Bab 3 Aura Tokoh Utama Wanita
Namun, masalahnya muncul di sini...
Dia baru saja tiba di dunia ini dan sama sekali tidak menguasai ilmu sihir! Dia juga tidak seperti Yao Qing, tokoh utama dalam novel "Selir Tabib Tiada Tara", yang memiliki kemampuan medis luar biasa dan mampu menyembuhkan makhluk dari bangsa dewa, siluman, iblis, maupun manusia.
"Aku benar-benar tidak bisa menggunakan sihir..." ujar Ling Yan dengan nada tak berdaya.
Sepasang mata indah gadis kecil itu seketika meredup. Mungkin dia memercayai kata-kata Ling Yan, atau mungkin dia merasa Ling Yan tidak akan bisa membantunya.
Gadis kecil itu menunduk sedih, air mata menetes dari pipinya dan tepat mengenai punggung tangan Ling Yan. Suhu air mata yang panas itu membuat hatinya bergetar.
Beberapa jam yang lalu, dia sendiri juga pernah menderita penyakit parah seperti ibu gadis kecil ini. Kala itu, dia tidak menangis, justru ayah dan ibunya yang menangis di hadapannya, persis seperti gadis kecil ini.
Mengapa harus menangis terus? Kalian sudah berusaha semampu kalian.
Mengingat masa lalu, Ling Yan sempat tertegun sejenak.
Gadis kecil itu, seperti ayah dan ibunya, begitu keras kepala menjaga seseorang yang sedang sekarat.
Setelah tersadar dari lamunannya, dia menggenggam tangan gadis kecil itu dan bertanya dengan ragu, "Karena kau bilang tengkorak-tengkorak hantu itu bersembunyi saat melihatku, bagaimana kalau aku menjadi jimat pelindung kalian dan menemani kalian mencari tempat yang aman?"
Mata gadis kecil itu kembali berbinar. "Terima kasih, Kakak Bidadari!"
Suara anak kecil yang jernih itu penuh dengan semangat. Ling Yan merasa sedikit malu dipanggil "Kakak Bidadari" berulang kali. Dia mengusap kepala kecil gadis itu dan tersenyum, "Panggil Kakak saja sudah cukup."
Gadis kecil itu mengangguk, lalu bangkit dan mengaitkan tali rami ke bahunya, bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Karena Kakak Bidadari setuju untuk melindungi mereka, peluang mereka untuk selamat menjadi jauh lebih besar, sehingga kini tubuhnya terasa penuh dengan kekuatan.
Melihat gerakan gadis kecil itu, Ling Yan baru menyadari bekas luka di bahunya. Dia menoleh ke arah kereta dorong tempat sang ibu yang begitu kurus hingga seolah bisa terbang tertiup angin, lalu dia mengulurkan tangan untuk mengambil tali rami itu dan mengaitkannya ke bahunya sendiri, meniru cara gadis itu.
Bahu gadis kecil itu terasa lebih ringan, dia segera mencegah gerakan Ling Yan sambil menarik lengan bajunya, "Kakak Bidadari, biar aku saja! Nanti bajumu jadi kotor."
"Tidak apa-apa."
Ling Yan menyisihkan satu tangan untuk menggenggam tangan gadis kecil itu. Sang ibu terasa sangat ringan, dan menarik kereta dorong itu pun terasa mudah baginya.
Gadis kecil itu tidak berkata apa-apa lagi. Dengan telapak tangan kecilnya yang kini terbalut tangan hangat Ling Yan, dia menahan air mata dan berkata, "Terima kasih, Kakak. Aku dan Ibu sudah berjalan berhari-hari di dalam kabut hitam ini namun tidak bisa keluar dari desa. Dengan adanya Kakak, hari ini kita pasti bisa keluar!"
Mendengar itu, hati Ling Yan mencelos.
Gadis kecil itu sudah berjalan berhari-hari dan tidak bisa keluar, mungkinkah dirinya yang tidak berguna ini bisa keluar?
Di hari pertama mendapatkan tubuh yang sehat ini, dia langsung dihadapkan pada masalah yang begitu besar.
Seandainya saja dia bertransmigrasi menjadi tokoh utama "Selir Tabib Tiada Tara", alangkah baiknya! Memiliki ilmu sihir hebat, kemampuan medis tinggi, dan keberuntungan yang baik—dalam situasi seperti ini, cukup dengan lambaian tangan saja, iblis dan siluman akan lenyap. Kalaupun tidak, setidaknya akan ada pahlawan pria pertama, kedua, ketiga, keempat, atau kelima yang datang menyelamatkan!
Saat sedang melamun, embusan angin kencang tiba-tiba datang dari belakang, disertai suara tawa licik yang memekakkan telinga, "Cih, cih, cih..."
Suara nyaring itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ini jelas bukan cara muncul yang biasa dilakukan oleh pahlawan pria!
Ling Yan segera menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya, namun gadis itu bereaksi lebih cepat. Sebelum Ling Yan sempat menariknya dengan kuat, gadis kecil itu sudah melepaskan diri dan berlari ke arah kereta dorong, lalu menubrukkan tubuh kecilnya ke atas tubuh ibunya.
