berhasil keluar, barulah ia menyadari tangan dan kakinya terasa lemas, serta tubuhnya melayang ringan. Rupanya ia telah dibius, dan pengaruh obat bius di tubuhnya belum sepenuhnya hilang.
Tepat pada saat itu, si Pria Kepala Babi yang hanya mengenakan celana pendek berdiri di ambang pintu sambil berteriak dengan geram, "Kalian semua, kemari! Hentikan pelacur sialan itu!"
Mendengar raungan tersebut, Muer tak mampu menahan diri untuk menoleh ke belakang sekilas, takut kalau si Pria Kepala Babi sudah mengejarnya.
Mungkin karena penampilan si Pria Kepala Babi terlihat begitu konyol, Muer yang sedang dalam pelarian bahkan tak kuasa menahan tawa keras. Hal itu membuat si Pria Kepala Babi mengabaikan citranya dan langsung mengejarnya sambil memaki dengan murka, "Kau pelacur kecil! Begitu aku menangkapmu, aku pastikan aku akan menghabisimu!"
Melihat si Pria Kepala Babi langsung mengejarnya, Muer tidak berani bertindak gegabah lagi. Ia buru-buru berlari sekuat tenaga ke luar. Namun, baru saja ia hendak menuruni tangga, ia melihat beberapa algojo berlari menaiki tangga dan berteriak galak ke arahnya, "Jangan lari!"
Melihat situasi tersebut, Muer langsung tahu bahwa orang-orang ini pasti datang untuk menangkapnya. Dalam kepanikannya, ia terpaksa berbelok tergesa-gesa ke sisi lain dan menerobos masuk ke dalam sebuah kamar secara sembarangan.
Mungkin karena suara gaduh yang ditimbulkannya saat masuk tadi begitu besar, orang-orang di dalam yang tadinya sedang berbicara langsung menghentikan perbincangan mereka tanpa sadar. Tanpa terkecuali, pandangan mereka semua tertuju pada Muer yang menerobos masuk.
Tampaklah seorang gadis bertubuh mungil dengan pakaian dan tatanan rambut yang berantakan. Wajah kecilnya merona merah, sementara fitur wajahnya tampak elok dan manis, hanya saja ia terlihat begitu ketakutan.
Yang membuat Muer terkejut, pemandangan di dalam kamar itu sama sekali bukan suasana cabul penuh gairah, ataupun alunan musik dan tarian, melainkan beberapa pria paruh baya dan dewasa yang duduk bersama sambil menikmati teh dan mengobrol. Suasana di antara mereka bahkan tampak agak serius.
Ia mengamati mereka sekilas dengan cermat. Total ada tiga pria: seorang pria paruh baya, seorang pemuda, dan seorang lagi yang mengenakan setengah topeng sehingga usianya tidak dapat ditebak.
Pria paruh baya itu tampak begitu serius dan garang, sementara pemuda di sana terlihat begitu genit dan tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu, Muer langsung memusatkan perhatiannya pada pria bermasker tersebut.
Tanpa sadar, Muer langsung menerjang ke depan sambil berteriak lantang, "Tuan, tolong aku! Seseorang hendak melecehkanku!"
Pria bermasker itu tidak menghindar atau mengelak, dan begitu saja membiarkan Muer menubruk dekapannya. Sepasang mata yang terekspos di luar topeng mengamatinya dengan cermat.
"Tuan, selamatkan aku! Makhluk mirip babi di luar sana mau menciumku!" Muer tidak peduli lagi pada aturan lama tentang pria dan wanita yang tidak boleh bersentuhan langsung. Ia langsung mencengkeram tangan pria bermasker itu dengan erat, takut kalau pria tersebut tidak mau menolongnya.
Di dalam hati, ia merutuk penuh kekesalan, *Ya ampun, tangan ini lembut sekali, lembut sekali!*
"Pecah!" Pria bermasker itu belum sempat membuka mulut, tetapi pria genit di sampingnya justru tertawa lebih dulu. Kipas lipat di tangannya berkelebat ke sana kemari sambil terkekeh, "Gadis kecil ini lumayan menggemaskan juga!"
Muer tadinya ingin membalas ucapannya, *Kau yang menggemaskan! Seluruh keluargamu menggemaskan!*
Namun, pintu kamar kembali ditendang dengan keras dari luar. Si Pria Kepala Babi, yang kini mengenakan pakaian longgar dan memboyong beberapa algojo, langsung menerobos masuk dengan angkuh.
Melihat Muer ternyata berpelukan erat dengan pria bermasker, mata si Pria Kepala Babi memancarkan amarah yang membara. Ia menunjuk ke arah pria bermasker itu dan membentak, "Keparat cilik, jika kau tahu di mana bumi dipijak, kukira sebaiknya kau segera mengembalikan gadis ini kepadaku! Kalau tidak, kubikin kau masuk dengan berjalan tegak dan keluar dalam keadaan terbujur kaku!"