Bab 40: Gadis Teh Hijau Konglomerat yang Patah Sayapnya 08
Shi Yue merasa suara itu berisik, lalu langsung menutup teleponnya.
Setelah mendengar nada sambung terputus dari seberang telepon, Zhou Yuan'er tertegun sejenak, otaknya berhenti berpikir.
Jelas sekali si iblis kecil itu yang membutuhkan bantuan, tetapi sekarang situasinya justru berbalik, seolah-olah dialah yang terburu-buru ingin membantunya...
Zhou Yuan'er menatap kembali peringatan yang sebelumnya ia kirimkan kepada sepupunya, dan baru menyadari bahwa ia telah berjalan di jalur yang sama dengan sepupunya.
Tanpa sadar, ia ingin melindungi seseorang.
Di sisi lain, Shi Yue kembali berbaring di ranjang dengan nyaman.
Sistem Teh Hijau berkicau berisik: [Meskipun tingkat kesukaannya sangat rendah, mungkin Zhou Yuan'er benar-benar bisa membantu. Apakah Tuan Rumah mempercayainya?]
Shi Yue tentu saja tidak percaya. Sesaat kemudian, ia berkata, [Namun, dia adalah seorang dokter.]
Tubuh aslinya sangat merindukan agar kedua kakinya bisa disembuhkan. Ia menaruh kepercayaan penuh pada dokter, menganggap dokter itu mahakuasa dan mampu menciptakan keajaiban.
"Yueyue, ingin pergi dari sini?"
Ini adalah pertama kalinya Xiao Xiaoyu mengajukan pertanyaan langsung seperti itu.
Shi Yue tidak bersuara, melainkan mengulurkan tangannya ke hadapan Xiao Xiaoyu.
Xiao Xiaoyu menggenggam tangan yang dingin itu, sudah mengetahui jawabannya.
Ia tidak bodoh; setiap tindakan Yueyue menyiratkan suatu niat tertentu. Meskipun tidak dengan mudah mengungkapkan isi hatinya, setelah sekian lama bersama, ia dapat melihat bahwa sejak terapi akupunktur itu, Yueyue perlahan-lahan menjadi lebih ceria.
——
Gu Qing menghilang selama beberapa hari berturut-turut.
Hanya Shi Yue yang tahu bahwa pria itu sedang menghindarinya.
Sekarang, setiap kali melihatnya, Gu Qing akan merasa bersalah, khawatir, bahkan takut melihat tatapan kecewa dan penuh kesedihan di mata gadis itu.
Sementara itu, seluruh kalangan sosial sedang dihebohkan oleh sebuah kabar: Gu Qing mengabaikan norma dan kesopanan demi bersatu dengan saudari tiri.
Bahkan ada yang mulai mempercayai desas-desus tersebut, mengira Gu Qing telah menjadi gila hingga tega mematahkan kaki seseorang dan mengurungnya di sisi.
Mendengar desas-desus seperti itu, Tuan Besar Gu sangat marah hingga darahnya mendidih.
Ia bahkan pernah secara terbuka mengeluarkan ancaman keras bahwa keluarga Gu tidak akan pernah membiarkan seorang wanita cacat menikah ke dalam keluarga mereka.
Prakiraan cuaca menyebutkan akan ada penurunan suhu dan hujan, baru setelah itu Gu Qing membawa pulang seorang tabib tradisional tua.
Selama sebulan berikutnya, tabib tua itu tinggal di kediaman keluarga Gu untuk melakukan akupunktur dan pijat bagi Shi Yue.
Tuan Besar Gu mampu mengekang Gu Qing, dan kata-katanya juga dapat mempengaruhi keputusan pria itu.
Gu Qing tampaknya berniat menyembuhkan kaki Shi Yue.
Namun, Gu Qing juga menjadi jauh lebih pendiam. Setiap hari, tatapannya saat menatap Shi Yue semakin terlihat dalam dan keras kepala.
Xiao Xiaoyu merasa ketakutan, merasa bahwa Yueyue seperti seekor kelinci putih yang sewaktu-waktu bisa dilahap habis tanpa sisa.
Malam itu, Gu Qing mendatangi sisi ranjang Shi Yue, bergumam pada dirinya sendiri seolah sedang kerasukan, "Yueyue, tetaplah bersamaku, ya?"