Ling Yan berlari mengikuti arah gadis itu. Namun, sebelum dia sampai ke kereta dorong, angin kencang itu berhenti. Sebuah tengkorak hantu raksasa berwarna hitam muncul di hadapannya dalam sekejap mata, membuatnya tersentak ketakutan.
Dalam jarak sedekat ini, yang terlihat di depannya hanyalah ribuan tengkorak kecil yang padat. Tengkorak hantu hitam itu ternyata adalah kumpulan dari ribuan tengkorak kecil lainnya...
Tengkorak besar itu tingginya mencapai tiga atau empat lantai bangunan. Tak terhitung banyaknya mata kosong yang menatap ke arahnya, dan suara dingin yang menusuk tulang terdengar dari celah-celah ribuan tengkorak kecil tersebut.
"Memakan satu kultivator sama dengan seratus manusia... cih, cih."
Ternyata tengkorak-tengkorak itu tadi tidak bersembunyi, melainkan berkumpul untuk memakannya!
Jantung Ling Yan berdegup kencang. Monster nyata ada di depan matanya, sepasang mata besar yang kosong itu menatapnya, ditambah ribuan mata kecil lainnya yang juga mengawasi. Aura dingin yang memancar dari monster itu menerpa wajahnya. Jika mereka menerjang secara bersamaan, mungkin dia bahkan tidak sempat menjerit sebelum tubuhnya terkoyak menjadi ribuan keping...
Setelah menghabisinya, selanjutnya adalah giliran gadis kecil itu...
Hal mengerikan seperti itu membuatnya lemas hanya dengan membayangkannya.
"Aku... aku tidak berkultivasi, aku tidak enak dimakan..." suaranya gemetar hebat, sama seperti kakinya.
"Aroma akar spiritual milik seorang kultivator sudah tercium sejak kau muncul. Oh, harum sekali, sampai-sampai perutku berbunyi karena lapar."
Yang bisa didengar Ling Yan hanyalah suara angin dan isak tangis tertahan dari gadis kecil itu.
Tanpa aura tokoh utama, tidak bisa ilmu sihir, tidak bisa ilmu medis, juga tidak ada pahlawan pria yang datang menolong. Sekarang, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan hidup!
Setelah susah payah mendapatkan tubuh yang sehat ini, dia tidak mau berakhir terkoyak menjadi kepingan!
Monster ini bilang dirinya memiliki akar spiritual, berarti dia seharusnya bisa menggunakan sihir, hanya saja dia tidak tahu caranya.
Dalam novel "Selir Tabib Tiada Tara" pun tidak pernah dituliskan mantera sihir apa pun, hanya digambarkan secara samar bahwa sang tokoh utama melambaikan tangan, melompat, atau menunjuk dengan jari indahnya... Bahkan di serial anak-anak pun ada jargon yang diteriakkan.
Di saat genting seperti ini, tidak peduli bagaimana gaya atau manteranya, dia harus mencobanya!
Mumpung tengkorak hantu itu belum menerjang, dia mengambil langkah lebih dulu.
"Rasakan ini!" Dia merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, melipat ketiga jari lainnya, mengangkat tangan ke depan dada, lalu berputar cepat di tempat sambil berteriak dengan suara yang hampir pecah, "Monster, monster, cepat pergi!"
"..."
Dunia ini sepertinya sedikit berbeda.
Ling Yan gagal.
Entah karena gayanya kurang indah, atau suaranya kurang lantang.
Tengkorak hantu itu tumbang seperti bangunan yang rubuh, jatuh ke arah Ling Yan. Ribuan tengkorak kecil membuka mulut lebar-lebar, tak sabar ingin menggigitnya.
"Aaa—"
Ling Yan menjerit ketakutan, lalu segera menutupi kepalanya dan berjongkok.
"Ya Tuhan! Dewi Kwan Im! Yesus! Buddha... selamatkan aku! Aku tidak mau mati!"
Insting bertahan hidup membuatnya menyebut nama-nama penyelamat dalam hatinya dengan cepat. Setelah selesai berteriak dan diam selama beberapa detik, Ling Yan baru menyadari bahwa tubuhnya tidak terasa sakit sama sekali.
Tumpukan tengkorak hantu sebesar itu jatuh menimpanya, seharusnya dia merasa sesak napas! Mengapa tidak terasa apa-apa?
Dia mencoba menjulurkan kepalanya dari balik lengannya. Di sekelilingnya, tidak ada satu pun tengkorak hantu!
Apakah dia sama seperti tokoh utama dalam novel yang membangkitkan kemampuan tertentu saat berada dalam bahaya besar? Mendapatkan kekuatan rahasia?
Dia segera menoleh ke arah gadis kecil itu. Gadis itu masih mendekap ibunya dengan gemetar, dan di sampingnya juga tidak ada tengkorak hantu.
Tuhan mengabulkan doanya! Dia selamat!
Setelah melewati cobaan hidup dan mati itu, Ling Yan hampir saja meneteskan air mata kebahagiaan, namun sedetik kemudian, senyumnya membeku.
Beberapa meter di depannya, seorang pria sedang memegang pedang panjang, menatapnya dengan dingin.