Shi Yue terbangun, tatapan matanya setenang air, "Kakak? Bukankah kita selalu bersama?"
Gu Qing membungkuk mendekatinya, "Kita harus menikah, Yueyue, menikahlah denganku, ya..."
Benar saja, seiring dengan bisikan lembut pria itu, ekspresi gadis itu berubah menjadi terkejut dan bingung, "Tapi kamu adalah kakakku."
"Aku tidak mau menjadi kakak Yueyue," ucap Gu Qing dengan nada yang sangat tegas, "Kita punya anak, kita bisa membangun sebuah keluarga yang hangat dan indah. Bukankah Yueyue selalu merasa rumah ini terlalu sepi?"
Selama ada anak, Yueyue akan terus tinggal di sisinya, tetap tinggal di rumah ini.
"Kakak, aku tidak mau punya anak, aku takut..."
Tangisan gadis itu dipenuhi dengan ketakutan yang tak terkatakan, "Kakak, bagaimana kamu bisa jadi seperti ini? Ada apa denganmu? Kamu bukan kakakku..."
Gu Qing merasa sangat sakit hati, namun ia tetap mencengkeram lengan gadis itu dengan erat, "Yueyue, aku tidak berubah, aku selalu seperti ini."
Di akhir kalimatnya, nadanya berubah menjadi suram, selaras dengan auranya yang kelam.
"Kalau begitu aku tidak mau, kakak yang seperti ini..."
Mendengar itu, Gu Qing merasa seolah-olah hatinya mendapat pukulan telat, membuat napasnya terasa berat.
Ia menatap noda air mata di wajah gadis itu, lalu mengulurkan tangan untuk menghapusnya. Sudut matanya pun memerah, "Maafkan aku, Yueyue, tapi kumohon jangan katakan hal seperti itu, ya?"
Ia tidak sanggup membayangkan hari-hari tanpa gadis itu.
Malam itu, seperti sebuah boneka, Gu Qing duduk di sisi ranjang Shi Yue semalaman.
Sebelumnya pria itu juga sering bertingkah gila seperti ini, jadi Shi Yue sudah terbiasa; ia menangis hingga akhirnya tertidur pulas.
——
Gu Qing tidak menyentuhnya.
"Bruk! Bruk!"
Dua suara benturan tumpul yang berturut-turut membuat Gu Qing langsung duduk tegak. Ia mendongak menatap ke arah ambang jendela dan langsung membeku kaku.
Gadis itu duduk di kursi jendela, dengan susah payah mendorong kursi roda untuk membentur kaca jendela.
Kaca jendela itu baru saja diganti, namun saat sudut logam yang tajam menghantamnya, retakan tetap saja muncul!
Gu Qing mungkin tidak akan pernah melupakan adegan ini seumur hidupnya. Ia mendekap erat tubuh gadis itu sementara air mata terus mengalir di pipi Shi Yue.
Tak seorang pun yang membuka suara.
——
Shi Yue berhasil diselamatkan.
Gu Qing tidak berani lagi mengangkat topik malam itu.
Semangat hidup Shi Yue yang baru saja pulih kini lenyap tak bersuara, dan jumlah kata yang diucapkannya setiap hari menjadi sangat sedikit.
Hati Gu Qing diselimuti oleh awan mendung yang semakin tebal.
Kebetulan saat itu adalah ulang tahun kedelapan puluh Tuan Besar Gu. Pria tua itu meminta agar Gu Qing membawa Shi Yue serta ke sana.
Maka, Shi Yue pun melihat sekelompok orang menyerbu masuk ke kediaman keluarga Gu. Mereka mendorong beberapa rak pakaian beroda yang digantungi berbagai macam gaun mewah.
Shi Yue hanya melirik sekilas, lalu memutar kursi rodanya untuk pergi sendirian.
Gu Qing berjalan mendekat dan membujuk dengan suara rendah, "Yueyue, ini adalah perjamuan ulang tahun Kakek. Aku akan menemanimu, tidak akan ada yang berani menertawakanmu."
Shi Yue menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir.
"Yueyue, ayo kita pergi sebentar, ya? Hanya untuk satu malam saja."
Mereka harus membiarkan orang-orang melihat betapa serasinya ia dan Yueyue.
Setelah dibujuk dengan berbagai cara oleh Gu Qing, Shi Yue akhirnya bersedia membiarkan penata rias dan penata gaya mendandaninya.
Mereka bahkan tidak berani melirik kaki Shi Yue terlalu lama, hanya bisa fokus bekerja dalam diam, sementara suasana di seluruh vila terasa sangat suram hingga mencapai titik terendah.
Sungguh mengerikan, bagaimana wanita muda yang cantik ini bisa bertahan hidup di lingkungan seperti ini.
Perayaan ulang tahun Tuan Besar Gu diadakan di kediaman lama keluarga Gu, dihadiri oleh banyak tamu dan berlangsung sangat meriah.
Menjelang senja, sebuah mobil berhenti di gerbang utama.
Gu Qing langsung menggendong Shi Yue dalam dekapannya, melangkah perlahan memasuki pintu, sementara Xiao Xiaoyu mendorong kursi roda di belakang mereka.
Sebenarnya, Xiao Xiaoyu juga menerima undangan, tetapi Gu Qing tidak peduli dan langsung memintanya bertugas sebagai pendorong kursi roda.
Ia juga mengkhawatirkan keadaan Yueyue, jadi ia mengikuti mereka ke sini.
Ia sudah melihat sosok Zhou Yuan'er di antara para tamu, dan hanya sempat melambaikan tangan untuk menyapa.
Ia membatin dalam hati, Gu Qing akhir-akhir ini melampiaskan kemarahannya pada keluarga Zhou dengan berbagai bentuk provokasi, namun tidak mendapatkan keuntungan apapun.
Kehadiran sang sepupu di perjamuan ulang tahun Tuan Besar Gu pada saat seperti ini membuat hubungan mereka terasa sangat pelik.
Lokasi perjamuan berada di atas hamparan rumput yang luas, dihiasi dengan danau buatan dan air terjun buatan dari bebatuan, menciptakan suasana yang cukup menyenangkan.
Xiao Xiaoyu merapikan posisi kursi roda, dan Gu Qing pun menurunkan Shi Yue untuk duduk di atasnya.
Hari ini Shi Yue mengenakan gaun putih bersih dengan rok berlapis-lapis yang dihiasi berlian. Saat duduk, ia tampak seolah berada di dalam adegan negeri dongeng.
"Apakah itu nona muda keluarga Gu, Gu Shiyue?"
"Hanya seorang anak tumpang hidup, sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya."
"Benar, kejadian dua tahun lalu itu... Bukankah belakangan ini dikabarkan kalau penculikan itu sebenarnya..."
"Sst, jangan sembarang bicara, semuanya tidak ada dasarnya!"
"Kurasa Gu Qing memperlakukan gadis itu dengan cukup baik, tidak terlihat seperti orang kejam yang kehilangan akal sehat."
"Nona muda keluarga Gu ini benar-benar sangat cantik..."
Gu Qing mendudukan kembali Shi Yue di kursi roda, menyapu sekeliling dengan tatapan memperingatkan, lalu membungkuk di hadapannya dan bertanya, "Jarang-jarang kita keluar, apakah kamu lapar sekarang?"
Shi Yue menggelengkan kepalanya.
Menyadari penolakan gadis itu, Gu Qing menepuk lembut punggung tangannya sebagai bentuk penenang.
Dari kejauhan, Tuan Besar Gu melihat pemandangan tersebut, dan wajahnya langsung menggelap.
Cucu lelakinya ini benar-benar tidak bisa diandalkan; ia bangga menjadi pengasuh bagi seorang anak tumpang dan membuat seluruh keluarga menjadi bahan tertawaan.
Ia kembali menatap wajah gadis itu, dan gelombang amarah kembali membuncah di dadanya.
Sungguh pembawa sial.
Meskipun Shi Yue terus menundukkan kepala, ia tahu betul bahwa seluruh pusat perhatian tertuju pada dirinya.
Terkait insiden Zhuang Yu, Tuan Besar Gu mungkin bisa meredam sebagian opini publik, namun ia tidak bisa menghentikan orang-orang untuk bergosip di belakang mereka.
Sebelum Shi Yue sempat mengatakan ingin pergi, Gu Qing sudah tidak tahan lagi. Ia benci melihat tatapan-tatapan orang yang tertuju padanya.
Ia mati-matian menahan dorongan untuk menggendongnya pergi di hadapan publik dan menyembunyikannya, sementara tangannya menggenggam gelas anggur dengan erat.
"Krasak!" Ia meletakkan gelas itu dengan kasar, hingga urat-urat nadi di punggung tangannya menonjol.
Seketika bersentuhan dengan permukaan meja, gelas itu pecah berkeping-keping karena benturan keras, dan pecahan kacanya langsung menggores punggung tangannya, meninggalkan beberapa bekas luka berdarah.
Orang-orang di sekitar menoleh dengan terkejut, namun melihat bahwa itu adalah Gu Qing, mereka mengurungkan niat untuk berkomentar.
Hanya seorang pelayan yang melangkah maju dan bertanya dengan hati-hati, "Tuan Muda, perlukah lukanya dibalut?"
Shi Yue juga mendengar keributan itu dan menoleh untuk melihat.
Gu Qing dengan cepat menyembunyikan tangannya yang terluka di belakang punggung, lalu berkata padanya seolah baru sadar dari lamunan, "Yueyue, aku pergi sebentar, tunggu aku di sini."
Shi Yue ragu sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
Gu Qing berjalan beberapa langkah, lalu menoleh ke belakang untuk menatapnya. Beradu pandang dengan mata gadis itu, emosi bergejolak di lubuk hatinya sedikit mereda, "Aku akan segera kembali."
Gu Qing dengan cepat pergi mengikuti pelayan tersebut.
Sementara itu, Shi Yue justru merasa seluruh tubuhnya menjadi jauh lebih rileks, bahkan ia perlahan-lahan menggerakkan kursi rodanya.
Seorang pelayan yang lewat tidak dapat menahan diri untuk bertanya dengan suara rendah, "Nona, ingin minum sesuatu?"
Namun setelah bertanya, wajah pelayan itu berubah pucat pasi; Tuan muda sepertinya tidak suka orang lain mengobrol dengannya.
Ia telah melakukan pantangan besar tuan muda.
Sebelum Shi Yue sempat bersuara, sebuah suara pria yang jernih terdengar dari samping, "Beri dia segelas jus."
Pelayan itu menoleh, mengangguk dan menyapa, "Tuan Zhou."
Zhou Yuan'er langsung mengambil segelas jus dari nampan pelayan tersebut dan menyerahkannya kepada Shi Yue.
Seketika itu juga, tatapan semua orang di sekitar tertuju pada mereka berdua.
Gadis itu tadi tidak makan maupun minum dan tampak murung, namun pria ini justru berinisiatif untuk mendekatinya. Tindakan itu mungkin hanya akan berujung pada penolakan yang memalukan.
Namun, yang mereka saksikan justru Shi Yue menatap jus itu sejenak, lalu mengulurkan tangan dan menerima gelas tersebut.
Ia menerimanya dengan kedua tangan, jari-jarinya yang putih ramping bagaikan giok memancarkan keindahan yang tak terlukiskan.
Setelah menerima gelas itu, gerakan kecilnya yang langsung menunduk untuk menyeruputnya tampak menggemaskan dalam kesederhanaannya.
Mungkin ia memang merasa haus.
Batin orang-orang di sekitar.
"Siapa identitas pria itu?"
Seseorang di sebelah bertanya dengan suara rendah.
"Belum pernah melihatnya, tetapi bisa datang ke perjamuan ini, pastilah anak muda yang dihargai oleh Tuan Besar Gu."
Sesaat kemudian, seseorang baru bersuara, "Dia dari keluarga Zhou, tidak mengambil alih bisnis keluarga, makanya kalian tidak familier."
Semua orang mulai berbisik-bisik, dan ketika perhatian mereka kembali ke sudut tadi, mereka mendapati bahwa kedua orang itu telah pergi.
Namun, tidak ada yang menyelidiki lebih jauh.
Ketika Gu Qing kembali dan mencekal kerah baju pelayan untuk menginterogasinya, semua orang baru tersentak kaget dan menatap dengan bingung.
Gu Qing sedang mencari saudari tiri kesayangannya yang bagaikan permata berharga.
"Gu Qing, sampai kapan kamu membuat keributan ini? Kalau tidak mau tinggal, enyah sana!"
Emosi Tuan Besar Gu ikut meledak. Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan kemarahan yang membara.
Gu Qing berbalik dan langsung pergi.
Pemandangan di atas hamparan rumput itu terlihat jelas dalam sekali pandang, dan sosok Shi Yue sudah tidak ada di sana.